Menuju Tata Kelola Pesisir Terintegrasi, Pemerintah Dorong Mangrove sebagai Solusi Berbasis Alam
Jum'at, 12 Juni 2026 - 13:58 WIB
loading...
A
A
A
“Sabuk hijau mangrove selama ini menjadi tameng biologis kawasan pesisir. Karena itu, pendekatan grey infrastructure seperti tanggul, pompa, dan polder harus diintegrasikan dengan blue-green infrastructure atau solusi berbasis alam,” katanya.
Jumhur mengatakan efektivitas infrastruktur perlindungan pantai akan sulit dicapai apabila persoalan ekologis di daratan tidak ditangani secara bersamaan. Maka itu, perlindungan pesisir harus dipandang sebagai satu kesatuan sistem yang menghubungkan wilayah darat, pesisir, dan laut.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove yang sehat mampu menurunkan tinggi gelombang laut sebesar 13–66 persen hanya dalam jarak 100 meter. Selain meredam energi gelombang, mangrove berfungsi menjebak sedimen, memperkuat garis pantai, serta menyediakan habitat penting bagi berbagai spesies ikan dan biota pesisir.
Keberhasilan rehabilitasi sekitar 75 hektare mangrove di kawasan Tugurejo, Semarang, menjadi salah satu contoh nyata manfaat ekologis tersebut. Pemulihan ekosistem mangrove di wilayah itu tidak hanya membantu memperkuat perlindungan pantai, tetapi juga mengembalikan habitat pemijahan ikan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan.
Selain abrasi dan rob, dia menyoroti persoalan penurunan muka tanah (land subsidence) yang menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kerentanan Pantura terhadap banjir pesisir.
Berdasarkan data yang ada menunjukkan laju penurunan muka tanah di kawasan Semarang Utara mencapai sekitar 100 milimeter per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan muka air laut regional yang berada pada kisaran 2,1 milimeter per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi kawasan pesisir tidak hanya datang dari laut, tetapi juga dari daratan yang terus mengalami penurunan.
Menurut Jumhur, salah satu penyebab utama fenomena tersebut adalah eksploitasi air tanah secara berlebihan. “Harus diingatkan kepada semua pihak, salah satu penyebab penurunan muka daratan adalah eksploitasi besar-besaran air di bawah permukaan tanah,” ucapnya.
Jumhur mengatakan efektivitas infrastruktur perlindungan pantai akan sulit dicapai apabila persoalan ekologis di daratan tidak ditangani secara bersamaan. Maka itu, perlindungan pesisir harus dipandang sebagai satu kesatuan sistem yang menghubungkan wilayah darat, pesisir, dan laut.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove yang sehat mampu menurunkan tinggi gelombang laut sebesar 13–66 persen hanya dalam jarak 100 meter. Selain meredam energi gelombang, mangrove berfungsi menjebak sedimen, memperkuat garis pantai, serta menyediakan habitat penting bagi berbagai spesies ikan dan biota pesisir.
Keberhasilan rehabilitasi sekitar 75 hektare mangrove di kawasan Tugurejo, Semarang, menjadi salah satu contoh nyata manfaat ekologis tersebut. Pemulihan ekosistem mangrove di wilayah itu tidak hanya membantu memperkuat perlindungan pantai, tetapi juga mengembalikan habitat pemijahan ikan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan.
Selain abrasi dan rob, dia menyoroti persoalan penurunan muka tanah (land subsidence) yang menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kerentanan Pantura terhadap banjir pesisir.
Berdasarkan data yang ada menunjukkan laju penurunan muka tanah di kawasan Semarang Utara mencapai sekitar 100 milimeter per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan muka air laut regional yang berada pada kisaran 2,1 milimeter per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi kawasan pesisir tidak hanya datang dari laut, tetapi juga dari daratan yang terus mengalami penurunan.
Menurut Jumhur, salah satu penyebab utama fenomena tersebut adalah eksploitasi air tanah secara berlebihan. “Harus diingatkan kepada semua pihak, salah satu penyebab penurunan muka daratan adalah eksploitasi besar-besaran air di bawah permukaan tanah,” ucapnya.
Lihat Juga :