BPDP Gelar Workshop Roemah Kreasi-Nyokelat di Roemah, Dorong UMKM Kakao Naik Kelas
Kamis, 21 Mei 2026 - 13:00 WIB
loading...
A
A
A
Dua menu minuman yang diperkenalkan dalam workshop tersebut yakni Earl Grey Criollo Chocolate, Pistachio Criollo Chocolate, dan Granola. Pada menu pertama, peserta diperkenalkan pada kombinasi teh Earl Grey dengan cokelat criollo yang memiliki karakter rasa kuat.
“Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” ujar Shana.
Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Peserta tampak aktif bertanya, saling menunjukkan hasil kreasi minuman, hingga mendokumentasikan hasil karya mereka untuk diunggah ke media sosial.
Dalam sesi praktik, peserta juga diperkenalkan pada teknik penyajian dan plating minuman yang menjadi salah satu nilai tambah dalam industri makanan dan minuman. “Es batu penuh itu penting supaya layer minumannya bisa terbentuk,” katanya.
Dia juga menjelaskan detail penyajian menjadi salah satu alasan mengapa minuman di kafe dan hotel memiliki nilai jual lebih tinggi. “Karena memang butuh teknik khusus dan detail dalam penyajiannya,” ucapnya.
Selain praktik pengolahan kakao, workshop tersebut juga memperkenalkan penggunaan non-dairy creamer berbahan sawit sebagai bagian dari inovasi produk minuman berbasis perkebunan. Peserta mempraktikkan penggunaan creamer sawit dalam proses pembuatan minuman cokelat untuk menghasilkan tekstur minuman yang creamy dan seimbang.
Irena mengaku tertarik dengan penggunaan creamer sawit yang diperkenalkan dalam workshop tersebut karena dinilai memiliki rasa yang baik dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam industri makanan dan minuman.
Melalui kegiatan Roemah Kreasi-Nyokelat di Roemah, BPDP berharap masyarakat semakin memahami potensi komoditas kakao Indonesia, mengenal produk UMKM berbasis perkebunan, serta terus termotivasi untuk mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan nasional.
“Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” ujar Shana.
Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Peserta tampak aktif bertanya, saling menunjukkan hasil kreasi minuman, hingga mendokumentasikan hasil karya mereka untuk diunggah ke media sosial.
Dalam sesi praktik, peserta juga diperkenalkan pada teknik penyajian dan plating minuman yang menjadi salah satu nilai tambah dalam industri makanan dan minuman. “Es batu penuh itu penting supaya layer minumannya bisa terbentuk,” katanya.
Dia juga menjelaskan detail penyajian menjadi salah satu alasan mengapa minuman di kafe dan hotel memiliki nilai jual lebih tinggi. “Karena memang butuh teknik khusus dan detail dalam penyajiannya,” ucapnya.
Selain praktik pengolahan kakao, workshop tersebut juga memperkenalkan penggunaan non-dairy creamer berbahan sawit sebagai bagian dari inovasi produk minuman berbasis perkebunan. Peserta mempraktikkan penggunaan creamer sawit dalam proses pembuatan minuman cokelat untuk menghasilkan tekstur minuman yang creamy dan seimbang.
Irena mengaku tertarik dengan penggunaan creamer sawit yang diperkenalkan dalam workshop tersebut karena dinilai memiliki rasa yang baik dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam industri makanan dan minuman.
Melalui kegiatan Roemah Kreasi-Nyokelat di Roemah, BPDP berharap masyarakat semakin memahami potensi komoditas kakao Indonesia, mengenal produk UMKM berbasis perkebunan, serta terus termotivasi untuk mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan nasional.
(jon)
Lihat Juga :