Banjir Bogor dan Jakarta: Alarm Keras Transformasi Tata Kota Berbasis Air
Selasa, 05 Mei 2026 - 18:17 WIB
loading...
A
A
A
Namun demikian, banjir akibat luapan sungai bukan berarti dapat diabaikan. Erbi menekankan bahwa tata kelola sempadan sungai juga memegang peranan penting dalam mengurangi risiko banjir.
Baca juga: 7 Desa di Kabupaten Bogor Terendam Banjir, 1.614 Jiwa Terdampak
“Perlu disadari bahwa kondisi sempadan sungai yang tidak tertata dengan baik, ditambah dengan faktor sedimentasi, turut berkontribusi terhadap menurunnya kapasitas tampung sungai dan meningkatkan potensi luapan. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan sempadan sungai harus menjadi bagian integral dari perencanaan perkotaan, meskipun saat ini kewenangannya sebagian masih berada di bawah institusi seperti Balai Wilayah Sungai (BWS),” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Erbi menekankan pentingnya penerapan konsep blue-green infrastructure, yaitu integrasi antara sistem pengelolaan air dan ruang terbuka hijau dalam perencanaan kota. Pendekatan ini memungkinkan kota untuk meningkatkan kapasitas dalam menyerap, menahan, dan mengalirkan air secara lebih alami.
“Ruang terbuka hijau multifungsi—seperti taman kota yang berfungsi sebagai area retensi saat hujan—merupakan solusi yang tidak hanya meningkatkan ketahanan terhadap banjir, tetapi juga memberikan manfaat ekologis dan sosial,” jelasnya. Konsep seperti sponge city juga menjadi referensi penting dalam memperkuat daya serap kawasan perkotaan terhadap air hujan.
Selain aspek teknis dan perencanaan, Erbi juga menyoroti dimensi sosial yang tidak kalah penting dalam pengelolaan risiko banjir. Ia menegaskan bahwa upaya penanganan banjir tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pemerintah, melainkan membutuhkan perubahan perilaku dan kesadaran kolektif masyarakat.
Baca juga: 7 Desa di Kabupaten Bogor Terendam Banjir, 1.614 Jiwa Terdampak
“Perlu disadari bahwa kondisi sempadan sungai yang tidak tertata dengan baik, ditambah dengan faktor sedimentasi, turut berkontribusi terhadap menurunnya kapasitas tampung sungai dan meningkatkan potensi luapan. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan sempadan sungai harus menjadi bagian integral dari perencanaan perkotaan, meskipun saat ini kewenangannya sebagian masih berada di bawah institusi seperti Balai Wilayah Sungai (BWS),” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, Erbi menekankan pentingnya penerapan konsep blue-green infrastructure, yaitu integrasi antara sistem pengelolaan air dan ruang terbuka hijau dalam perencanaan kota. Pendekatan ini memungkinkan kota untuk meningkatkan kapasitas dalam menyerap, menahan, dan mengalirkan air secara lebih alami.
“Ruang terbuka hijau multifungsi—seperti taman kota yang berfungsi sebagai area retensi saat hujan—merupakan solusi yang tidak hanya meningkatkan ketahanan terhadap banjir, tetapi juga memberikan manfaat ekologis dan sosial,” jelasnya. Konsep seperti sponge city juga menjadi referensi penting dalam memperkuat daya serap kawasan perkotaan terhadap air hujan.
Selain aspek teknis dan perencanaan, Erbi juga menyoroti dimensi sosial yang tidak kalah penting dalam pengelolaan risiko banjir. Ia menegaskan bahwa upaya penanganan banjir tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pemerintah, melainkan membutuhkan perubahan perilaku dan kesadaran kolektif masyarakat.
Lihat Juga :