Survei FOI: 27 Persen Anak Balita ke Sekolah dengan Perut Kosong
Rabu, 28 Oktober 2020 - 14:53 WIB
loading...
A
A
A
Hendro berharap, melalui kegiatan ini media dapat mengedukasi masyarakat untuk melalui narasi pangan yang baik demi mendukung balita yang merupakan masa depan Indonesia.
“Media bisa melakukan banyak hal untuk membantu anak-anak balita demi masa depan Indonesia dengan cara membangun kesadaran, mengangkat pentingnya narasi pangan yang baik untuk anak-anak dan mengubah perilaku yang menyebabkan 27% anak-anak balita kita masih menderita kelaparan,” kata Hendro.
Bincang Media yang diinisiasi FOI merupakan usaha untuk mengajak media ikut secara aktif mengedukasi masyarakat terhadap isu kelaparan pada balita melalui aksi nyata, dan edukasi kepada para bunda dan pengasuh anak-anak untuk membangun narasi pangan yang baik untuk balita. Pangan lokal bisa jadi pilihan yang baik demi masa depan Indonesia merdeka 100% dari rasa lapar.
Sebelum pandemi COVID-19, Indonesia memiliki 7 juta balita yang mengalami stunting. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak (Riskesdas 2018).
Pada sebuah keluarga, balita memanglah kelompok yang paling rentan dalam hal distribusi makanan. Mereka sangat tergantung orang tua untuk pemenuhan gizinya, dan kebutuhan ini seringkali tergeser kebutuhan keluarga yang lain. Bahkan menurut penelitian FOI, ada sekitar 27% persen anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari.
Hal ini diperparah dengan adanya pandemi COVID-19, kemiskinan yang bertambah, angka pengangguran, dan tingkat pendidikan yang rendah. Keluarga dan anak-anak yang jatuh miskin dalam waktu singkat akan mengalami dampak berat dalam hal keamanan pangan rumah tangga dan keterbatasan terkait akses, ketersediaan, dan keterjangkauan bahan makanan sehat.
“Media bisa melakukan banyak hal untuk membantu anak-anak balita demi masa depan Indonesia dengan cara membangun kesadaran, mengangkat pentingnya narasi pangan yang baik untuk anak-anak dan mengubah perilaku yang menyebabkan 27% anak-anak balita kita masih menderita kelaparan,” kata Hendro.
Bincang Media yang diinisiasi FOI merupakan usaha untuk mengajak media ikut secara aktif mengedukasi masyarakat terhadap isu kelaparan pada balita melalui aksi nyata, dan edukasi kepada para bunda dan pengasuh anak-anak untuk membangun narasi pangan yang baik untuk balita. Pangan lokal bisa jadi pilihan yang baik demi masa depan Indonesia merdeka 100% dari rasa lapar.
Sebelum pandemi COVID-19, Indonesia memiliki 7 juta balita yang mengalami stunting. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak (Riskesdas 2018).
Pada sebuah keluarga, balita memanglah kelompok yang paling rentan dalam hal distribusi makanan. Mereka sangat tergantung orang tua untuk pemenuhan gizinya, dan kebutuhan ini seringkali tergeser kebutuhan keluarga yang lain. Bahkan menurut penelitian FOI, ada sekitar 27% persen anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari.
Hal ini diperparah dengan adanya pandemi COVID-19, kemiskinan yang bertambah, angka pengangguran, dan tingkat pendidikan yang rendah. Keluarga dan anak-anak yang jatuh miskin dalam waktu singkat akan mengalami dampak berat dalam hal keamanan pangan rumah tangga dan keterbatasan terkait akses, ketersediaan, dan keterjangkauan bahan makanan sehat.
Lihat Juga :