Pelajar di Gowa Bunuh Diri Diduga Stres PJJ, Ini Kata Psikolog
Selasa, 20 Oktober 2020 - 07:14 WIB
loading...
A
A
A
Tiap individu tentunya memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi masalah. Ada yang dengan cepat bisa mengatasi masalahnya, namun ada pula yang sebaliknya. Dalam situasi sessorang dengan tekanan yang tinggi membuat dia kesulitan menemukan alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan dan akhirnya memilih jalan termudah yaitu bunuh diri .
"Kenapa dirasakan sulit menemukan pemecahan masalah? Biasanya karena faktor pribadi, kurang terbuka, memendam perasan/pikiran sendiri, overthinking, dukungan sosial dari lingkungan terdekat seperti orang tua," ungkapnya.
(Baca juga: Kapolda Jatim Minta Aksi Tolak UU Omnibus Law Tidak Anarki )
Dalam kasus ini, Shinta berpendapat bahwa PJJ sendiri seringkali hanya menjadi 'pemicu' masalah kepribadian atau kesehatan mental seseorang. Sebelumnya, sudah ada permasalahan yang dimiliki anak tersebut.
"Betul (ada masalah lain sebelumnya), adanya faktor kepribadian seperti kecemasan yang tinggi, ketidak mampuan menangani masalah dan coping stress yang cenderung emotional bfocused coping bukan problem focused coping," ujarnya.
Dia menuturkan, peran orang tua juga diperlukan dalam berbagai sisi kehidupan anak, termasuk PJJ salah satunya. Hanya saja porsi pada tiap tingkatannya berbeda. "Untuk anak SD memang masih sangat dibutuhkam pengawasan orang tua, tapi untuk remaja sebenarnya pengawasa orang tua hanya perlu sesekali asal kemandirian anak sudah terbangun. Orang tua juga sebaiknya memahami tuntutan sekolah, tidak memberi beban lebih misalnya menuntut rangking, memarahi terus menerus, dan sebagainya," ungkap Shinta.
"Kenapa dirasakan sulit menemukan pemecahan masalah? Biasanya karena faktor pribadi, kurang terbuka, memendam perasan/pikiran sendiri, overthinking, dukungan sosial dari lingkungan terdekat seperti orang tua," ungkapnya.
(Baca juga: Kapolda Jatim Minta Aksi Tolak UU Omnibus Law Tidak Anarki )
Dalam kasus ini, Shinta berpendapat bahwa PJJ sendiri seringkali hanya menjadi 'pemicu' masalah kepribadian atau kesehatan mental seseorang. Sebelumnya, sudah ada permasalahan yang dimiliki anak tersebut.
"Betul (ada masalah lain sebelumnya), adanya faktor kepribadian seperti kecemasan yang tinggi, ketidak mampuan menangani masalah dan coping stress yang cenderung emotional bfocused coping bukan problem focused coping," ujarnya.
Dia menuturkan, peran orang tua juga diperlukan dalam berbagai sisi kehidupan anak, termasuk PJJ salah satunya. Hanya saja porsi pada tiap tingkatannya berbeda. "Untuk anak SD memang masih sangat dibutuhkam pengawasan orang tua, tapi untuk remaja sebenarnya pengawasa orang tua hanya perlu sesekali asal kemandirian anak sudah terbangun. Orang tua juga sebaiknya memahami tuntutan sekolah, tidak memberi beban lebih misalnya menuntut rangking, memarahi terus menerus, dan sebagainya," ungkap Shinta.
Lihat Juga :