Gempa M7,8 Filipina Picu Tsunami di Indonesia, Alarm Zona Megathrust yang Terlupakan
Selasa, 09 Juni 2026 - 10:24 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, di wilayah Laut Maluku yang memiliki karakter subduksi ganda, gempa besar 15 November 2014 (Mw 7,3) dan beberapa kejadian lain dengan magnitudo >7 menunjukkan aktivitas deformasi intens akibat penunjaman dua arah lempeng. Selain itu, gempa Halmahera 4 Juli 2019 (Mw 7,2) juga menegaskan tingginya aktivitas seismik di zona interaksi Busur Sangihe dan Halmahera. Gempa lain yang signifikan adalah peristiwa 29 Desember 1996 di wilayah Minahasa (Mw ~7,9), yang memicu tsunami dan berdampak luas di Sulawesi Utara. Kejadian ini berkaitan dengan dinamika kompleks di sekitar Laut Maluku dan zona transisi menuju subduksi Filipina.
Rangkaian kejadian tersebut, katanya, menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya menghasilkan gempa besar secara individual, tetapi juga memiliki potensi multi-sumber yang saling berinteraksi. Kompleksitas ini meningkatkan ketidakpastian dalam karakter gempa, baik dari sisi magnitudo, kedalaman, maupun potensi tsunami.
"Secara keseluruhan, catatan sejarah ini menegaskan bahwa kawasan Subduksi Lempeng Laut Filipina, Cotabato, dan Laut Maluku merupakan salah satu sistem tektonik paling aktif di dunia, dengan potensi gempa besar dan tsunami yang harus terus diwaspadai," ujar Daryono.
"Kita perlu berhenti bersikap reaktif. Menunggu bencana besar berikutnya untuk bertindak bukan lagi pilihan yang bisa dibenarkan. Edukasi publik harus ditingkatkan, tata ruang harus berbasis risiko, dan sistem mitigasi harus diperkuat hingga ke level komunitas," kata Daryono.
Daryono pun mengingatkan bahwa gempa yang terjadi saat ini bukan sekadar berita. Ia adalah peringatan keras, dan mengabaikan peringatan dari bumi adalah kesalahan yang selalu dibayar mahal.
"Kita tidak bisa menunggu hingga bencana besar berikutnya untuk bertindak. Pemahaman publik, tata ruang berbasis risiko, dan penguatan sistem mitigasi harus menjadi prioritas. Karena pada akhirnya, bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam bumi, tetapi bagaimana kita memilih untuk bersiap menghadapinya."
Rangkaian kejadian tersebut, katanya, menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya menghasilkan gempa besar secara individual, tetapi juga memiliki potensi multi-sumber yang saling berinteraksi. Kompleksitas ini meningkatkan ketidakpastian dalam karakter gempa, baik dari sisi magnitudo, kedalaman, maupun potensi tsunami.
"Secara keseluruhan, catatan sejarah ini menegaskan bahwa kawasan Subduksi Lempeng Laut Filipina, Cotabato, dan Laut Maluku merupakan salah satu sistem tektonik paling aktif di dunia, dengan potensi gempa besar dan tsunami yang harus terus diwaspadai," ujar Daryono.
Peringatan
Daryono pun menegaskan bahwa sejarah sebenarnya telah memberi petunjuk. Gempa dan tsunami sudah sering kali terjadi di kawasan ini, meski catatannya tdk selalu lengkap. Lebih jauh, bukti geologi menunjukkan bahwa peristiwa besar di masa lalu kemungkinan jauh lebih dahsyat daripada yang tercatat. Ketidaktahuan ini bukan berarti aman; justru sebaliknya, ia menyimpan ketidakpastian yang berbahaya."Kita perlu berhenti bersikap reaktif. Menunggu bencana besar berikutnya untuk bertindak bukan lagi pilihan yang bisa dibenarkan. Edukasi publik harus ditingkatkan, tata ruang harus berbasis risiko, dan sistem mitigasi harus diperkuat hingga ke level komunitas," kata Daryono.
Daryono pun mengingatkan bahwa gempa yang terjadi saat ini bukan sekadar berita. Ia adalah peringatan keras, dan mengabaikan peringatan dari bumi adalah kesalahan yang selalu dibayar mahal.
"Kita tidak bisa menunggu hingga bencana besar berikutnya untuk bertindak. Pemahaman publik, tata ruang berbasis risiko, dan penguatan sistem mitigasi harus menjadi prioritas. Karena pada akhirnya, bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam bumi, tetapi bagaimana kita memilih untuk bersiap menghadapinya."
(zik)
Lihat Juga :