Gempa M7,8 Filipina Picu Tsunami di Indonesia, Alarm Zona Megathrust yang Terlupakan

Selasa, 09 Juni 2026 - 10:24 WIB
loading...
A A A
Sementara itu, di wilayah Laut Maluku berkembang sistem subduksi ganda (double subduction) yang jarang ditemukan secara global. Lempeng Laut Maluku tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe dan ke arah timur di bawah Busur Halmahera, menciptakan sistem kolisi busur-busur kepulauan (arc-arc collision). Proses ini menghasilkan deformasi intens, penebalan kerak, serta aktivitas seismik yang sangat kompleks dan beragam kedalaman.

"Interaksi ketiga sistem ini membentuk mosaik tektonik yg dinamis, dgn implikasi langsung terhadap tingkat bahaya geologi di kawasan tersebut. Kombinasi subduksi aktif, segmentasi zona patahan, dan interaksi busur menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap gempa besar, tsunami, serta proses geodinamika lainnya yg masih terus berkembang hingga saat ini," jelasnya.

Sementara itu, kata Daryono, di wilayah Maluku Utara, Sulawesi Utara hingga Filipina, beberapa studi menunjukkan potensi magnitudo besar, bahkan mencapai 8,2. "Sayangnya, kawasan ini belum mendapatkan perhatian sebesar zona megathrust di Sumatra atau Jawa. Seolah sistem subduksi di zona ini menjadi zona megathrust yang terlupakan di timur Indonesia," katanya.

Catatan Gempa


Kawasan pertemuan Lempeng Laut Filipina, sistem Subduksi Cotabato, serta zona subduksi ganda Laut Maluku telah lama dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas seismik tinggi. Sejarah mencatat sejumlah gempa besar yang mencerminkan kompleksitas interaksi tektonik di wilayah ini.

Daryono membeberkan bahwa pada tahun 1918, gempa berkekuatan 8,3 melanda Mindanao, yang secara luas ditafsirkan telah mematahkan sebagian dari sistem subduksi Cotabato. Hampir enam dekade kemudian, gempa berkekuatan 8,1 pada tahun 1976 mematahkan bagian utara dari gempa tahun 1918, menuju Teluk Moro, dan di sebelah timur jejak palung tersebut.

Gempa Teluk Moro menghasilkan tsunami dahsyat dengan ketinggian mencapai beberapa meter dan menewaskan lebih dari 5.000 orang. Peristiwa ini menjadi salah satu tsunami paling mematikan dalam sejarah Filipina.

Daryono mengatakan terulangnya gempa besar di sepanjang Palung Cotabato pada tahun 1918 dan 1976 menunjukkan bahwa sistem subduksi ini mampu menghasilkan beberapa gempa berkekuatan 8,0 atau lebih besar. Catatan gempa signifikan terkini yang bersumber pada sistem subduksi Cotabato adalah gempa tahun 2002 dengan magnitudo 6,8 dan gempa tahun 2023 dengan magnitudo 6,8.

"Tumpang tindih spasial antara area deformasi tahun 1976 dan rangkaian gempa bumi berikutnya menimbulkan pertanyaan yang tak terhindarkan: Apakah palung Cotabato kembali aktif? Masih! Gempa Mindanao dengan magnitudo 7,8 dengan kedalaman 35 km yang terjadi pada 8 Juni 2026 kemarin berdasarkan lokasi episenter, kedalaman hiposenter dan mekanisme sumber yang berupa mekanisme naik (thrusting) diyakini bersumber di Zona Subduksi Cotabato," ujarnya.

Berikutnya, di zona Subduksi Lempeng Laut Filipina, gempa besar juga terjadi pada 31 Agustus 2012 (Mw 7,6) di lepas pantai timur Filipina yang memicu tsunami kecil sekitar 50 Cm. Selanjutnya gempa besar kembali terjadi pada 2 Desember 2023 di lepas pantai Hinatuan dan memicu tsunami setinggi 64 Cm.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gempa Magnitudo 5,5...
Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Sarmi Papua Sore Ini
Gempa Magnitudo 5,8...
Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Ternate Maluku Utara Pagi Ini
20 Tahun Tsunami Pangandaran,...
20 Tahun Tsunami Pangandaran, Ahli: Megathrust Ancaman Nyata
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan...
Gempa M5,6 Guncang Kepulauan Sangihe, Simak Hasil Analisis BMKG
Gempa Magnitudo 4,7...
Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Polewali Mandar Pagi Ini, Dirasakan hingga Makassar
Gempa M5,6 Guncang Talaud...
Gempa M5,6 Guncang Talaud Maluku Utara, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Terungkap, Gempa Dahsyat...
Terungkap, Gempa Dahsyat Sumatra Sebabkan Singapura Tenggelam Secara Bertahap
Venezuela Memohon kepada...
Venezuela Memohon kepada Raja Charles: Serahkan 31 Ton Emas yang Ditahan Inggris
Gempa Kembar Venezuela...
Gempa Kembar Venezuela Tewaskan 2.295 Orang: Mirip Zona Perang, Bau Mayat Menyengat
Rekomendasi
BBT Perkuat Ekosistem...
BBT Perkuat Ekosistem Industri Batam lewat Ekspansi Fiber dan 5G
Fanomenon Coachella...
Fanomenon Coachella Versi K-Pop Resmi Diluncurkan, Target Raup Rp12 Triliun
4 Alasan Jepang Kini...
4 Alasan Jepang Kini Jadi Aliansi Terpenting AS di Asia, Garda Terdepan Melawan Rusia dan China
Berita Terkini
Pemprov DKI Targetkan...
Pemprov DKI Targetkan Metode Open Dumping di TPST Bantargebang Berakhir 2029
Ratusan Petani Tembakau...
Ratusan Petani Tembakau Demo, Peringatkan Ancaman PP 28/2024 terhadap Jutaan Pekerja IHT
P2RPTI Jateng Perkuat...
P2RPTI Jateng Perkuat Pemberantasan Rokok Ilegal dan Sejahterakan Petani Tembakau
Pramono Yakin Obligasi...
Pramono Yakin Obligasi Daerah Tak Akan Bebani Gubernur Selanjutnya
Bea Cukai dan BAIS TNI...
Bea Cukai dan BAIS TNI Gagalkan Peredaran Miras Berpita Cukai Palsu Senilai Rp12,55 Miliar di Bali
Kapolda Metro Jaya Pimpin...
Kapolda Metro Jaya Pimpin Sertijab 22 Pejabat Utama dan Kapolres, Ini Daftarnya
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved