Bendung Katulampa Pos Pemantau Debit Air Warisan Belanda
Minggu, 01 November 2020 - 11:32 WIB
loading...
A
A
A
Dari sini, air kemudian mengalir hingga ke Jakarta melalui sisi Jalan Raya Bogor, melintasi wilayah Cimanggis, Depok, Cilangkap, dan bermuara di Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pada masanya, air yang dialirkan melalui Kali Baru Timur ini sering digunakan sebagai pengairan untuk lahan persawahan yang berada di sepanjang Bogor- Jakarta.
Sampai era 90-an, lahan persawahan yang bisa ditemukan di wilayah Bogor dan Jakarta ini masih cukup banyak dengan luas sekitar 2.414 hektare. Namun seiring berjalannya waktu, lahan-lahan persawahan tersebut sebagian besar tidak bersisa. Daerah pesawahan yang hijau kini berganti menjadi kawasan permukiman, yang tersisa pun hanya kurang dari 70 hektare saja, itu pun tersebar di beberapa wilayah yang ada di Bogor, Cibinong dan pinggiran Jakarta.
Semakin hilangnya lahan persawahan, tentu mengurangi fungsi Bendung Katulampa yang dulu digunakan juga sebagai irigasi. Pada saat ini, Bendung Katulampa hanya berfungsi untuk memantau debit air saja, dan tidak bisa digunakan untuk mencegah apalagi mengurangi luapan air yang selalu datang di musim penghujan.
Manfaat atau pentingnya normalisasi sungai Ciliwung dalam mengatasi banjir di DKI Jakarta ditanggapi beragam sejumlah stakeholder terkait. Kepala Pengawas Petugas Jaga Bendung Katulampa, Andi Sudirman mengatakan, yang terpenting dalam mengatasi banjir kiriman dari Bogor ke DKI Jakarta adanya keselarasan kordinasi, komunikasi dan informasi dari hulu sampai hilir.
"Saya kira sangat penting intensifnya kordinasi pemerintah daerah maupun pusat baik hulu maupun hilir dalam mengatasi banjir DKI Jakarta yang diakibatkan meluapnya sungai Ciliwung," kata Andi saat ditemui SINDO di Pos Jaga Bendung Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor, beberapa waktu lalu. (Baca: Sejarah Jakarta, Disebut di Batu Tulis Purnawarman yang Berkembang Menjadi Bandar Besar)
Sampai era 90-an, lahan persawahan yang bisa ditemukan di wilayah Bogor dan Jakarta ini masih cukup banyak dengan luas sekitar 2.414 hektare. Namun seiring berjalannya waktu, lahan-lahan persawahan tersebut sebagian besar tidak bersisa. Daerah pesawahan yang hijau kini berganti menjadi kawasan permukiman, yang tersisa pun hanya kurang dari 70 hektare saja, itu pun tersebar di beberapa wilayah yang ada di Bogor, Cibinong dan pinggiran Jakarta.
Semakin hilangnya lahan persawahan, tentu mengurangi fungsi Bendung Katulampa yang dulu digunakan juga sebagai irigasi. Pada saat ini, Bendung Katulampa hanya berfungsi untuk memantau debit air saja, dan tidak bisa digunakan untuk mencegah apalagi mengurangi luapan air yang selalu datang di musim penghujan.
Manfaat atau pentingnya normalisasi sungai Ciliwung dalam mengatasi banjir di DKI Jakarta ditanggapi beragam sejumlah stakeholder terkait. Kepala Pengawas Petugas Jaga Bendung Katulampa, Andi Sudirman mengatakan, yang terpenting dalam mengatasi banjir kiriman dari Bogor ke DKI Jakarta adanya keselarasan kordinasi, komunikasi dan informasi dari hulu sampai hilir.
"Saya kira sangat penting intensifnya kordinasi pemerintah daerah maupun pusat baik hulu maupun hilir dalam mengatasi banjir DKI Jakarta yang diakibatkan meluapnya sungai Ciliwung," kata Andi saat ditemui SINDO di Pos Jaga Bendung Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor, beberapa waktu lalu. (Baca: Sejarah Jakarta, Disebut di Batu Tulis Purnawarman yang Berkembang Menjadi Bandar Besar)
Lihat Juga :