Mengingat Falsafah Kota, Pagi Ini Cimahi Gelar Kirab Budaya
Sabtu, 24 Oktober 2020 - 05:33 WIB
loading...
A
A
A
"Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi yang digelar pada bulan Maulid ini, mengingatkan kembali pada ritual ngabumbang. Melalu air kita bersikan diri dari segala kotoran yang menempel di tubuh. Lewat doa yang kita ucapakan semoga menjadi pembersih kotoran yang menempel pada jiwa/pikiran kita. Semoga air yang diberi doa, kita minum menjadi energi dan penyembuh segala penyakit yang bersemayam dalam tubuh," harap Hermana.
Hermana menegaskan, air juga harus menjadi media komunikasi atau ajang silaturahmi antar masyarakat bersama pemerintah daerah dalam menyatukan pikiran dan rasa dalam menjaga lingkungan hidup dan budaya lokal. Multi efek dari kegiatan Kirab Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi diharapkan dapat merangsang kreatifitas, tingkatkan produktifitas, kembangkan ekonomi kreatif dan kunjungan wisata berbasis kebudayaan lokal di Kota Cimahi .
"Sedangkan harapan utama dari perhelatan budaya ini adalah lahirnya kesadaran seluruh elemen masyarakat betapa pentingnya memulayakan air, kerena air adalah sumber kehidupan. Maka menjadi penting pula menjaga kebersihan air dan lingkungannya dari berbagai pencemaran. Tanah terpelihara, air terpelihara dan budaya terpelihara, sehinggi benar-benar mewujudkan Cimahi Maju, Agamis dan Berbudaya," pungkas dia.
(Baca juga: Terdampak COVID-19, UMKM Pengolahan Ikan Dapat Bantuan )
Menurut dia, nama Kota Cimahi bukanlah sekedar nama, namun mengandung makna dan falsafah yang mendalam. Dipandang dari asal-usul kata, dalam bahasa Sunda, Cimahi terdiri dari dua suku kata yaitu Ci dan Mahi. Ci mengandung makna cai (air) dan mahi mengandung makna cukup. Cimahi mengandung arti berkecukupan air.
Menurut Hermana, dalam bahasa Sansakerta kata Ci mengandung arti kilauan cahaya dari permukaan air atau energi dan Mahi mengandung arti bumi. Dalam bahasa Sannsakerta Cimahi mengandung arti pancaran cehaya bumi atau bisa disebut juga energi bumi. Kata Ci juga ditemukan dalam bahasa Cina. Ci di sini juga mengandung arti energi.
Hermana menegaskan, air juga harus menjadi media komunikasi atau ajang silaturahmi antar masyarakat bersama pemerintah daerah dalam menyatukan pikiran dan rasa dalam menjaga lingkungan hidup dan budaya lokal. Multi efek dari kegiatan Kirab Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi diharapkan dapat merangsang kreatifitas, tingkatkan produktifitas, kembangkan ekonomi kreatif dan kunjungan wisata berbasis kebudayaan lokal di Kota Cimahi .
"Sedangkan harapan utama dari perhelatan budaya ini adalah lahirnya kesadaran seluruh elemen masyarakat betapa pentingnya memulayakan air, kerena air adalah sumber kehidupan. Maka menjadi penting pula menjaga kebersihan air dan lingkungannya dari berbagai pencemaran. Tanah terpelihara, air terpelihara dan budaya terpelihara, sehinggi benar-benar mewujudkan Cimahi Maju, Agamis dan Berbudaya," pungkas dia.
(Baca juga: Terdampak COVID-19, UMKM Pengolahan Ikan Dapat Bantuan )
Menurut dia, nama Kota Cimahi bukanlah sekedar nama, namun mengandung makna dan falsafah yang mendalam. Dipandang dari asal-usul kata, dalam bahasa Sunda, Cimahi terdiri dari dua suku kata yaitu Ci dan Mahi. Ci mengandung makna cai (air) dan mahi mengandung makna cukup. Cimahi mengandung arti berkecukupan air.
Menurut Hermana, dalam bahasa Sansakerta kata Ci mengandung arti kilauan cahaya dari permukaan air atau energi dan Mahi mengandung arti bumi. Dalam bahasa Sannsakerta Cimahi mengandung arti pancaran cehaya bumi atau bisa disebut juga energi bumi. Kata Ci juga ditemukan dalam bahasa Cina. Ci di sini juga mengandung arti energi.
Lihat Juga :