Pengasuh Mamba'ul Ma'arif Jombang: Sumber Kekayaan yang Memenuhi Hajat Rakyat Harus Dikuasai Negara
Minggu, 29 Maret 2026 - 17:56 WIB
loading...
Pengasuh Ponpes Mamba’ul Ma’arif Jombang KH Abdussalam Shohib menegaskan, sumber kekayaan strategis yang memenuhi hajat rakyat banyak harus dikuasa negara. Foto/Ist
A
A
A
JOMBANG - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur (Jatim) KH Abdussalam Shohib menegaskan, sumber-sumber kekayaan strategis negara yang memenuhi hajat rakyat banyak harus dikuasai, dikelola, dan dikendalikan secara mandiri oleh negara. Hal itu supaya tidak ada monopoli, manipulasi hingga terbentuk oligarki.
"Ekonomi berbasis gotong royong dan kreativitas inovatif diarus utamakan dan diarahkan agar terjadi pemerataan; tidak konglomerasi pada segelintir orang," ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Baca juga: Gus Salam Usulkan Lembaga Permusyawaratan Syuriah untuk Perkuat NU di Masa Depan
Bidang pendidikan dan penelitian di Indonesia, lanjut Gus Salam - sapaan akrab KH Abdussalam Shohib, harus menjadi prioritas secara adil hingga perguruan tinggi. "Kejayaan peradaban Nusantara bisa kembali dengan investasi sumber daya manusia (SDM) unggul," katanya.
Menurut Gus Salam, pejabat dan birokrasi harus pandai berpuasa, menahan kemewahan, dan kenyamanan demi masa depan bangsa. Sebaliknya, menguatkan khidmat demi masa depan negara bangsa.
Gus Salam menegaskan komitmen Nahdlatul Ulama (NU) untuk kedaulatan dan kemandirian Indonesia, telah diukir dalam sejarah. Komitmen itu tidak akan berkurang sedikitpun karena menyatu dalam keyakinan beragama, sistem berpikir dan orientasi NU dalam bernegara-bangsa dan bermasyarakat.
Baca juga: Perintah Prabowo, Sekolah Rakyat Tambahan Dibuka April 2026
"NU turut melahirkan negara, tidak mungkin mengkhianatinya, tapi menjaganya," tutur Katib PBNU priode 2015-2018 itu.
Ketua Pengurus Harian Yayasan Gerak Pengabdian Santri Indonesia (GPSI) menambahkan, sebagai kekuatan civil society, NU turut membidani gerakan Reformasi 1998; berharap perubahan sebagaimana amanat UUD NKRI 1945.
Tapi Reformasi dibajak oleh kekuatan global melalui para proxy, sehingga sendi-sendi bernegara dan bermasyarakat digeser serta berubah sifatnya menjadi liberalistik dan kapitalistik atas nama demokrasi.
"Posisi NU sebagai civil society terbawa arus perubahan. Walau sempat menyadarinya, namun karena faktor internal dan eksternal membuat daya tahan NU, melemah. Puncaknya pada kepemimpinan PBNU 2021-2026 yang penuh gejolak atas nama kepatuhan jam’iyyah dengan ragam isu negatif yang melemahkan marwah dan kebesaran jam’iyyah NU," ucapnya.
Menurut Gus Salam, pragmatisme kepengurusan melemahkan idealisme, pengeroposan etika dan moralitas, menonjolkan individualisme dan relativitas, serta berpikir sumbu pendek. Perwatakan sebagian pemimpin NU tidak jauh dari perwatakan politisi, aparatur dan pejabat yang mulai menampakkan sikap arogan, superior dan otoriter.
"Bisa dibayangkan masa depan khidmat dalam kepemimpinan NU? Pergeseran dan perubahan demikian di dalam NU berdampak luas dan menyebar hingga ke kultur dan akar jam’iyyah; pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan," paparnya.
Gus Salam menyebut, kreativitas-inovatif dari warga dan kader NU di berbagai bidang dan sektor untuk membangun kemandirian dan kedaulatan jam’iyyah mulai stagnan, kehilangan arah dan motivasi. "Bisa dibayangkan masa depan kekuatan jam’iyyah akan lunglai-melemah," ucapnya.
Selain itu, NU tidak boleh melemah karena virus, bakteri dan toxic dari internalnya. Sebaliknya, NU harus sehat, kuat dan mandiri dari dalam untuk menjaga kedaulatannya. NU harus kembali menjadi pelopor kemandirian, kesehatan berjam’iyyah-bermasyarakat, dan kedaulatan bernegara-bangsa demi keluhuran Islam Aswaja dan kebesaran nusantara.
"Muktamar ke-35 NU, Agustus-September 2026 yang didahului Konbes PBNU dan Munas Alim Ulama, April-Mei 2026 menjadi momentum bagi ulama dan kiai pesantren, struktural dan kader NU untuk menata dan membangkitkan jam’iyyah NU secara arif dan bijak. Bukan saatnya menunjukkan arogansi, tapi militansi khidmat demi masa depan umat," katanya.
Gus Salam mengatakan, Jam’iyyah NU harus mengambil peluang untuk bangkit menjadi sehat-kuat-mandiri supaya tetap bisa menjaga dan menopang NKRI. Demikian pula, kedaulatan dan kemandirian NKRI harus dikembalikan dengan penegasan landasan dan haluan dasar bernegara, supaya bisa turut serta menciptakan perdamaian dunia demi keadilan dan kemanusiaan.
"Idulfitri saatnya kembali ke jati diri, moment refleksi. Membangun kesadaran baru tata kehidupan, dalam dimensi global, nasional, maupun lingkup kemasyarakatan, terutama konteks berjam’iyyah di NU," ungkap dia.
Di dalam tiga dimensi kehidupan itu, kini tersedia gambaran untuk dipelajari oleh mereka yang berwawasan dan kritis melihatnya. Pesan ‘fa’tabiruu ya ulil albab’, supaya kita mendapati kembali iktiar menuju perabadan manusia yang mulia. Supaya ‘itqun min an-nar; terbebas dari dorongan menuju kerusakan dan keburukan membangun peradaban.
"Ekonomi berbasis gotong royong dan kreativitas inovatif diarus utamakan dan diarahkan agar terjadi pemerataan; tidak konglomerasi pada segelintir orang," ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Baca juga: Gus Salam Usulkan Lembaga Permusyawaratan Syuriah untuk Perkuat NU di Masa Depan
Bidang pendidikan dan penelitian di Indonesia, lanjut Gus Salam - sapaan akrab KH Abdussalam Shohib, harus menjadi prioritas secara adil hingga perguruan tinggi. "Kejayaan peradaban Nusantara bisa kembali dengan investasi sumber daya manusia (SDM) unggul," katanya.
Menurut Gus Salam, pejabat dan birokrasi harus pandai berpuasa, menahan kemewahan, dan kenyamanan demi masa depan bangsa. Sebaliknya, menguatkan khidmat demi masa depan negara bangsa.
Gus Salam menegaskan komitmen Nahdlatul Ulama (NU) untuk kedaulatan dan kemandirian Indonesia, telah diukir dalam sejarah. Komitmen itu tidak akan berkurang sedikitpun karena menyatu dalam keyakinan beragama, sistem berpikir dan orientasi NU dalam bernegara-bangsa dan bermasyarakat.
Baca juga: Perintah Prabowo, Sekolah Rakyat Tambahan Dibuka April 2026
"NU turut melahirkan negara, tidak mungkin mengkhianatinya, tapi menjaganya," tutur Katib PBNU priode 2015-2018 itu.
Ketua Pengurus Harian Yayasan Gerak Pengabdian Santri Indonesia (GPSI) menambahkan, sebagai kekuatan civil society, NU turut membidani gerakan Reformasi 1998; berharap perubahan sebagaimana amanat UUD NKRI 1945.
Tapi Reformasi dibajak oleh kekuatan global melalui para proxy, sehingga sendi-sendi bernegara dan bermasyarakat digeser serta berubah sifatnya menjadi liberalistik dan kapitalistik atas nama demokrasi.
"Posisi NU sebagai civil society terbawa arus perubahan. Walau sempat menyadarinya, namun karena faktor internal dan eksternal membuat daya tahan NU, melemah. Puncaknya pada kepemimpinan PBNU 2021-2026 yang penuh gejolak atas nama kepatuhan jam’iyyah dengan ragam isu negatif yang melemahkan marwah dan kebesaran jam’iyyah NU," ucapnya.
Menurut Gus Salam, pragmatisme kepengurusan melemahkan idealisme, pengeroposan etika dan moralitas, menonjolkan individualisme dan relativitas, serta berpikir sumbu pendek. Perwatakan sebagian pemimpin NU tidak jauh dari perwatakan politisi, aparatur dan pejabat yang mulai menampakkan sikap arogan, superior dan otoriter.
"Bisa dibayangkan masa depan khidmat dalam kepemimpinan NU? Pergeseran dan perubahan demikian di dalam NU berdampak luas dan menyebar hingga ke kultur dan akar jam’iyyah; pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan," paparnya.
Gus Salam menyebut, kreativitas-inovatif dari warga dan kader NU di berbagai bidang dan sektor untuk membangun kemandirian dan kedaulatan jam’iyyah mulai stagnan, kehilangan arah dan motivasi. "Bisa dibayangkan masa depan kekuatan jam’iyyah akan lunglai-melemah," ucapnya.
Selain itu, NU tidak boleh melemah karena virus, bakteri dan toxic dari internalnya. Sebaliknya, NU harus sehat, kuat dan mandiri dari dalam untuk menjaga kedaulatannya. NU harus kembali menjadi pelopor kemandirian, kesehatan berjam’iyyah-bermasyarakat, dan kedaulatan bernegara-bangsa demi keluhuran Islam Aswaja dan kebesaran nusantara.
"Muktamar ke-35 NU, Agustus-September 2026 yang didahului Konbes PBNU dan Munas Alim Ulama, April-Mei 2026 menjadi momentum bagi ulama dan kiai pesantren, struktural dan kader NU untuk menata dan membangkitkan jam’iyyah NU secara arif dan bijak. Bukan saatnya menunjukkan arogansi, tapi militansi khidmat demi masa depan umat," katanya.
Gus Salam mengatakan, Jam’iyyah NU harus mengambil peluang untuk bangkit menjadi sehat-kuat-mandiri supaya tetap bisa menjaga dan menopang NKRI. Demikian pula, kedaulatan dan kemandirian NKRI harus dikembalikan dengan penegasan landasan dan haluan dasar bernegara, supaya bisa turut serta menciptakan perdamaian dunia demi keadilan dan kemanusiaan.
"Idulfitri saatnya kembali ke jati diri, moment refleksi. Membangun kesadaran baru tata kehidupan, dalam dimensi global, nasional, maupun lingkup kemasyarakatan, terutama konteks berjam’iyyah di NU," ungkap dia.
Di dalam tiga dimensi kehidupan itu, kini tersedia gambaran untuk dipelajari oleh mereka yang berwawasan dan kritis melihatnya. Pesan ‘fa’tabiruu ya ulil albab’, supaya kita mendapati kembali iktiar menuju perabadan manusia yang mulia. Supaya ‘itqun min an-nar; terbebas dari dorongan menuju kerusakan dan keburukan membangun peradaban.
(shf)