Pengasuh Mamba'ul Ma'arif Jombang: Sumber Kekayaan yang Memenuhi Hajat Rakyat Harus Dikuasai Negara
Minggu, 29 Maret 2026 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Perintah Prabowo, Sekolah Rakyat Tambahan Dibuka April 2026
"NU turut melahirkan negara, tidak mungkin mengkhianatinya, tapi menjaganya," tutur Katib PBNU priode 2015-2018 itu.
Ketua Pengurus Harian Yayasan Gerak Pengabdian Santri Indonesia (GPSI) menambahkan, sebagai kekuatan civil society, NU turut membidani gerakan Reformasi 1998; berharap perubahan sebagaimana amanat UUD NKRI 1945.
Tapi Reformasi dibajak oleh kekuatan global melalui para proxy, sehingga sendi-sendi bernegara dan bermasyarakat digeser serta berubah sifatnya menjadi liberalistik dan kapitalistik atas nama demokrasi.
"Posisi NU sebagai civil society terbawa arus perubahan. Walau sempat menyadarinya, namun karena faktor internal dan eksternal membuat daya tahan NU, melemah. Puncaknya pada kepemimpinan PBNU 2021-2026 yang penuh gejolak atas nama kepatuhan jam’iyyah dengan ragam isu negatif yang melemahkan marwah dan kebesaran jam’iyyah NU," ucapnya.
Menurut Gus Salam, pragmatisme kepengurusan melemahkan idealisme, pengeroposan etika dan moralitas, menonjolkan individualisme dan relativitas, serta berpikir sumbu pendek. Perwatakan sebagian pemimpin NU tidak jauh dari perwatakan politisi, aparatur dan pejabat yang mulai menampakkan sikap arogan, superior dan otoriter.
"Bisa dibayangkan masa depan khidmat dalam kepemimpinan NU? Pergeseran dan perubahan demikian di dalam NU berdampak luas dan menyebar hingga ke kultur dan akar jam’iyyah; pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan," paparnya.
"NU turut melahirkan negara, tidak mungkin mengkhianatinya, tapi menjaganya," tutur Katib PBNU priode 2015-2018 itu.
Ketua Pengurus Harian Yayasan Gerak Pengabdian Santri Indonesia (GPSI) menambahkan, sebagai kekuatan civil society, NU turut membidani gerakan Reformasi 1998; berharap perubahan sebagaimana amanat UUD NKRI 1945.
Tapi Reformasi dibajak oleh kekuatan global melalui para proxy, sehingga sendi-sendi bernegara dan bermasyarakat digeser serta berubah sifatnya menjadi liberalistik dan kapitalistik atas nama demokrasi.
"Posisi NU sebagai civil society terbawa arus perubahan. Walau sempat menyadarinya, namun karena faktor internal dan eksternal membuat daya tahan NU, melemah. Puncaknya pada kepemimpinan PBNU 2021-2026 yang penuh gejolak atas nama kepatuhan jam’iyyah dengan ragam isu negatif yang melemahkan marwah dan kebesaran jam’iyyah NU," ucapnya.
Menurut Gus Salam, pragmatisme kepengurusan melemahkan idealisme, pengeroposan etika dan moralitas, menonjolkan individualisme dan relativitas, serta berpikir sumbu pendek. Perwatakan sebagian pemimpin NU tidak jauh dari perwatakan politisi, aparatur dan pejabat yang mulai menampakkan sikap arogan, superior dan otoriter.
"Bisa dibayangkan masa depan khidmat dalam kepemimpinan NU? Pergeseran dan perubahan demikian di dalam NU berdampak luas dan menyebar hingga ke kultur dan akar jam’iyyah; pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan," paparnya.