Ada Pandemi COVID-19, 7.040 Balita di Surabaya Alami Stunting
Sabtu, 07 November 2020 - 16:42 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan, ia juga mengaku sudah menjalankan delapan aksi yang harus dilakukan dalam percepatan pencegahan stunting , yaitu analisis situasi, rencana kegiatan (RAD), rembuk stunting , peraturan kepala daerah tentang peran desa atau kelurahan, pembinaan kader pembangunan manusia, sistem manajemen data, pengukuran dan publikasi stunting , serta review kinerja tahunan. (Baca juga: Sebar Hoaks Pasien COVID-19 Tewas Matanya Hilang, 7 Orang Dibekuk Polisi )
Khusus intervensi spesifik atau sektor kesehatan, pihaknya membuat program pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil, menyusui dan calon pengantin, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk Ibu Hamil dan remaja putri, Imunisasi, Pemberian Obat Cacing, Taburia dan Vitamin A pada Balita, memberikan multivitamin untuk anak PAUD, PMT Balita (Biskuit dan PMT Penyuluhan di Posyandu), dan Pendampingan balita.
Selain itu, ada pula pendampingan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), Pengembangan Kampung ASI, Pos Gizi, Kelompok Ibu Pintar Balita Sehat, Kelas Ibu Hamil, Audit Gizi Buruk, Monitoring Garam Beryodium, Therapeutic Feeding Center (TFC) dan Community Feeding Center (CFC), dan Pelacakan Kasus Gizi Buruk.
Ia melanjutkan, ada juga survei Keluarga Sadar Gizi, Posyandu Balita, Penyediaan Pojok Laktasi di Tempat Bekerja dan Fasilitas Umum, Manajemen Terpadu Balita Sakit, dan Penyediaan Ambulan NETSS dan METS. "Kontribusi sektor kesehatan dalam percepatan pencegahan stunting ini sebesar 30 persen," jelasnya. (Baca juga: Bobby Tawarkan Program Sentra UMKM di Setiap Kelurahan yang Melek Digital )
Sedangkan intervensi sensitif atau di luar sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Surabaya bersinergi dengan semua dinas di Pemkot Surabaya sesuai dengan tugasnya masing-masing. Sebab, pihaknya sadar bahwa dalam menangani stunting itu tidak bisa dilakukan sendirian oleh Dinas Kesehatan, tapi harus bersinergi dengan semua dinas.
Khusus intervensi spesifik atau sektor kesehatan, pihaknya membuat program pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil, menyusui dan calon pengantin, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk Ibu Hamil dan remaja putri, Imunisasi, Pemberian Obat Cacing, Taburia dan Vitamin A pada Balita, memberikan multivitamin untuk anak PAUD, PMT Balita (Biskuit dan PMT Penyuluhan di Posyandu), dan Pendampingan balita.
Selain itu, ada pula pendampingan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), Pengembangan Kampung ASI, Pos Gizi, Kelompok Ibu Pintar Balita Sehat, Kelas Ibu Hamil, Audit Gizi Buruk, Monitoring Garam Beryodium, Therapeutic Feeding Center (TFC) dan Community Feeding Center (CFC), dan Pelacakan Kasus Gizi Buruk.
Ia melanjutkan, ada juga survei Keluarga Sadar Gizi, Posyandu Balita, Penyediaan Pojok Laktasi di Tempat Bekerja dan Fasilitas Umum, Manajemen Terpadu Balita Sakit, dan Penyediaan Ambulan NETSS dan METS. "Kontribusi sektor kesehatan dalam percepatan pencegahan stunting ini sebesar 30 persen," jelasnya. (Baca juga: Bobby Tawarkan Program Sentra UMKM di Setiap Kelurahan yang Melek Digital )
Sedangkan intervensi sensitif atau di luar sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Surabaya bersinergi dengan semua dinas di Pemkot Surabaya sesuai dengan tugasnya masing-masing. Sebab, pihaknya sadar bahwa dalam menangani stunting itu tidak bisa dilakukan sendirian oleh Dinas Kesehatan, tapi harus bersinergi dengan semua dinas.
(eyt)
Lihat Juga :