Diterjang Corona, Guru Privat Ini Terpaksa Jualan Jamu
Rabu, 15 April 2020 - 22:21 WIB
loading...
Guru privat ngaji dan Bahasa Arab, Nasrul berjuang hidup dengan berjualan jamu. Foto/Ist.
A
A
A
SURABAYA - Di antara panas terik Kota Surabaya, sebuah sepeda tua tampak berhenti cukup lama di depan kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jawa Timur. Pengemudinya tampak membawa boks di belakang bonceng sepedanya.
Sebuah pemandangan yang tak seharusnya di tengah himbauan pembatasan sosial yang sedang digalakkan. Namun sepertinya faktor kebutuhan hidup tak bisa menunggu kata nanti untuk dipenuhi.
Pengemudi sepeda itu diketahui bernama Nasrul, sambil malu-malu ia memperkenalkan diri kepada tim ACT Jatim. Profesinya sebagai guru privat ngaji dan Bahasa Arab, tetapi di tengah pandemi begini ia terpaksa berhenti mengajar. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama istri dan kedua anaknya, ia biasanya menjajakan sari kedele sehari-hari.
Karena pelanggan sepi, ia kemudian menjajakan jamu keliling dengan harapan masyarakat banyak yang membeli dagangannya. Adapun jamu yang dijulai mulai, sinom, temulawak, jahe merah, dan kunir asem.
Dampak virus corona ini juga dirasakan Nasrul penghasilan beliau pun menurun. "Sekarang penghasilan sangat berkurang, orang-orang tidak banyak yang keluar rumah jadi agak sulit untuk menawarkan jamu secara langsung," ujar pria yang sempat mengenyam perkuliahan salah satu universitas negeri di Surabaya namun belum dapat terselesaikan karena faktor biaya.
Sebuah pemandangan yang tak seharusnya di tengah himbauan pembatasan sosial yang sedang digalakkan. Namun sepertinya faktor kebutuhan hidup tak bisa menunggu kata nanti untuk dipenuhi.
Pengemudi sepeda itu diketahui bernama Nasrul, sambil malu-malu ia memperkenalkan diri kepada tim ACT Jatim. Profesinya sebagai guru privat ngaji dan Bahasa Arab, tetapi di tengah pandemi begini ia terpaksa berhenti mengajar. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama istri dan kedua anaknya, ia biasanya menjajakan sari kedele sehari-hari.
Karena pelanggan sepi, ia kemudian menjajakan jamu keliling dengan harapan masyarakat banyak yang membeli dagangannya. Adapun jamu yang dijulai mulai, sinom, temulawak, jahe merah, dan kunir asem.
Dampak virus corona ini juga dirasakan Nasrul penghasilan beliau pun menurun. "Sekarang penghasilan sangat berkurang, orang-orang tidak banyak yang keluar rumah jadi agak sulit untuk menawarkan jamu secara langsung," ujar pria yang sempat mengenyam perkuliahan salah satu universitas negeri di Surabaya namun belum dapat terselesaikan karena faktor biaya.
Lihat Juga :