Tak Perlu Tunggu Air Mati, Perumda Bekasi Kini Bisa Deteksi Pipa Bocor Sejak Dini
Selasa, 23 Juni 2026 - 09:18 WIB
loading...
Perumda Tirta Bhagasasi Kabupaten Bekasi mulai memperketat pengawasan jaringan distribusi air melalui sistem digital guna mendeteksi kebocoran sejak dini. Foto/Ist
A
A
A
BEKASI - Perumda Tirta Bhagasasi Kabupaten Bekasi mulai memperketat pengawasan jaringan distribusi air melalui sistem digital guna mendeteksi kebocoran sejak dini, bahkan sebelum dikeluhkan pelanggan. Hal itu diantisipasi dengan teknologi canggih.
Kepala Bagian Pengendalian Kehilangan Air (PKA) Perumda Tirta Bhagasasi Hendry mengatakan kerusakan pada pipa bawah tanah sering kali sulit diketahui karena tidak tampak di permukaan.
Baca juga: Pipa PDAM Jebol, Permukiman Warga di Cibangkong Bandung Terendam 2 Rumah Ambruk
Akibatnya, masyarakat baru menyadari adanya masalah ketika tekanan air menurun atau aliran air berhenti.
Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan menerapkan sistem District Meter Area (DMA) yang mampu mempersempit area pencarian titik kebocoran sehingga proses penanganan menjadi lebih cepat dan efisien.
“Dengan sistem DMA, zona pencarian kebocoran di bawah tanah menjadi lebih kecil sehingga tim teknis dapat lebih mudah menemukan lokasi kerusakan dan segera melakukan perbaikan,” kata Hendry, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Kabupaten Bekasi dan Klaten Kekeringan, Ribuan Warga Kesulitan Dapat Air Bersih
Teknologi ini bekerja dengan memantau volume distribusi air secara real time. Data dari meter induk di Instalasi Pengolahan Air (IPA) kemudian dibandingkan dengan total penggunaan pelanggan.
Apabila ditemukan selisih yang signifikan, hal tersebut menjadi indikasi adanya kehilangan air akibat kebocoran pada jaringan.
Menurut Hendry, penerapan DMA terbukti membantu mendeteksi potensi gangguan lebih cepat sehingga dampaknya terhadap pelanggan dapat diminimalkan. Namun, implementasi sistem tersebut belum menjangkau seluruh wilayah layanan karena membutuhkan investasi yang besar.
Ia menjelaskan, perangkat utama yang digunakan berupa water meter elektromagnetik memiliki harga relatif mahal sehingga pembangunan sistem dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran perusahaan.
Tak hanya mengawasi jaringan pipa utama, Perumda Tirta Bhagasasi juga melakukan pemantauan terhadap penggunaan air di sisi pelanggan. Tim PKA secara rutin menganalisis grafik konsumsi air dan nilai tagihan bulanan untuk mengidentifikasi kemungkinan kebocoran di instalasi pelanggan.
Langkah ini dilakukan agar pelanggan tidak mengalami lonjakan tagihan yang disebabkan kebocoran yang tidak disadari.
Dalam kegiatan inspeksi lapangan, petugas dibekali alat penguji akurasi meter air dan leak detector yang mampu mendeteksi kebocoran tanpa harus membongkar jalan atau merusak fasilitas umum di sekitar lokasi.
“Dari data yang kami analisis setiap bulan, kami juga bisa mengetahui apakah terjadi kebocoran air atau tidak sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” kata Hendry.
Melalui pemanfaatan teknologi digital tersebut, Perumda Tirta Bhagasasi berharap kualitas layanan air bersih di Kabupaten Bekasi semakin meningkat sekaligus meminimalkan kehilangan air akibat kebocoran jaringan bawah tanah.
Kepala Bagian Pengendalian Kehilangan Air (PKA) Perumda Tirta Bhagasasi Hendry mengatakan kerusakan pada pipa bawah tanah sering kali sulit diketahui karena tidak tampak di permukaan.
Baca juga: Pipa PDAM Jebol, Permukiman Warga di Cibangkong Bandung Terendam 2 Rumah Ambruk
Akibatnya, masyarakat baru menyadari adanya masalah ketika tekanan air menurun atau aliran air berhenti.
Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan menerapkan sistem District Meter Area (DMA) yang mampu mempersempit area pencarian titik kebocoran sehingga proses penanganan menjadi lebih cepat dan efisien.
“Dengan sistem DMA, zona pencarian kebocoran di bawah tanah menjadi lebih kecil sehingga tim teknis dapat lebih mudah menemukan lokasi kerusakan dan segera melakukan perbaikan,” kata Hendry, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Kabupaten Bekasi dan Klaten Kekeringan, Ribuan Warga Kesulitan Dapat Air Bersih
Teknologi ini bekerja dengan memantau volume distribusi air secara real time. Data dari meter induk di Instalasi Pengolahan Air (IPA) kemudian dibandingkan dengan total penggunaan pelanggan.
Apabila ditemukan selisih yang signifikan, hal tersebut menjadi indikasi adanya kehilangan air akibat kebocoran pada jaringan.
Menurut Hendry, penerapan DMA terbukti membantu mendeteksi potensi gangguan lebih cepat sehingga dampaknya terhadap pelanggan dapat diminimalkan. Namun, implementasi sistem tersebut belum menjangkau seluruh wilayah layanan karena membutuhkan investasi yang besar.
Ia menjelaskan, perangkat utama yang digunakan berupa water meter elektromagnetik memiliki harga relatif mahal sehingga pembangunan sistem dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran perusahaan.
Tak hanya mengawasi jaringan pipa utama, Perumda Tirta Bhagasasi juga melakukan pemantauan terhadap penggunaan air di sisi pelanggan. Tim PKA secara rutin menganalisis grafik konsumsi air dan nilai tagihan bulanan untuk mengidentifikasi kemungkinan kebocoran di instalasi pelanggan.
Langkah ini dilakukan agar pelanggan tidak mengalami lonjakan tagihan yang disebabkan kebocoran yang tidak disadari.
Dalam kegiatan inspeksi lapangan, petugas dibekali alat penguji akurasi meter air dan leak detector yang mampu mendeteksi kebocoran tanpa harus membongkar jalan atau merusak fasilitas umum di sekitar lokasi.
“Dari data yang kami analisis setiap bulan, kami juga bisa mengetahui apakah terjadi kebocoran air atau tidak sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” kata Hendry.
Melalui pemanfaatan teknologi digital tersebut, Perumda Tirta Bhagasasi berharap kualitas layanan air bersih di Kabupaten Bekasi semakin meningkat sekaligus meminimalkan kehilangan air akibat kebocoran jaringan bawah tanah.
(shf)
Lihat Juga :