Risalah Cirebon: Rais Aam PBNU Wajib Segera Gelar Muktamar ke-35 NU
Rabu, 21 Januari 2026 - 22:59 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitab al-Asybah wa al-Nadzhair menyebutkan, pentingnya segera keluar dari keruwetan konflik atau polemik adalah agar tidak memunculkan persoalan-persoalan baru yang lain yang dapat menambah konflik dan polemik berkepanjangan.
"Atau konflik yang berkepanjangan akan menimbulkan konflik-konflik baru bermunculan yang harus dihindari," ujarnya.
Karena itu, dalam forum bahtsul masail di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, para kiai mendukung kepada Rais Aam sebagai pimpinan tertinggi PBNU beserta jajaran Suriyah untuk sesegera mungkin untuk menggelar muktamar PBNU.
"Gus Yahya yang sudah dipecat dengan dua alasan yaitu afiliasi zionisme dan tata kelola keuangan yang tidak syar’i tidak boleh lagi mencalonkan dirinya atau dicalonkan oleh pihak lain," katanya.
Para kiai juga merekomendasikan kriteria kepemimpinan ulama yang ideal ke depan bagi PBNU yaitu sosok yang memiliki otoritas keilmuan, wawasan dan pengetahuan yang luas, baik pengetahuan agama (faqih) maupun pengetahuan umum.
Termasuk pengetahuan berorganisasi; otoritas spiritual dan akhlak mulia yang bisa menjadi teladan; zuhud (asketis) alias tidak hubbu ad-dunnya (cinta dunia) dan hubbu al-jah (ambisi jabatan) sebagai ciri ulama su (ulama buruk).
Maksudnya, tidak menggunakan ilmu, jabatan dan organisasi untuk memperkaya diri; Pemimpin harus bisa menempatkan dirinya sebagai khadim (pelayan) organisasi; karismatik; memiliki basis dan pijakan lokal dan nasional.
“Hanya ulama yang punya rasa takut (khasyah) kepada Allah. Rasa takut ini muncul sebagai konsekuensi dari keimanan, keilmuan, spiritualitas dan akhlak yang tertanam kuat di hatinya,” pungkasnya.
"Atau konflik yang berkepanjangan akan menimbulkan konflik-konflik baru bermunculan yang harus dihindari," ujarnya.
Karena itu, dalam forum bahtsul masail di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, para kiai mendukung kepada Rais Aam sebagai pimpinan tertinggi PBNU beserta jajaran Suriyah untuk sesegera mungkin untuk menggelar muktamar PBNU.
"Gus Yahya yang sudah dipecat dengan dua alasan yaitu afiliasi zionisme dan tata kelola keuangan yang tidak syar’i tidak boleh lagi mencalonkan dirinya atau dicalonkan oleh pihak lain," katanya.
Para kiai juga merekomendasikan kriteria kepemimpinan ulama yang ideal ke depan bagi PBNU yaitu sosok yang memiliki otoritas keilmuan, wawasan dan pengetahuan yang luas, baik pengetahuan agama (faqih) maupun pengetahuan umum.
Termasuk pengetahuan berorganisasi; otoritas spiritual dan akhlak mulia yang bisa menjadi teladan; zuhud (asketis) alias tidak hubbu ad-dunnya (cinta dunia) dan hubbu al-jah (ambisi jabatan) sebagai ciri ulama su (ulama buruk).
Maksudnya, tidak menggunakan ilmu, jabatan dan organisasi untuk memperkaya diri; Pemimpin harus bisa menempatkan dirinya sebagai khadim (pelayan) organisasi; karismatik; memiliki basis dan pijakan lokal dan nasional.
“Hanya ulama yang punya rasa takut (khasyah) kepada Allah. Rasa takut ini muncul sebagai konsekuensi dari keimanan, keilmuan, spiritualitas dan akhlak yang tertanam kuat di hatinya,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :