Larangan Truk Sumbu 3 saat Momen Lebaran Berpotensi Ganggu Industri Manufaktur
Kamis, 26 Februari 2026 - 16:58 WIB
loading...
A
A
A
Irsyal memperkirakan ketergantungan suplai karton pada angkutan berkapasitas besar menyebabkan penurunan volume dan keterlambatan pengiriman ketika distribusi harus dialihkan ke truk dua sumbu yang jumlah dan kapasitasnya terbatas. Di sisi lain, rata rata stok kardus di pabrik umumnya dijaga relatif rendah hanya untuk produksi kurang dari satu minggu karena keterbatasan gudang, sehingga hanya mencukupi kebutuhan produksi dalam jangka pendek.
Jadi, dengan masa pembatasan selama 16 hari saat momen Lebaran nanti, risiko kekurangan karton menjadi signifikan dan berpotensi menghambat kelangsungan produksi dan risiko kelangkaan produk AMDK di masa Lebaran.
“Dari sisi finansial, kekurangan stok karton pada produsen AMDK berdampak langsung pada hilangnya potensi penjualan akibat turunnya volume produksi dan pasokan ke pasar, terutama pada periode permintaan tinggi seperti Lebaran,” tukasnya.
Selain itu, perusahaan dapat menanggung biaya tambahan berupa inefisiensi operasional (mesin dan tenaga kerja idle), peningkatan biaya logistik karena penggunaan armada alternatif atau pengiriman darurat, serta potensi penalti atau biaya kompensasi akibat penurunan tingkat layanan kepada distributor.
“Dalam jangka lebih panjang, kekosongan produk di pasar juga berisiko menekan pangsa pasar, serta meningkatkan biaya pemulihan distribusi untuk mengembalikan ketersediaan dan kepercayaan konsumen,” katanya.
Jadi, dengan masa pembatasan selama 16 hari saat momen Lebaran nanti, risiko kekurangan karton menjadi signifikan dan berpotensi menghambat kelangsungan produksi dan risiko kelangkaan produk AMDK di masa Lebaran.
“Dari sisi finansial, kekurangan stok karton pada produsen AMDK berdampak langsung pada hilangnya potensi penjualan akibat turunnya volume produksi dan pasokan ke pasar, terutama pada periode permintaan tinggi seperti Lebaran,” tukasnya.
Selain itu, perusahaan dapat menanggung biaya tambahan berupa inefisiensi operasional (mesin dan tenaga kerja idle), peningkatan biaya logistik karena penggunaan armada alternatif atau pengiriman darurat, serta potensi penalti atau biaya kompensasi akibat penurunan tingkat layanan kepada distributor.
“Dalam jangka lebih panjang, kekosongan produk di pasar juga berisiko menekan pangsa pasar, serta meningkatkan biaya pemulihan distribusi untuk mengembalikan ketersediaan dan kepercayaan konsumen,” katanya.
(shf)
Lihat Juga :