Abaikan Protokol Kesehatan, Warga Rebutan Bantuan Air Bersih
Minggu, 20 September 2020 - 08:56 WIB
loading...
Warga senang mendapat bantuan air bersih. Sayangnya mereka mengabaikan protokol kesehatan. FOTO : iNews.tv/Iskandar Nasution
A
A
A
CILEGON - Kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah ibu-ibu di Kampung Tembulun Kelurahan Mekarsari, Cilegon , Banten, Minggu, (20/9/2020). Keceriaan tampak di wajah mereka, karena mereka baru saja mendapatkan bantuan air bersih dari para relawan, Keluarga Besar Merak Banten (KBMB).
Sudah lebih dari tiga bulan lamanya, wilayah tembulun yang dihuni 245 kepala keluarga tersebut, mengalami krisis air bersih karena kemarau yang berkepanjangan. Bahkan untuk mendapatkan air, mereka harus rela berjalan kaki, menyusuri perbukitan, dengan berjalan kaki hingga hampir satu kilometer. (Baca juga : Pacari Janda hingga Hamil, Pria di Serang Racuni Kekasih dengan Racun Tikus )
Tinggal di daerah perbukitan, memaksa mereka untuk naik turun gunung untuk mendapatkan air bersih. Apalagi sumur yang menjadi sumebr air warga, kini telah mengering akibat tidak ada turun hujan.
Namun di tengah pandemi COVID-19, warga ternyata lebih takut tidak kebagian air, ketimbang terpapar virus. Mereka tampak berkerumun tanpa mengenakan masker, saat mengambil air di drum raksasa temapt penampungan air. Warga tampak tidak perduli jika saat ini, jumlah korban positif COVID-19, di kota Cilegon terus bertambah.(Baca juga : Upacara Bendera di Bukit Teletubbies, Lurah Suralaya: Tak Ada Pelarangan )
Mela (32), mengatakan jika mereka sangat membutuhkan air bersih, untuk kebutuhan mandi,cuci dan kakus.”Saat ini kami sangat membutuhkan air bersih, untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus. Saat ini warga selalu menggunakan air dari sumur yang kini mulai mengering. Sementara untuk kebutuhan air bersih atau air minum, kami beli ke penjual air, seharga Rp2 ribu perjeriken,"ujarnya.
Sudah lebih dari tiga bulan lamanya, wilayah tembulun yang dihuni 245 kepala keluarga tersebut, mengalami krisis air bersih karena kemarau yang berkepanjangan. Bahkan untuk mendapatkan air, mereka harus rela berjalan kaki, menyusuri perbukitan, dengan berjalan kaki hingga hampir satu kilometer. (Baca juga : Pacari Janda hingga Hamil, Pria di Serang Racuni Kekasih dengan Racun Tikus )
Tinggal di daerah perbukitan, memaksa mereka untuk naik turun gunung untuk mendapatkan air bersih. Apalagi sumur yang menjadi sumebr air warga, kini telah mengering akibat tidak ada turun hujan.
Namun di tengah pandemi COVID-19, warga ternyata lebih takut tidak kebagian air, ketimbang terpapar virus. Mereka tampak berkerumun tanpa mengenakan masker, saat mengambil air di drum raksasa temapt penampungan air. Warga tampak tidak perduli jika saat ini, jumlah korban positif COVID-19, di kota Cilegon terus bertambah.(Baca juga : Upacara Bendera di Bukit Teletubbies, Lurah Suralaya: Tak Ada Pelarangan )
Mela (32), mengatakan jika mereka sangat membutuhkan air bersih, untuk kebutuhan mandi,cuci dan kakus.”Saat ini kami sangat membutuhkan air bersih, untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus. Saat ini warga selalu menggunakan air dari sumur yang kini mulai mengering. Sementara untuk kebutuhan air bersih atau air minum, kami beli ke penjual air, seharga Rp2 ribu perjeriken,"ujarnya.
Lihat Juga :