Pengasuh Mamba'ul Ma'arif Jombang: Sumber Kekayaan yang Memenuhi Hajat Rakyat Harus Dikuasai Negara
Minggu, 29 Maret 2026 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Gus Salam menyebut, kreativitas-inovatif dari warga dan kader NU di berbagai bidang dan sektor untuk membangun kemandirian dan kedaulatan jam’iyyah mulai stagnan, kehilangan arah dan motivasi. "Bisa dibayangkan masa depan kekuatan jam’iyyah akan lunglai-melemah," ucapnya.
Selain itu, NU tidak boleh melemah karena virus, bakteri dan toxic dari internalnya. Sebaliknya, NU harus sehat, kuat dan mandiri dari dalam untuk menjaga kedaulatannya. NU harus kembali menjadi pelopor kemandirian, kesehatan berjam’iyyah-bermasyarakat, dan kedaulatan bernegara-bangsa demi keluhuran Islam Aswaja dan kebesaran nusantara.
"Muktamar ke-35 NU, Agustus-September 2026 yang didahului Konbes PBNU dan Munas Alim Ulama, April-Mei 2026 menjadi momentum bagi ulama dan kiai pesantren, struktural dan kader NU untuk menata dan membangkitkan jam’iyyah NU secara arif dan bijak. Bukan saatnya menunjukkan arogansi, tapi militansi khidmat demi masa depan umat," katanya.
Gus Salam mengatakan, Jam’iyyah NU harus mengambil peluang untuk bangkit menjadi sehat-kuat-mandiri supaya tetap bisa menjaga dan menopang NKRI. Demikian pula, kedaulatan dan kemandirian NKRI harus dikembalikan dengan penegasan landasan dan haluan dasar bernegara, supaya bisa turut serta menciptakan perdamaian dunia demi keadilan dan kemanusiaan.
"Idulfitri saatnya kembali ke jati diri, moment refleksi. Membangun kesadaran baru tata kehidupan, dalam dimensi global, nasional, maupun lingkup kemasyarakatan, terutama konteks berjam’iyyah di NU," ungkap dia.
Di dalam tiga dimensi kehidupan itu, kini tersedia gambaran untuk dipelajari oleh mereka yang berwawasan dan kritis melihatnya. Pesan ‘fa’tabiruu ya ulil albab’, supaya kita mendapati kembali iktiar menuju perabadan manusia yang mulia. Supaya ‘itqun min an-nar; terbebas dari dorongan menuju kerusakan dan keburukan membangun peradaban.
Selain itu, NU tidak boleh melemah karena virus, bakteri dan toxic dari internalnya. Sebaliknya, NU harus sehat, kuat dan mandiri dari dalam untuk menjaga kedaulatannya. NU harus kembali menjadi pelopor kemandirian, kesehatan berjam’iyyah-bermasyarakat, dan kedaulatan bernegara-bangsa demi keluhuran Islam Aswaja dan kebesaran nusantara.
"Muktamar ke-35 NU, Agustus-September 2026 yang didahului Konbes PBNU dan Munas Alim Ulama, April-Mei 2026 menjadi momentum bagi ulama dan kiai pesantren, struktural dan kader NU untuk menata dan membangkitkan jam’iyyah NU secara arif dan bijak. Bukan saatnya menunjukkan arogansi, tapi militansi khidmat demi masa depan umat," katanya.
Gus Salam mengatakan, Jam’iyyah NU harus mengambil peluang untuk bangkit menjadi sehat-kuat-mandiri supaya tetap bisa menjaga dan menopang NKRI. Demikian pula, kedaulatan dan kemandirian NKRI harus dikembalikan dengan penegasan landasan dan haluan dasar bernegara, supaya bisa turut serta menciptakan perdamaian dunia demi keadilan dan kemanusiaan.
"Idulfitri saatnya kembali ke jati diri, moment refleksi. Membangun kesadaran baru tata kehidupan, dalam dimensi global, nasional, maupun lingkup kemasyarakatan, terutama konteks berjam’iyyah di NU," ungkap dia.
Di dalam tiga dimensi kehidupan itu, kini tersedia gambaran untuk dipelajari oleh mereka yang berwawasan dan kritis melihatnya. Pesan ‘fa’tabiruu ya ulil albab’, supaya kita mendapati kembali iktiar menuju perabadan manusia yang mulia. Supaya ‘itqun min an-nar; terbebas dari dorongan menuju kerusakan dan keburukan membangun peradaban.
(shf)