Mitigasi Pandemi, HMS Center Bakti Sosial ke Ponpes Cipasung Tasikmalaya

loading...
Mitigasi Pandemi, HMS Center Bakti Sosial ke Ponpes Cipasung Tasikmalaya
HMS Center menggelar baksi sosial (baksos) pondok pesantren di Tasikmalaya, Jawa Barat. Foto/Ist
TASIKMALAYA - Pondok Pesantren (Ponpes) Cipasung, Tasikmalayapimpinan KH A Bunyamin Ruhiat menjadi lokasi bakti sosial (baksos) HMS Center di Jawa Barat. Kegiatan baksos ini merupakan kepedulian dan reaksi cepat membantu memitigasidaerah yang mengalami darurat serius pandemi COVID-19.

"Mencermati trend angka COVID-19 di daerah ini yang mengindikasikan terjadinya peningkatan maka harus diupayakan penanganan secara serius, komprehensif, terkoordinasi secara masif dan terstruktur. Ini penting agar mitigasi COVID-19 berhasil," ujar Ketua Umum HMS Center, Hardjuno Wiwoho, Rabu (7/10/2020). (Baca juga: Cerita Saleh Husin Tentang Masjid Al Ikwan di Selatan Indonesia yang Moderen Minimalis)

Menurutnya, angka positif COVID-19 di daerah Tasikmalaya ini masih tinggi. Karena itu, perlu koordinasi dari aspek managemen penanganan 3T (treasing, testing dan treatment). Selain itu teknis tatalaksana treatment pada pasien dan logistik penyangga, baik peralatan medik, penampungan, pangan, maupun pendukung lainnya yang akan mencukupi keperluan ekstra dalam rangka percepatan dan efektifitas mitigasi pencegahan penyebaran virus mematikan ini. (Baca juga: Serem, Diduga Ada Hantu di Hotel Tempat Karantina di Bali)

"Kami hadir di sini untuk membantu meringankan beban masyarakat. Dalam baksos ini, kami membagikan seribu botol jamu herbal tetes Kenkona yang diyakini menambah kekebalan atau imunitas terhadap tubuh manusia," terang Hardjuno.

Dari informasi salah satu dokter yang bertugas di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya diketahui jika hasil swab test terhadap 200 orang terkonfirmasi positif 86 orang dari kluster Keluarga Ustaz bersama para santri sekitarnya.



Saat ini, sebanyak 84 orang dilakukan isolasi di wilayah pondok pesantren karena tidak bergejala/asimtomatik atau bergejala ringan. "Setelah dilakukan treatment supporting tersebut sekitar 5-10 hari, pasien yang positif setelah di test menjadi negatif. Hal itu karena terjadi peningkatan imunitas sehingga tidak lagi menginfeksi-patologis tubuh pasien serta daya menularkan ke orang lain menjadi lemah," jelasnya.

Ketua Tim Advokasi Kesehatan HMS Center, D’ Hiru langsung melakukan pendampingan dan sekaligus sebagai konsultan untuk supporting treatment menggunakan jamu tetes Kenkona, madu, jeruk nipis pada spesifikasi gejala ringan masing-masing pasien.

Tujuan utamanya adalah untuk mengefektifkan penanganan ditingkat intermidiate pada isolasi kolektif, sehingga meminimalisir pasien yang berlanjut dirawat di RS darurat maupun di RS rujukan.



D’Hiru menegaskan model supporting treatment yang akan dilaksanakan di Tasikmalaya nantinya akan dijadikan pilot project. Pola ini nantinya diterapkan di berbagai daerah terpapar pandemi COVID-19. Bahkan pelaksanaan yang simpel tanpa harus pendampingan dokter, dapat dilakukan secara simultan dari berbagai wilayah.

"Dari segi biaya juga sangat ekonomis dan meringankan beban para sejawat dokter dan para-medis yang bertugas di RS darurat dan RS rujukan yang mulai kewalahan, over load dan berlebihan jam kerja," katanya.
(shf)
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video
Top