Lampu Suar dan Jangkar Kapal, Jejak Dahsyatnya Letusan Krakatau di Bandar Lampung
Minggu, 20 September 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi efusif berupa aliran lava. Di fase-fase awal pembentukan, yaitu menjelang muncul di permukaan sampai sekitar 1935, letusan berupa letusan Surtseyan karena posisi kawah masih sangat rendah, yaitu level permukaan air laut.
Letusan Strombolin terjadi pada 20 Juni 2016 dan 19 Februari 2017. Sedangkan pada 2018, Gunung Anak Krakatau kembali meletus sejak 29 Juni 2018 sampai saat ini. Sebagaimana biasa, letusan itu berupa letusan-letusan strombolian.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di pantai dengan pemasangan beberapa stasiun seismik di lereng Gunung Anak Krakata dan juga di lokasi di Pulau Sertung, di barat daya Gunung Anak Krakatau.
Stasiun seismik di Gunung Anak Krakatau penting untuk mendeteksi perubahan fase tenang dan erupsi. Sebab, di awal akan tercatat gempa-gempa vulkanik berukuran kecil yang sulit tercatat di stasiun seismik lebih jauh.
Namun demikian, pada saat aktivitas pada level tinggi, stasiun di Pulau Sertung akan mengambil alih karena pada saat aktivitas tinggi, amplitudo kegempaan cukup besar sehingga tercatat di Pulau Sertung dengan jelas.
Hasil Pengamatan Seismik dan Visual Gunung Anak Krakatau periode aktivitas 2018:
Juni 2018: Kegempaan dicirikan dengan munculnya gempa-gempa vulkanik dalam dan dangkal
Juli 2018: Diawali dengan embusan-embusan asap dari kawah, kemudian diikuti dengan seri letusan-letusan.
Agustus 2018: Aktivitas letusan terus berlangsung dengan jumlah letusan bervariasi dari seratus sampai 400 per hari.
September 2018: Puncak letusan dengan amplitudo sinyal gempa maksimal dan dengan letusan terus menerus.
Oktober-November 2018: Fase aktivitas menurun yang ditunjukkan dengan jumlah letusan berkurang.
22 Desember pukul 20.56 WIB: Rekaman menunjukkan gempa pukul 20.55 WIB. Gempa ini juga tercatat di stasiun seismik Gunung Gede Cianjur. Karena tercatat sampai Gunung Gede, dapat disimpulkan bahwa gempa ini bukan gempa permukaan.
22 Desember pukul 20.58 WIB: Tercatat sinyal-sinyal guguran mulai pukul 20.58 WIB. Ada kemungkinan longsor terjadi karena dipicu gempabumi.
22 Desember pukul 21.03 WIB: Stasiun seismik Gunung Anak Krakatau mati. Diperkirakan tertimpa letusan.
24-27 Desember 2018: Terjadi letusan yang menerus disertai dentuman atau gelegar suara letusan yang terdengar sampai di Pos Pasauran. Di level tertinggi, jumlah dentuman mencapai 14 kali per menit atau sekitar 5 detik sekali.
26 Desember 2018, pukul 12.15 WIB: Mulai letusan-letusan besar dengan diikuti hujan abu.
27 Desember 06.00 WIB: Status Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari level Siaga menjadi Waspada, dengan rekomendasi yang semula larangan dalam radius 2 km dari Gunung Anak Krakatau menjadi radius 5 km dari Gunung Anak Krakatau.
Radius 5 km di lapangan adalah berada di dalam kompleks Gunung Anak Krakatau yang dibatasi Pulau Rakata, Sertung, dan Panjang.
27 Desember 2018 sekitar pukul 23.00 WIB: Perubahan sinyal kegempaan yang tiba-tiba mengecil, frekuensi menjadi lebih tinggi. Demikian juga sinyal letusan berkurang. Dan sejak saat ini tidak terdengar lagi dentuman gelegar letusan sampai sekarang.
Dentuman dan tidak ada dentuman karena perubahan posisi pusat letusan dari di atas permukaan laut (udara) ke bawah permukaan laut.
28 Desember 2018 pukul 14.18 WIB: Dengan sedikit membaiknya cuaca, teramati bahwa tinggi Gunung Anak Krakatau tinggal 110M dpl dari sebelumnya 338 M dpl. Tubuh puncak Gunung Anak Krakatau hilang. (sebagian diletuskan dan menimbulkan hujan abu dan tentunya longsor pada 26 Desember 2018.
