Transformasi Transportasi, Jumlah Penumpang KAI Naik 10 Persen
Jum'at, 10 Juli 2026 - 15:32 WIB
loading...
A
A
A
Perjalanan transformasi yang dilakukan KAI ini juga sudah diabadikan di dalam Philip Kotler Museum of Marketing with Hermawan Kartajaya. Bertempat di kantor MCorp Office 88, Kota Kasablanka, museum ini menyajikan perjalanan transformasi KAI.
Transformasi pertama dilakukan perusahaan dengan berfokus pada pembangunan jaringan rel dan infrastruktur kereta. Suasana stasiun masih terbuka tanpa sistem digital. Tiket kertas manual menjadi satu-satunya akses dan pengalaman pelanggan belum menjadi prioritas.
Memasuki era reformasi layanan, KAI mulai berbenah dengan pendekatan yang lebih berpusat pada pelanggan. Inovasi seperti pembelian tiket daring, e-Kiosk, boarding pass, serta pembenahan sistem stasiun menjadi titik balik penting. Transformasi ini dilanjutkan dengan digitalisasi awal lewat aplikasi KAI Access, penggunaan QR code, dan integrasi berbagai layanan dalam satu platform digital.
Kini, KAI memasuki fase digital lanjutan yang mengusung teknologi prediktif dan personalisasi. Fitur seperti check-in berbasis face recognition, pembayaran cashless lintas platform, serta pelacakan real-time dan loyalty program menjadi standar baru.
Hingga kini, transformasi yang dilakukan KAI terus berjalan. Dengan lebih dari 128 juta penumpang mempercayakan perjalanannya dalam tiga bulan pertama tahun 2026 saja, satu hal menjadi jelas, yakni transformasi ini bukan lagi wacana, melainkan pengalaman nyata yang setiap hari dirasakan jutaan masyarakat Indonesia dan akan terus berkembang seiring perusahaan memikirkan inovasi baru demi meningkatkan customer experience agar terus relevan dengan perubahan yang terjadi di konsumen Indonesia.
Transformasi pertama dilakukan perusahaan dengan berfokus pada pembangunan jaringan rel dan infrastruktur kereta. Suasana stasiun masih terbuka tanpa sistem digital. Tiket kertas manual menjadi satu-satunya akses dan pengalaman pelanggan belum menjadi prioritas.
Memasuki era reformasi layanan, KAI mulai berbenah dengan pendekatan yang lebih berpusat pada pelanggan. Inovasi seperti pembelian tiket daring, e-Kiosk, boarding pass, serta pembenahan sistem stasiun menjadi titik balik penting. Transformasi ini dilanjutkan dengan digitalisasi awal lewat aplikasi KAI Access, penggunaan QR code, dan integrasi berbagai layanan dalam satu platform digital.
Kini, KAI memasuki fase digital lanjutan yang mengusung teknologi prediktif dan personalisasi. Fitur seperti check-in berbasis face recognition, pembayaran cashless lintas platform, serta pelacakan real-time dan loyalty program menjadi standar baru.
Hingga kini, transformasi yang dilakukan KAI terus berjalan. Dengan lebih dari 128 juta penumpang mempercayakan perjalanannya dalam tiga bulan pertama tahun 2026 saja, satu hal menjadi jelas, yakni transformasi ini bukan lagi wacana, melainkan pengalaman nyata yang setiap hari dirasakan jutaan masyarakat Indonesia dan akan terus berkembang seiring perusahaan memikirkan inovasi baru demi meningkatkan customer experience agar terus relevan dengan perubahan yang terjadi di konsumen Indonesia.
(jon)
Lihat Juga :