196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Rabu, 10 Juni 2026 - 08:24 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, keris tersebut diserahkan Menteri Pendidikan Belanda Ingrid Katharina van Engelshoven kepada Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag, Selasa 3 Maret 2020.
Keris milik Pangeran Diponegoro lalu diserahkan ke Museum Nasional Indonesia di Jakarta, Kamis 5 Maret 2020. Penyerahan keris Kiai Nogo Siluman itu dilakukan Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja dan diterima langsung oleh Kepala Museum Nasional Indonesia Siswanto. Hampir sekitar 190 tahun, akhirnya keris Kiai Nogo Siluman, simbol kepemimpinan Pangeran Diponegoro kembali lagi ke tanah Jawa.
Pelukis Raden Saleh Syarif Bustaman yang pernah melihat langsung Keris Kiai Nogo Siluman di Belanda padaJanuari 1831 memberikan penjelasan mengagumkan tentang keris keramat milik Pangeran Diponegoro. Apalagi keris Kiai Nogo Siluman sarat makna dan simbol tentang kepemimpinan.
Raden Saleh menjelaskan, Kiai berarti tuan. Semua benda milik raja memakai nama Kiai sebagai penghormatan. Sedangkan Nogo atau Naga, dalam mitologi Jawa adalah ular raksasa bermahkota di kepala. Sedangkan Siluman dimaknai dengan bakat atau kemampuan luar biasa, seperti mampu menghilang.
“Jadi, nama keris Kiai Nogo Siluman berarti Raja Ular Penyihir. Mungkin, ini untuk mengambarkan sebuah nama yang megah,” katanya yang mengaku hampir menangis dan berlutut, karena perasaannya bergetar hebat saat menggenggam pusaka Pangeran Diponegoro itu.
Keris Kiai Nogo Siluman memiliki luk 13 dengan gandhik berbentuk kepala Naga mengenakan mahkota, sumping, dan kalung. Pada bagian badan Naga sedikit tersamar yang kemudian menghilang pada luk pertama.
Secara simbolis itu bermakna, sebagai seorang pemimpin tidak boleh sewenang-wenang, karena apa yang dimiliki adalah sampiran ing urip atau titipan sementara.
Pada bagian mulut Naga terbuka lebar pada umumnya disumpal dengan butiran emas atau batu mulia. Makna filosofinya adalah manusia harus mampu mengendalikan ucapannya. Dalam falsafah Jawa disebutkan; aji ning diri soko kedaling lati, yang berarti kehormatan seseorang berasal dari ucapan atau kata-katanya.
Apabila dihubungkan dengan sifat-sifat kepemimpinan, pesan yang tersirat dalam dhapur keris Nogo Siluman, maka bisa dipahami ucapan seorang pemimpin tidak boleh berubah-ubah atau sabda pandita ratu tan keno wola-wali. Sebab, kemuliaan seorang pemimpin dilihat dari kemampuan menyelaraskan perkataan dengan perbuatan.
Diolah dari berbagai sumber, sumekarart, lensanaga, wikipedia
Keris milik Pangeran Diponegoro lalu diserahkan ke Museum Nasional Indonesia di Jakarta, Kamis 5 Maret 2020. Penyerahan keris Kiai Nogo Siluman itu dilakukan Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja dan diterima langsung oleh Kepala Museum Nasional Indonesia Siswanto. Hampir sekitar 190 tahun, akhirnya keris Kiai Nogo Siluman, simbol kepemimpinan Pangeran Diponegoro kembali lagi ke tanah Jawa.
Filosofi Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman
Pelukis Raden Saleh Syarif Bustaman yang pernah melihat langsung Keris Kiai Nogo Siluman di Belanda padaJanuari 1831 memberikan penjelasan mengagumkan tentang keris keramat milik Pangeran Diponegoro. Apalagi keris Kiai Nogo Siluman sarat makna dan simbol tentang kepemimpinan.
Raden Saleh menjelaskan, Kiai berarti tuan. Semua benda milik raja memakai nama Kiai sebagai penghormatan. Sedangkan Nogo atau Naga, dalam mitologi Jawa adalah ular raksasa bermahkota di kepala. Sedangkan Siluman dimaknai dengan bakat atau kemampuan luar biasa, seperti mampu menghilang.
“Jadi, nama keris Kiai Nogo Siluman berarti Raja Ular Penyihir. Mungkin, ini untuk mengambarkan sebuah nama yang megah,” katanya yang mengaku hampir menangis dan berlutut, karena perasaannya bergetar hebat saat menggenggam pusaka Pangeran Diponegoro itu.
Keris Kiai Nogo Siluman memiliki luk 13 dengan gandhik berbentuk kepala Naga mengenakan mahkota, sumping, dan kalung. Pada bagian badan Naga sedikit tersamar yang kemudian menghilang pada luk pertama.
Secara simbolis itu bermakna, sebagai seorang pemimpin tidak boleh sewenang-wenang, karena apa yang dimiliki adalah sampiran ing urip atau titipan sementara.
Pada bagian mulut Naga terbuka lebar pada umumnya disumpal dengan butiran emas atau batu mulia. Makna filosofinya adalah manusia harus mampu mengendalikan ucapannya. Dalam falsafah Jawa disebutkan; aji ning diri soko kedaling lati, yang berarti kehormatan seseorang berasal dari ucapan atau kata-katanya.
Apabila dihubungkan dengan sifat-sifat kepemimpinan, pesan yang tersirat dalam dhapur keris Nogo Siluman, maka bisa dipahami ucapan seorang pemimpin tidak boleh berubah-ubah atau sabda pandita ratu tan keno wola-wali. Sebab, kemuliaan seorang pemimpin dilihat dari kemampuan menyelaraskan perkataan dengan perbuatan.
Diolah dari berbagai sumber, sumekarart, lensanaga, wikipedia
(shf)
Lihat Juga :