Metropolis dari Pawitandirogo

loading...
Metropolis dari Pawitandirogo
Kilau Kota Madiun tak redup dimakan pandemik Covid-19. Saat yang lain tersandera Corona, Kota Madiun malah menancapkan pohon-pohon besar, merenovasi pedestrian
A+ A-
KOTA MADIUN - Kilau Kota Madiun tak redup dimakan pandemik Covid-19. Saat yang lain "tersandera" Corona, Kota Madiun malah menancapkan pohon-pohon besar, merenovasi pedestrian, membangun jalur sepeda, dan mengumpulkan ikon-ikon dari seluruh dunia.

"Mimpi besar saya menjadikan Madiun Kota Metropolis di bagian barat Jawa Timur," kata Wali Kota Madiun Maidi.

Baru dilantik 2019 lalu, langkah Wali Kota Maidi sudah terasa mengubah wajah kota berjuluk kota pendekar itu. Jalan Pahlawan yang dulu kusam kini bersinar terang. Pedestrian dibangun luas. Lampu kota diganti dengan yang baru. Batang-batang pohon dicat dengan karya seni. Ratusan kursi tempat nongkrong disebar di kawasan Pahlawan Street Center.

Pohon-pohon besar mulai ditancapkan di pertigaan dan perempatan jalan. Satu pohon pule seberat 15 ton berdiri tegak di pertigaan Jalan Panglima Jenderal Sudirman-Jalan dr Soetomo. Tidak tanggung-tanggung, pohon yang didatangkan dari Kediri tersebut memiliki diameter 1,5 meter.
Metropolis dari Pawitandirogo

Penataan Kota Madiun ini menghadirkan pemandangan yang berbeda di kawasan Pawitandirogo (Pacitan, Ngawi, Magetan, Madiun dan Ponorogo). Wali Kota Maidi menghadirkan pemandangan kota metropolis, dinamis, dan berdenyut selama 24 jam. Sebuah pemandangan berbeda dibanding kota-kota di kawasan mataraman yang cenderung sebagai kota pensiunan.

"Daya tarik kota ada dua. Saat siang bertabur bunga, dan saat malam bertabur cahaya lampu kota," imbuh Maidi.

Sebelum virus Corona menyerang, Pahlawan Street Center adalah Malioboro-nya Kota Madiun. Pada saat itu yang sudah selesai direnovasi adalah pedestrian Jalan Pahlawan, dan pembangunan Taman Sumber Wangi. Berjubel manusia dari Pawitandirogo sudah datang menghabiskan waktu di kawasan itu.

Para wisatawan ini tersebar di sepanjang Jalan Pahlawan. Ada yang duduk-duduk di taman Sumber Wangi, samping Balai Kota Madiun. Berselfi ria di pedestrian, bersepeda santai, dan berbelanja di mal-mal yang terletak di Jalan Pahlawan.

Daya tarik Kota Madiun semakin lengkap bila proses pembangunan Taman Sumber Umis yang sudah mencapai 40 persen tuntas. Taman ini terletak di Jalan Pahlawan atau berseberang jalan dengan Taman Sumber Wangi yang lokasinya di samping Balai Kota Madiun.

"Saya yakin pembangunan Kota Madiun akan menarik wisatawan. Di kawasan ini (Pawitandirogo Red), jumlah penduduknya sekitar 7 juta, 10 persen nya saja, pengunjung kita sudah banyak. Di sini nanti ada Patung Merlion (Taman Sumber Wangi Red), yang airnya menuju arung jeram, ada musala berbentuk miniatur Kakbah, menara Zam Zam, menara jam London, menara Eiffel," kata Maidi menunjuk lokasi Taman Sumber Umis.

Pendek kata, Kota Madiun menyalip di tikungan. Saat yang lain masih sibuk menangani Covid-19, Kota Madiun sudah menyiapkan diri menjadi kota metropolis yang mengandalkan jasa dan perdagangan. Perubahan besar wajah Kota Madiun ini membuat pengunjung terkesan.

Heru Yunianto (43), warga Purwoasri, Kabupaten Kediri yang berkunjung ke Kota Madiun, mengaku terkesan dengan perubahan wajah kota. Sudah beberapa kali berkunjung ke jalan Pahlawan, namun baru kali ini Heru terkejut. "Taman dan pedestrian luar biasa. Saya waktu berkunjung mungkin dua tahun lalu tidak seperti ini. Ini terlihat perbedaannya, dan sangat mencolok," ujarnya.

Menurut dia, begitu masuk kawasan Stasiun KA Madiun, pembangunan pedestrian sangat masif. Alat-alat berat tampak di pinggir jalan mengerjakan pedestrian. Begitu masuk Jalan Pahlawan di kawasan Balai Kota Madiun, lampu-lampu taman tampak baru semua. "Gazebo-gazebo di pedestrian itu membuat saya ingin duduk-duduk. Mirip Malioboro di Yogya, cuma yang di Madiun ini tidak semrawut pedagang," tuturnya.
Metropolis dari Pawitandirogo

Aspek spiritual tangani Covid-19

Seperti daerah lain, Kota Madiun juga terimbas Covid-19. Sejak Maret hingga Agustus 2020, Kota Madiun berhasil mempertahankan zona hijau Covid-19. Pertahanan Kota Madiun akhirnya jebol juga. Kota Madiun masuk zona oranye.

Penularan Covid-19 didominasi dari pendatang yang masuk ke Kota Madiun. Wali Kota Maidi sudah melakukan banyak cara dalam memutus mata rantai Covid-19. Seperti penegakan disiplin bermasker, dan protokol kesehatan.

Ada satgas yang dinamakan Pendekar Waras. Satgas ini akan mendatangi tempat-tempat berkerumun warga, mulai yang menggelar hajatan, hingga acara kongkow-kongkow di taman. "Tim ini harus nunggu hajatan selesai. Mereka yang membantu warga menerapkan protokol kesehatan," kata mantan Sekda Kota Madiun ini.

Tidak hanya langkah teknis. Yang menarik, Maidi juga menggelar khataman Al-quran tanpa putus selama pandemik Covid-19. Ada tim yang ditugaskan menggelar khataman Al-quran terus menerus. Tujuannya, berdoa agar wabah Corona ini segera berakhir.

"Saya juga minta kepada pak pendeta, dan tokoh agama yang ada di kota Madiun, mohon didoakan agar Covid-19 berakhir. Kita bersyukur sudah Zona Hijau tiga bulan lebih," kata Maidi.

Menurut dia, harus ada keseimbangan dalam menangani wabah Covid-19. Seperti saat membangun taman-taman ini harus digenjot, tapi saat bersamaan, wabah Covid-19 harus direm agar jumlah korban tidak banyak.

Ketahanan pangan warga kota Madiun juga harus dijaga mengingat dampak langsung dari Covid-19. Pemkot juga menghidupkan lahan tidur untuk ditanami sayur-sayuran. Hasil dari lahan tidur ini diberikan langsung kepada warga.

"Pemkot Madiun menjalin kerja sama dengan petani, peternak, untuk mencukupi kebutuhan pangan warga. Saya sudah menghitung semua kebutuhan warga Kota Madiun. Kita subsidi langsung agar petani dan peternak tetap untung, tapi warga juga mendapat harga yang terjangkau. Negara hadir di sini," katanya.
(ars)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top