Banjir Bogor dan Jakarta: Alarm Keras Transformasi Tata Kota Berbasis Air
Selasa, 05 Mei 2026 - 18:17 WIB
loading...
A
A
A
“Dari sisi sosial, penting untuk dipahami bahwa sistem drainase perkotaan saat ini juga terbebani oleh tingginya volume sampah. Banyak saluran air yang tersumbat, sehingga kapasitas alirannya menurun secara signifikan,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan pola dalam pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan komunitas menjadi bagian integral dari solusi jangka panjang.
“Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta penguatan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan, merupakan prasyarat penting dalam menjaga fungsi infrastruktur drainase. Tanpa itu, peningkatan kapasitas teknis sekalipun tidak akan optimal,” tambahnya.
Fenomena banjir yang berulang di kawasan dengan curah hujan tinggi seperti Bogor dan Jakarta, lanjut Erbi, seharusnya menjadi momentum reflektif bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Diperlukan pergeseran paradigma dari sekadar pengendalian air menuju pengelolaan air yang terintegrasi, adaptif, dan partisipatif. Penataan ruang yang mengedepankan fungsi resapan air, pengelolaan sempadan sungai yang berkelanjutan, serta perilaku masyarakat yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, harus menjadi fondasi utama pembangunan kota ke depan,” tegasnya.
Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan kota terhadap risiko hidrometeorologis, sekaligus mendorong terciptanya sistem perkotaan yang lebih berkelanjutan dan berbasis bukti ilmiah.
Menurutnya, perubahan pola dalam pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan komunitas menjadi bagian integral dari solusi jangka panjang.
“Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta penguatan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan, merupakan prasyarat penting dalam menjaga fungsi infrastruktur drainase. Tanpa itu, peningkatan kapasitas teknis sekalipun tidak akan optimal,” tambahnya.
Fenomena banjir yang berulang di kawasan dengan curah hujan tinggi seperti Bogor dan Jakarta, lanjut Erbi, seharusnya menjadi momentum reflektif bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Diperlukan pergeseran paradigma dari sekadar pengendalian air menuju pengelolaan air yang terintegrasi, adaptif, dan partisipatif. Penataan ruang yang mengedepankan fungsi resapan air, pengelolaan sempadan sungai yang berkelanjutan, serta perilaku masyarakat yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, harus menjadi fondasi utama pembangunan kota ke depan,” tegasnya.
Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan kota terhadap risiko hidrometeorologis, sekaligus mendorong terciptanya sistem perkotaan yang lebih berkelanjutan dan berbasis bukti ilmiah.
(shf)
Lihat Juga :