29-30 Desember: Letusan-letusan terjadi dengan jumlah yang minim (2 jam sekali). Secara visual, letusan berupa letusan jenis Surtseyan, yaitu magma yang keluar langsung menyentuh air.
Letusan Strombolin terjadi pada 20 Juni 2016 dan 19 Februari 2017. Sedangkan pada 2018, Gunung Anak Krakatau kembali meletus sejak 29 Juni 2018 sampai saat ini. Sebagaimana biasa, letusan itu berupa letusan-letusan strombolian.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di pantai dengan pemasangan beberapa stasiun seismik di lereng Gunung Anak Krakata dan juga di lokasi di Pulau Sertung, di barat daya Gunung Anak Krakatau.
Stasiun seismik di Gunung Anak Krakatau penting untuk mendeteksi perubahan fase tenang dan erupsi. Sebab, di awal akan tercatat gempa-gempa vulkanik berukuran kecil yang sulit tercatat di stasiun seismik lebih jauh.
Namun demikian, pada saat aktivitas pada level tinggi, stasiun di Pulau Sertung akan mengambil alih karena pada saat aktivitas tinggi, amplitudo kegempaan cukup besar sehingga tercatat di Pulau Sertung dengan jelas.
Hasil Pengamatan Seismik dan Visual Gunung Anak Krakatau periode aktivitas 2018:
Juni 2018: Kegempaan dicirikan dengan munculnya gempa-gempa vulkanik dalam dan dangkal
Juli 2018: Diawali dengan embusan-embusan asap dari kawah, kemudian diikuti dengan seri letusan-letusan.
Agustus 2018: Aktivitas letusan terus berlangsung dengan jumlah letusan bervariasi dari seratus sampai 400 per hari.
September 2018: Puncak letusan dengan amplitudo sinyal gempa maksimal dan dengan letusan terus menerus.
Oktober-November 2018: Fase aktivitas menurun yang ditunjukkan dengan jumlah letusan berkurang.
22 Desember pukul 20.56 WIB: Rekaman menunjukkan gempa pukul 20.55 WIB. Gempa ini juga tercatat di stasiun seismik Gunung Gede Cianjur. Karena tercatat sampai Gunung Gede, dapat disimpulkan bahwa gempa ini bukan gempa permukaan.
22 Desember pukul 20.58 WIB: Tercatat sinyal-sinyal guguran mulai pukul 20.58 WIB. Ada kemungkinan longsor terjadi karena dipicu gempabumi.
22 Desember pukul 21.03 WIB: Stasiun seismik Gunung Anak Krakatau mati. Diperkirakan tertimpa letusan.
24-27 Desember 2018: Terjadi letusan yang menerus disertai dentuman atau gelegar suara letusan yang terdengar sampai di Pos Pasauran. Di level tertinggi, jumlah dentuman mencapai 14 kali per menit atau sekitar 5 detik sekali.
26 Desember 2018, pukul 12.15 WIB: Mulai letusan-letusan besar dengan diikuti hujan abu.
27 Desember 06.00 WIB: Status Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari level Siaga menjadi Waspada, dengan rekomendasi yang semula larangan dalam radius 2 km dari Gunung Anak Krakatau menjadi radius 5 km dari Gunung Anak Krakatau.
Radius 5 km di lapangan adalah berada di dalam kompleks Gunung Anak Krakatau yang dibatasi Pulau Rakata, Sertung, dan Panjang.
27 Desember 2018 sekitar pukul 23.00 WIB: Perubahan sinyal kegempaan yang tiba-tiba mengecil, frekuensi menjadi lebih tinggi. Demikian juga sinyal letusan berkurang. Dan sejak saat ini tidak terdengar lagi dentuman gelegar letusan sampai sekarang.
Dentuman dan tidak ada dentuman karena perubahan posisi pusat letusan dari di atas permukaan laut (udara) ke bawah permukaan laut.
28 Desember 2018 pukul 14.18 WIB: Dengan sedikit membaiknya cuaca, teramati bahwa tinggi Gunung Anak Krakatau tinggal 110M dpl dari sebelumnya 338 M dpl. Tubuh puncak Gunung Anak Krakatau hilang. (sebagian diletuskan dan menimbulkan hujan abu dan tentunya longsor pada 26 Desember 2018.
29-30 Desember: Letusan-letusan terjadi dengan jumlah yang minim (2 jam sekali). Secara visual, letusan berupa letusan jenis Surtseyan, yaitu magma yang keluar langsung menyentuh air.
(awd)
Lihat Juga :