Polda Metro Bongkar Gudang Ribuan Motor Hasil Kejahatan Siap Ekspor, Ini Penampakannya
Senin, 11 Mei 2026 - 15:42 WIB
loading...
Polda Metro Jaya membongkar gudang penyimpanan ribuan motor hasil tindak pidana di Jalan Kemandoran VIII, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026). Foto/Jonathan Simanjuntak
A
A
A
JAKARTA - Polda Metro Jaya membongkar gudang penyimpanan ribuan sepeda motor hasil tindak pidana di Jalan Kemandoran VIII, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026). Ribuan seped motor yang tersimpan digudang itu siap diekspor ke luar negeri.
Pantauan SindoNews, sebanyak 1.499 unit kendaraan bermotor terparkir rapi di gudang tersebut. Beberapa di antaranya sudah dibongkar agar bisa diekspor lebih mudah.
Baca juga: Pemotor Halangi Ambulans yang Berujung Perusakan di Depok Jadi Tersangka
Adapun ribuan motor itu terlihat masih dalam kondisi baru. Seluruh kendaraan juga terlihat belum memiliki nomor polisi kendaraan.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddi menjelaskan gudang ini dikelola oleh PT Indo Bike 26. Polisi turut menetapkan Direktur perusahaan tersebut yakni WS menjadi tersangka.
"Kami saat ini sudah menetapkan terhadap salah satu tersangka inisial WS. Kami akan mendalami ini baik dari penyedia, pengepul maupun eksportirnya," ujar Iman kepada wartawan di lokasi, Senin (11/5/2026).
Iman menambahkan ribuan kendaraan ini diduga berasal dari hasil tindak pidana kejahatan lantaran pelaku tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan kendaraan hingga bukti faktur hasil jual beli. Kebanyakan kendaraan ini berasal dari pengalihan kendaraan yang memiliki jaminan fidusia.
Baca juga: Mutasi Polri Terbaru, Dirlantas Polda Metro Jaya hingga Kapolres Metro Depok Digeser
Polisi juga menduga bahwa para pelaku menggunakan data pribadi orang lain untuk mengambil kendaraan dari dealer tanpa melunasinya. Kemudian kendaraan itu dijual kembali ke luar negeri.
"Tersangka tidak dapat menenunjukan bukti kepemilikan yang sah seperti faktur, sertifikat kepemilikan, title kendaraan kemudian juga tersangka tidak bisa membuktikan bukti kepemilikan kendaraan motor yang sudah melekat terhadap kendaraan tersebut perikatan fidusia," sambungnya.
Adapun polisi menerapkan pasal berlapis terhadap WS mulai dari tindak pidana penggelapan hingga tindak pidana pencucian uang. Polisi juga menerapkan pasal tindak pidana penggunaan data pribadi secara ilegal.
"Beberapa dugaan tindak pidana tersangka lakukan di antaranya tindak pidana pemalsuan, penggelapan, penadahan, tindak pidana menjadikan kebiasaan membeli, menukar, menerima jaminan gadai, menyimpan dan menyembunyikan, tindak pidana pencucian uang, penggunaan data pribadi secara melawan hukum," tutur Iman.
Kata Iman, perbuatan tersangka berpotensi menyebabkan negara rugi lantaran tidak mendapatkan pembayaran pajak dari setiap kendaraan motor yang dijual. Perbuatan tersangka juga merugikan masyarakat yang data pribadinya digunakan.
"Juga dapat berpotensi merugikan masyarakat di mana data masyarakat yang digunakan jaringan pelaku untuk mengaktifkan aplikasi, jaminan fidusia atau pinjaman ini masyarakat tidak bisa menggunakan data pribadinya kembali karena data tersebut bermasalah," tandas Iman.
Pantauan SindoNews, sebanyak 1.499 unit kendaraan bermotor terparkir rapi di gudang tersebut. Beberapa di antaranya sudah dibongkar agar bisa diekspor lebih mudah.
Baca juga: Pemotor Halangi Ambulans yang Berujung Perusakan di Depok Jadi Tersangka
Adapun ribuan motor itu terlihat masih dalam kondisi baru. Seluruh kendaraan juga terlihat belum memiliki nomor polisi kendaraan.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddi menjelaskan gudang ini dikelola oleh PT Indo Bike 26. Polisi turut menetapkan Direktur perusahaan tersebut yakni WS menjadi tersangka.
"Kami saat ini sudah menetapkan terhadap salah satu tersangka inisial WS. Kami akan mendalami ini baik dari penyedia, pengepul maupun eksportirnya," ujar Iman kepada wartawan di lokasi, Senin (11/5/2026).
Iman menambahkan ribuan kendaraan ini diduga berasal dari hasil tindak pidana kejahatan lantaran pelaku tidak bisa menunjukkan bukti kepemilikan kendaraan hingga bukti faktur hasil jual beli. Kebanyakan kendaraan ini berasal dari pengalihan kendaraan yang memiliki jaminan fidusia.
Baca juga: Mutasi Polri Terbaru, Dirlantas Polda Metro Jaya hingga Kapolres Metro Depok Digeser
Polisi juga menduga bahwa para pelaku menggunakan data pribadi orang lain untuk mengambil kendaraan dari dealer tanpa melunasinya. Kemudian kendaraan itu dijual kembali ke luar negeri.
"Tersangka tidak dapat menenunjukan bukti kepemilikan yang sah seperti faktur, sertifikat kepemilikan, title kendaraan kemudian juga tersangka tidak bisa membuktikan bukti kepemilikan kendaraan motor yang sudah melekat terhadap kendaraan tersebut perikatan fidusia," sambungnya.
Adapun polisi menerapkan pasal berlapis terhadap WS mulai dari tindak pidana penggelapan hingga tindak pidana pencucian uang. Polisi juga menerapkan pasal tindak pidana penggunaan data pribadi secara ilegal.
"Beberapa dugaan tindak pidana tersangka lakukan di antaranya tindak pidana pemalsuan, penggelapan, penadahan, tindak pidana menjadikan kebiasaan membeli, menukar, menerima jaminan gadai, menyimpan dan menyembunyikan, tindak pidana pencucian uang, penggunaan data pribadi secara melawan hukum," tutur Iman.
Kata Iman, perbuatan tersangka berpotensi menyebabkan negara rugi lantaran tidak mendapatkan pembayaran pajak dari setiap kendaraan motor yang dijual. Perbuatan tersangka juga merugikan masyarakat yang data pribadinya digunakan.
"Juga dapat berpotensi merugikan masyarakat di mana data masyarakat yang digunakan jaringan pelaku untuk mengaktifkan aplikasi, jaminan fidusia atau pinjaman ini masyarakat tidak bisa menggunakan data pribadinya kembali karena data tersebut bermasalah," tandas Iman.
(shf)
Lihat Juga :