Pengelola Wisata Putar Otak agar Bertahan Disaat Paceklik Pengunjung
Sabtu, 10 Oktober 2020 - 15:09 WIB
loading...
A
A
A
Terpisah, Public Relations And Promotion The Great Asia Afrika Lembang, Intania Setiati mengatakan hal yang sama. Pada saat awal new normal (adaptasi kebiasaan baru) jumlah kunjungan sempat ada sekitar 30%. Namun ketika PSBB Jakarta kembali dilakukan, kunjungan kembali merosot tajam dan hanya menyisakan 10%. Itupun kebanyakan mereka beli tiket dan keliling jalan-jalan, jarang yang makan di resto atau belanja souvenir. (Baca: Perajin Tas Cimahi Mampu Bertahan di Tengah COVID-19, Omsetnya Bikin Iri)
Guna menekan biaya operasional, lanjut Intan, manajemen memberlakukan sistem kerja pegawai secara bergiliran. Pegawai yang bekerja separuhnya dan sisanya di rumahkan. Sistem itu diberlakukan karena jumlah kebutuhan petugas di objek wisata berkurang. Disamping itu juga agar pegawai tetap bisa mendapat honor, karena dengan sistem shift maka semua tetap bekerja.
"Kami harus pintar-pintar mengatur strategi agar operasional tetap berjalan di tengah kondisi yang serba sulit. Karena kalau begini kan tingkat kunjungan juga minim, sementara pemeliharaan dan aturan protokol kesehatan tetap dilakukan," tuturnya.
Guna menekan biaya operasional, lanjut Intan, manajemen memberlakukan sistem kerja pegawai secara bergiliran. Pegawai yang bekerja separuhnya dan sisanya di rumahkan. Sistem itu diberlakukan karena jumlah kebutuhan petugas di objek wisata berkurang. Disamping itu juga agar pegawai tetap bisa mendapat honor, karena dengan sistem shift maka semua tetap bekerja.
"Kami harus pintar-pintar mengatur strategi agar operasional tetap berjalan di tengah kondisi yang serba sulit. Karena kalau begini kan tingkat kunjungan juga minim, sementara pemeliharaan dan aturan protokol kesehatan tetap dilakukan," tuturnya.
(don)
Lihat Juga :