Kisah Pilu Prajurit TNI, Istri Meninggal Tertimpa Longsor di Aceh Tamiang
Rabu, 24 Desember 2025 - 14:22 WIB
loading...
A
A
A
Hamzah pun harus merelakan istrinya mengembuskan napas terakhir dalam impitan beton. Kemudian, sayup-sayup terdengar suara anak pertamanya, Bintang, meminta tolong. “Pak, tolong Bintang.”
Hamzah dan sejumlah prajurit memakai tangan kosong sekuat tenaga mengangkat beton. Mereka hanya bisa mengangkat sedikit, tapi akhirnya bisa mengeluarkan Bintang. Anak itu selamat meski sekujur tubuhnya mengalami luka terkoyak besi dan bongkahan beton.
Amanda, anak kedua Hamzah, juga selamat karena benturan keras beton membuat dinding rumah di sisi lain terjatuh ke luar. Jadi, Amanda bisa ditolong. Dia juga mengalami luka lecet di beberapa bagian tubuh tanpa ada patah tulang.
Sementara itu, jasad Lelawani, istri Hamzah, baru bisa dievakuasi keesokan paginya setelah alat berat didatangkan ke lokasi. Hamzah hanya bisa pasrah.
Hamzah sebenarnya sudah diminta untuk istrirahat oleh komandannya untuk menenangkan diri. Namun, Hamzah tak bisa bersedih terlalu larut. Tiga hari berselang, Hamzah tetap minta ditugaskan lagi untuk membantu mengevakuasi korban terdampak bencana atau sekadar untuk mengawal penyaluran bantuan.
“Saya punya tanggung jawab. Walaupun tanggung jawab itu tidak diberikan sepenuhnya sama pimpinan,” katanya.
Hamzah dan sejumlah prajurit memakai tangan kosong sekuat tenaga mengangkat beton. Mereka hanya bisa mengangkat sedikit, tapi akhirnya bisa mengeluarkan Bintang. Anak itu selamat meski sekujur tubuhnya mengalami luka terkoyak besi dan bongkahan beton.
Amanda, anak kedua Hamzah, juga selamat karena benturan keras beton membuat dinding rumah di sisi lain terjatuh ke luar. Jadi, Amanda bisa ditolong. Dia juga mengalami luka lecet di beberapa bagian tubuh tanpa ada patah tulang.
Sementara itu, jasad Lelawani, istri Hamzah, baru bisa dievakuasi keesokan paginya setelah alat berat didatangkan ke lokasi. Hamzah hanya bisa pasrah.
Hamzah sebenarnya sudah diminta untuk istrirahat oleh komandannya untuk menenangkan diri. Namun, Hamzah tak bisa bersedih terlalu larut. Tiga hari berselang, Hamzah tetap minta ditugaskan lagi untuk membantu mengevakuasi korban terdampak bencana atau sekadar untuk mengawal penyaluran bantuan.
“Saya punya tanggung jawab. Walaupun tanggung jawab itu tidak diberikan sepenuhnya sama pimpinan,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :