Terlalu Singkat, PSBB Ketat di Jakarta Dikritik
Jum'at, 25 September 2020 - 08:35 WIB
loading...
A
A
A
"Pelandaian grafik kasus aktif bukanlah tujuan akhir. Kita masih harus terus bekerja bersama untuk memutus mata rantai penularan. Pemerintah terus tingkatkan 3T dan warga perlu berada di rumah dulu, hanya bepergian bila perlu sekali dan terapkan 3M," imbaunya.
Epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman, mengatakan, masih tingginya kasus baru Covid-19 di Jakarta lantaran penerapan PSBB yang tidak dalam dosis optimal dan durasinya singkat. “Sekali lagi, PSBB yang dilakukan di Jakarta ini bukan dalam dosis optimal. Masih dalam dosis kompromi dan durasinya tidak optimal, singkat, hanya dua minggu,” tuturnya di Jakarta kemarin.
Dicky menyarankan agar Pemprov DKI Jakarta mengevaluasi lagi penerapan PSBB ini agar memberikan dampak yang optimal dalam mengendalikan virus corona. “Perlu dievaluasi dan juga harus dijadikan pelajaran bahwa bila setengah-setengah, yang terjadi resources kita berkurang, tapi dampaknya tidak optimal. Ini kita jadi semakin kalah berpacu dengan virus,” desaknya. (Bima Setiyadi/Harits Tryan Akhmad)
Epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman, mengatakan, masih tingginya kasus baru Covid-19 di Jakarta lantaran penerapan PSBB yang tidak dalam dosis optimal dan durasinya singkat. “Sekali lagi, PSBB yang dilakukan di Jakarta ini bukan dalam dosis optimal. Masih dalam dosis kompromi dan durasinya tidak optimal, singkat, hanya dua minggu,” tuturnya di Jakarta kemarin.
Dicky menyarankan agar Pemprov DKI Jakarta mengevaluasi lagi penerapan PSBB ini agar memberikan dampak yang optimal dalam mengendalikan virus corona. “Perlu dievaluasi dan juga harus dijadikan pelajaran bahwa bila setengah-setengah, yang terjadi resources kita berkurang, tapi dampaknya tidak optimal. Ini kita jadi semakin kalah berpacu dengan virus,” desaknya. (Bima Setiyadi/Harits Tryan Akhmad)
(ysw)
Lihat Juga :