Kalkulasi Rasional Dalam Aksi Kejahatan
Senin, 12 Oktober 2020 - 08:02 WIB
loading...
A
A
A
Namun, ada temuan mencengangkan dari hasil pemeriksaan bahwa ternyata aksi ini bukan pertama kalinya dilakukan oleh pelaku. ”Tersangka S telah beraksi empat kali di Kabupaten Bekasi, dan satu kali di Kota Bekasi,” ungkap Yusri seperti dilansir dari situs Sindonews.com. (Baca juga: Pilkada di Masa Pandemi, Perlu Ada Jaminan dari Penyelenggaran Pemilu)
Fakta lain yang tak kalah membuat publik bergidik adalah dalam setiap aksinya, ternyata pelaku memiliki modus yang sama, yakni sengaja mengincar para pemulung yang berada di jalan serta memanfaatkan kelemahan korban yang tengah tertidur. Temuan mengenai ‘korban incaran’ inilah yang kemudian menjadi menarik untuk dianalisis lebih lanjut.
Terlebih, sebelum kasus ini terkuak banyak pihak yang mempertanyakan mengapa pelaku mengincar korban yang berprofesi sebagai seorang pemulung yang di mata umum dianggap bukan sasaran tepat jika pelaku memang mengharapkan keuntungan besar secara ekonomi.
Dari kaca mata Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory), pada dasarnya keputusan untuk melakukan kejahatan ada di tangan pelaku kejahatan, di mana keputusan tersebut diambil dengan melihat sejumlah pertimbangan. Menurut teori ini, pelaku akan melihat sejumlah faktor pertimbangan yang menurut versinya paling rasional dan membawa manfaat maksimal bagi dirinya.
Beberapa pertimbangan diantaranya adalah berapa nilai yang bisa diperoleh dari aksinya tersebut, bagaimana dengan peluang keberhasilan pelaku dalam melakukan aksi kejahatan dan bagaimana risiko dari aksi kejahatan tersebut.
Jika dikaitkan dengan kasus ini, maka pelaku seperti sudah membuat kalkulasi rasional atas pilihan kejahatan yang dilakukannnya. Pertama terkait dengan kalkulasi pertimbangan besarnya keuntungan. Banyak komentar di media sosial yang mempertanyakan soal motif pelaku, kenapa tidak mengincar orang-orang yang tampak “berduit”, mengapa mengincar sesama pemulung? (Baca juga: Dua Sekolah di Solo Gelar Simulai Pembelajaran Tatap Muka)
Jika dikaitkan dengan elemen dari teori pilihan rasional, bisa jadi pelaku mungkin memang tidak memiliki ekspektasi terlalu tinggi atas hasil kejahatannya. “Asal cukup buat makan”, bagi pelaku hal itu sudah cukup memuaskan kebutuhannya. Pelaku juga berhitung secara rasional terkait dengan keterbatasan dan kemampuan diri yang ia miliki.
Fakta lain yang tak kalah membuat publik bergidik adalah dalam setiap aksinya, ternyata pelaku memiliki modus yang sama, yakni sengaja mengincar para pemulung yang berada di jalan serta memanfaatkan kelemahan korban yang tengah tertidur. Temuan mengenai ‘korban incaran’ inilah yang kemudian menjadi menarik untuk dianalisis lebih lanjut.
Terlebih, sebelum kasus ini terkuak banyak pihak yang mempertanyakan mengapa pelaku mengincar korban yang berprofesi sebagai seorang pemulung yang di mata umum dianggap bukan sasaran tepat jika pelaku memang mengharapkan keuntungan besar secara ekonomi.
Dari kaca mata Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory), pada dasarnya keputusan untuk melakukan kejahatan ada di tangan pelaku kejahatan, di mana keputusan tersebut diambil dengan melihat sejumlah pertimbangan. Menurut teori ini, pelaku akan melihat sejumlah faktor pertimbangan yang menurut versinya paling rasional dan membawa manfaat maksimal bagi dirinya.
Beberapa pertimbangan diantaranya adalah berapa nilai yang bisa diperoleh dari aksinya tersebut, bagaimana dengan peluang keberhasilan pelaku dalam melakukan aksi kejahatan dan bagaimana risiko dari aksi kejahatan tersebut.
Jika dikaitkan dengan kasus ini, maka pelaku seperti sudah membuat kalkulasi rasional atas pilihan kejahatan yang dilakukannnya. Pertama terkait dengan kalkulasi pertimbangan besarnya keuntungan. Banyak komentar di media sosial yang mempertanyakan soal motif pelaku, kenapa tidak mengincar orang-orang yang tampak “berduit”, mengapa mengincar sesama pemulung? (Baca juga: Dua Sekolah di Solo Gelar Simulai Pembelajaran Tatap Muka)
Jika dikaitkan dengan elemen dari teori pilihan rasional, bisa jadi pelaku mungkin memang tidak memiliki ekspektasi terlalu tinggi atas hasil kejahatannya. “Asal cukup buat makan”, bagi pelaku hal itu sudah cukup memuaskan kebutuhannya. Pelaku juga berhitung secara rasional terkait dengan keterbatasan dan kemampuan diri yang ia miliki.
Lihat Juga :