Di Kongres Nasional PMKRI, Sudirman Said Ajak Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Intrinsik
Kamis, 23 Juli 2026 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Pidato Presiden Prabowo di WEF 2026 Penegasan Arah Baru Kepemimpinan Indonesia
"Negara boleh membungkam para intelektual, boleh menyingkirkan para aktivis, boleh mengendalikan partai-partai, boleh membuat parlemen itu lumpuh, boleh mencengkeram penegak hukum. Yang tidak bisa diatur adalah pasar. Pasar adalah pengontrol atau penyeimbang yang sangat kuat, dan ini buktinya bahwa akibat dari praktik korupsi, akibat dari tata kelola yang lemah, akibat dari indeks demokrasi yang menurun, inilah hasilnya," jelas Sudirman.
Di tengah gambaran suram itu, Sudirman tetap meyakini ada alasan untuk optimistis, digali dari sejarah bangsa ini. Setiap lompatan besar Indonesia, dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga Reformasi, selalu digerakkan oleh kaum muda dan kaum terpelajar.
Menurutnya, modal generasi sekarang jauh lebih besar dibanding 1908, saat hampir seluruh penduduk buta huruf dan cuma ada 178 mahasiswa pribumi di seluruh negeri. Hari ini Indonesia punya sekitar 25 juta mahasiswa dan hampir 3.000 perguruan tinggi.
"Secara keseluruhan kita punya kemauan untuk mendobrak, melawan status quo, dan melakukan perbaikan," katanya, mengutip pesan lama Bung Karno dan Bung Hatta bahwa perjuangan generasi sekarang justru lebih berat karena lawannya bukan penjajah asing, melainkan korupsi, penindasan, dan ketimpangan yang tumbuh dari bangsa sendiri.
Sayangnya, kata Sudirman, capaian demokrasi hasil reformasi tidak dirawat baik dalam satu dekade terakhir. Ia menyebut kondisi ini sebagai lubang hitam yang harus segera diangkat keluar. Dari situ menawarkan tiga model kepemimpinan yang mesti tumbuh bersamaan: institusional, yang membenahi kelembagaan rusak; kolektif, karena tidak ada satu tokoh pun yang sanggup membereskan persoalan sebesar ini sendirian; dan yang paling ia tekankan malam itu, kepemimpinan intrinsik.
"Yang disebut kepemimpinan intrinsik adalah kepemimpinan yang dasarnya bukan jabatan, bukan otoritas, tapi nilai-nilai, integritas, kompetensi, dan kemampuan menggerakkan. Diikuti karena pengaruh, karena wibawa, bukan karena kekuasaan. Diikuti karena rasa hormat, bukan karena rasa takut atau kepatuhan. Basisnya adalah kekuatan personal, bukan kekuatan jabatan, dan personal power melekat pada diri kita, tidak peduli apakah kita naik, turun, bergeser, berhenti bekerja, atau pensiun," jelas Sudirman.
"Negara boleh membungkam para intelektual, boleh menyingkirkan para aktivis, boleh mengendalikan partai-partai, boleh membuat parlemen itu lumpuh, boleh mencengkeram penegak hukum. Yang tidak bisa diatur adalah pasar. Pasar adalah pengontrol atau penyeimbang yang sangat kuat, dan ini buktinya bahwa akibat dari praktik korupsi, akibat dari tata kelola yang lemah, akibat dari indeks demokrasi yang menurun, inilah hasilnya," jelas Sudirman.
Di tengah gambaran suram itu, Sudirman tetap meyakini ada alasan untuk optimistis, digali dari sejarah bangsa ini. Setiap lompatan besar Indonesia, dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga Reformasi, selalu digerakkan oleh kaum muda dan kaum terpelajar.
Menurutnya, modal generasi sekarang jauh lebih besar dibanding 1908, saat hampir seluruh penduduk buta huruf dan cuma ada 178 mahasiswa pribumi di seluruh negeri. Hari ini Indonesia punya sekitar 25 juta mahasiswa dan hampir 3.000 perguruan tinggi.
"Secara keseluruhan kita punya kemauan untuk mendobrak, melawan status quo, dan melakukan perbaikan," katanya, mengutip pesan lama Bung Karno dan Bung Hatta bahwa perjuangan generasi sekarang justru lebih berat karena lawannya bukan penjajah asing, melainkan korupsi, penindasan, dan ketimpangan yang tumbuh dari bangsa sendiri.
Sayangnya, kata Sudirman, capaian demokrasi hasil reformasi tidak dirawat baik dalam satu dekade terakhir. Ia menyebut kondisi ini sebagai lubang hitam yang harus segera diangkat keluar. Dari situ menawarkan tiga model kepemimpinan yang mesti tumbuh bersamaan: institusional, yang membenahi kelembagaan rusak; kolektif, karena tidak ada satu tokoh pun yang sanggup membereskan persoalan sebesar ini sendirian; dan yang paling ia tekankan malam itu, kepemimpinan intrinsik.
"Yang disebut kepemimpinan intrinsik adalah kepemimpinan yang dasarnya bukan jabatan, bukan otoritas, tapi nilai-nilai, integritas, kompetensi, dan kemampuan menggerakkan. Diikuti karena pengaruh, karena wibawa, bukan karena kekuasaan. Diikuti karena rasa hormat, bukan karena rasa takut atau kepatuhan. Basisnya adalah kekuatan personal, bukan kekuatan jabatan, dan personal power melekat pada diri kita, tidak peduli apakah kita naik, turun, bergeser, berhenti bekerja, atau pensiun," jelas Sudirman.
Lihat Juga :