Pelaku Ungkap Motif di Balik Aksi Video Call Cabul ke Mahasiswi UIN Makassar
Kamis, 08 Oktober 2020 - 16:10 WIB
loading...
A
A
A
Mantan Kapolda Sulawesi Tenggara ini menyebutkan, empat korban yang melapor berasal daru jurusan yang sama di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Masing berinisial Fh, El, Ui, Fr. Rata-rata berusia 19 sampai 22 tahun.
"Pelaku menggunakan empat nomor yang berbeda untuk menghubungi para korban. Dengan modus dikirimi video yang sifatnya pornografi dan asusila , serta meneror korban dengan video call memperlihatkan alat kelamin," terang Merdisyam.
Sementara itu, Kokoh mengaku perbuatan cabul itu dilakukan sejak Juli 2020. Dia bilang, aksi itu dilakukan karena depresi akibat kecelakaan lalu lintas yang membuat cacat dirinya. Ditambah karena tak mampu menyelesaikan studi di UIN Alauddin Makassar.
"Saya di-DO, pak. Makanya depresi, kecelakaan tahun lalu. Awalnya saya ambil nomor dari aplikasi Instagram pakai akun palsu, berlanjut ke WhatsApp. Pertama sama Ft, saya lupa berapa korban, saya acak saja," kata Kokoh.
Dia mengaku lupa, bagaimana sampai mendapatkan nomor WhatsApp dari satu jurusan yang sama. "Tidak tahu kalau itu, acak saja. Di rumah ji saya lakukan, tidak ada pekerjaan fokus tinggal di rumah saja," terang Kokoh.
Kasus ini mencuat setelah beberapa korban berani mengadukan peristiwa teror yang dialaminya ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) Sulsel.
"Pelaku menggunakan empat nomor yang berbeda untuk menghubungi para korban. Dengan modus dikirimi video yang sifatnya pornografi dan asusila , serta meneror korban dengan video call memperlihatkan alat kelamin," terang Merdisyam.
Sementara itu, Kokoh mengaku perbuatan cabul itu dilakukan sejak Juli 2020. Dia bilang, aksi itu dilakukan karena depresi akibat kecelakaan lalu lintas yang membuat cacat dirinya. Ditambah karena tak mampu menyelesaikan studi di UIN Alauddin Makassar.
"Saya di-DO, pak. Makanya depresi, kecelakaan tahun lalu. Awalnya saya ambil nomor dari aplikasi Instagram pakai akun palsu, berlanjut ke WhatsApp. Pertama sama Ft, saya lupa berapa korban, saya acak saja," kata Kokoh.
Dia mengaku lupa, bagaimana sampai mendapatkan nomor WhatsApp dari satu jurusan yang sama. "Tidak tahu kalau itu, acak saja. Di rumah ji saya lakukan, tidak ada pekerjaan fokus tinggal di rumah saja," terang Kokoh.
Kasus ini mencuat setelah beberapa korban berani mengadukan peristiwa teror yang dialaminya ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) Sulsel.
Lihat Juga :