Kisah Kromo Setan dan Huru Hara Laskar Minyak Cepu-Bojonegoro

Jum'at, 23 Oktober 2020 - 05:00 WIB
loading...
A A A
Dalam buku Pertamina, Perusahaan Minyak Nasional, terbitan 1986, disebutkan, Indonesia merupakan salah satu pangkalan minyak pertama dan tertua Royal Dutch atau grup Shell. "Pencarian minyak di Indonesia dimulai pada tahun 1871, hanya dua belas tahun setelah sumur minyak dunia yang pertama dibor di Pensylvania".

Pengomersialan minyak Indonesia (Saat itu masih Hindia Belanda) pertama kali dilakukan pada tahun 1885. Produksi berlangsung di kilang minyak di Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan. "Wonocolo itu masuk Jawa Timur. Namun pengolahan atau kilang minyaknya ada di Cepu, Jawa Tengah," tambah Teguh.

Jarak Wonocolo-Cepu hanya sekitar 15 kilometer. Kilang minyak Cepu dibangun pada tahun 1894. Pembangunan dilakukan oleh Adrian Stoop, bekas pegawai Aeilko Ziljker yang pada 16 Juni 1890 mendirikan perusahaan minyak Royal Dutch (Grup Shell). Umur kilang Cepu lebih muda empat tahun dari kilang minyak Wonokromo Surabaya, yang dibangun lebih dulu pada tahun 1890.

Tidak hanya grup Shell yang bernafsu besar memburu energi fosil Indonesia. Perusahaan minyak Standar Oil of New Jersey juga ikut masuk. Mereka mulai melempar jangkar bisnis di Indonesia pada tahun 1912, lalu menggabungkan kepentingan mereka di Timur Jauh dengan Mobil untuk membentuk Stanvac.

Disusul kemudian Standard Oil of California yang masuk Indonesia pada tahun 1930an, dan pada tahun 1936 menggabungkan saham Asia-nya dengan Texaco untuk membentuk Caltex. Pada tahun 1940, di Indonesia praktis ada lima maskapai minyak internasional yang biasa disebut gabungan Tiga Besar (Stanvac, Shell dan Caltex).

Saat itu total produksi minyak Indonesia menempati urutan kelima di dunia dan terbesar di Timur Jauh. Produksi rata rata di tahun 1939 dan 1940 mencapai 62 juta barrel per tahun. Tidak heran. Begitu Jepang kalah telak pada Agustus 1945, Belanda yang berada di bawah komando SEAC (South East Asia Command), ingin bergegas kembali menduduki ladang minyak yang sempat mereka tinggalkan.

Sementara sesaat setelah Jepang kalah dan tentara sekutu belum tiba di Indonesia, terjadi situasi vacuum of power. Kekosongan kekuasaan. Menyadari itu rakyat langsung bergerak dengan mengambil alih perkebunan, pabrik, lapangan minyak dan kilang yang sebelumnya dikelola Jepang.

Dalam buku Pertamina, Perusahaan Minyak Nasional, terbitan 1986 disebutkan, di lapangan minyak bermunculan perusahaan anak negeri yang diorganisir dan dioperasikan kelompok pekerja bersenjata yang menyebut diri Laskar Minyak.

"Mereka ini, veteran pekerja lapangan dan pengilangan di zaman kolonial dan pendudukan Jepang, mempunyai ketrampilan dan peralatan untuk mendapatkan sejumlah kecil produksi yang tersedia bagi Republik".

Di masa revolusi fisik itu, muncul tiga perusahaan minyak buruh atau di bawah penguasaan laskar minyak. Yakni di Jawa Tengah, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Karena kilang minyak terdekat ada di Cepu, Jawa Tengah, laskar minyak yang menguasai kawasan Wonocolo, Bojonegoro masuk dalam koordinasi Jawa Tengah.

Laskar minyak menolak mengembalikan kilang dan sumur minyak ke Belanda. Mereka juga tahu, pasukan revolusioner sangat membutuhkan minyak tanah dan bahan bakar untuk penerbangan dan kendaraan bermotor. "Termasuk di Wonocolo katanya juga dijaga laskar minyak pimpinan Kromo Setan," papar Teguh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Londo Ireng, Antek...
Kisah Londo Ireng, Antek Kompeni Musuh Pejuang Kemerdekaan yang Kini Viral usai Disebut Prabowo
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Drama Liga 2! Persibo...
Drama Liga 2! Persibo Bojonegoro Tolak Bertanding, Deltras FC Tembus 8 Besar
Presiden Persibo Bojonegoro...
Presiden Persibo Bojonegoro Keberatan atas Keputusan LIB soal Laga Kontra Deltras Sidoarjo
Hujan Deras, Banjir...
Hujan Deras, Banjir Bandang Terjang Lima Desa di Kabupaten Bojonegoro
Rekomendasi
Ancaman Radikalisme...
Ancaman Radikalisme Digital Meningkat, Pemda Diminta Jadi Garda Terdepan
Dunia Harus Alihkan...
Dunia Harus Alihkan Perhatian ke Tepi Barat! Israel Terus Caplok Tanah Warga Palestina
AS-Iran Mendadak Gencatan...
AS-Iran Mendadak Gencatan Senjata, Harga Minyak Merosot Tajam hingga 5%
Berita Terkini
Perkuat Ketahanan Bencana,...
Perkuat Ketahanan Bencana, Pertagas OEJA Gelar Kencana Si Udin di Gresik
Kemenkes Gelar Investigasi...
Kemenkes Gelar Investigasi Kematian Tragis Dokter Internship di Apartemen Kalibata
Polisi Dalami Motif...
Polisi Dalami Motif Dokter Muda Loncat dari Lantai 18 Apartemen Kalibata
Polisi Pastikan Aktivitas...
Polisi Pastikan Aktivitas Masyarakat Normal Buntut Bentrok di Menteng: TNI-Polri Tetap Siaga
Polisi Tetapkan 7 Tersangka...
Polisi Tetapkan 7 Tersangka Bentrokan Berdarah di Jalan Tambak Menteng
Puslabfor Polri Datangi...
Puslabfor Polri Datangi Klinik Mordent, Olah TKP Lanjutan Kematian Sutrimo
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved