Buruh Angkut Minta Pemerintah Kaji Ulang Larangan Truk Sumbu 3 selama Momen Lebaran
Jum'at, 06 Maret 2026 - 15:20 WIB
loading...
A
A
A
“Saya baru kerja kalau ada sopir truk yang ngajak. Dan bersyukur ada perusahaan minuman di sini sehingga ada lahan pekerjaan buat saya sehingga bisa dapat uang untuk menghidupi keluarga,” ujarnya.
Endi juga menyampaikan penghasilannya sebagai buruh angkut barang paling besar itu hanya Rp100.000 perhari. “Tergantung muatannya. Uang Rp100.000 itu kalau truknya besar. Tapi kalau kecil paling cuma Rp80.000 saja. Tapi lumayanlah masih bisa kerja dan dapat penghasilan,” ucapnya.
Endi mengungkapkan keresahannya jika ada pelarangan terhadap truk sumbu 3 selama 17 hari saat momen Lebaran nanti. “Saya bersama kawan-kawan buruh angkut lainnya pasti bingung harus bagaimana jika kebijakan itu diberlakukan. Kami kan hanya berharap pada pekerjaan itu untuk menghidupi keluarga selama ini. Pasti orderan akan sepi dan tidak ada sopir yang order,” tuturnya.
Endi berharap pemerintah mau mengkaji ulang kebijakan tersebut dan memperhatikan dampaknya terhadap ekonomi para pekerja angkut barang. Dalam keadaan normal saja, kata Endi, hanya mendapat 20 orderan dalam sebulan. Apalagi jika ada pelarangan terhadap truk sumbu 3 atau lebih selama 17 hari nanti.
“Penghasilan pasti jauh berkurang. Padahal sekarang ini apa-apa pada mahal. Apalagi menjelang Lebaran, semua kebutuhan pokok pada naik. Bagaimana nasib keluarga kami para buruh angkut barang ini nantinya,” ungkapnya dengan nada sedih.
Endi juga menyampaikan penghasilannya sebagai buruh angkut barang paling besar itu hanya Rp100.000 perhari. “Tergantung muatannya. Uang Rp100.000 itu kalau truknya besar. Tapi kalau kecil paling cuma Rp80.000 saja. Tapi lumayanlah masih bisa kerja dan dapat penghasilan,” ucapnya.
Endi mengungkapkan keresahannya jika ada pelarangan terhadap truk sumbu 3 selama 17 hari saat momen Lebaran nanti. “Saya bersama kawan-kawan buruh angkut lainnya pasti bingung harus bagaimana jika kebijakan itu diberlakukan. Kami kan hanya berharap pada pekerjaan itu untuk menghidupi keluarga selama ini. Pasti orderan akan sepi dan tidak ada sopir yang order,” tuturnya.
Endi berharap pemerintah mau mengkaji ulang kebijakan tersebut dan memperhatikan dampaknya terhadap ekonomi para pekerja angkut barang. Dalam keadaan normal saja, kata Endi, hanya mendapat 20 orderan dalam sebulan. Apalagi jika ada pelarangan terhadap truk sumbu 3 atau lebih selama 17 hari nanti.
“Penghasilan pasti jauh berkurang. Padahal sekarang ini apa-apa pada mahal. Apalagi menjelang Lebaran, semua kebutuhan pokok pada naik. Bagaimana nasib keluarga kami para buruh angkut barang ini nantinya,” ungkapnya dengan nada sedih.
(cip)
Lihat Juga :