Cerita Prajurit TNI Sertu Giman, Sendirian Berenang Selamatkan 20 Warga saat Banjir: Saya Minta Kekuatan pada Allah
Sabtu, 20 Desember 2025 - 22:01 WIB
loading...
A
A
A
Air terus meninggi hingga mencapai sekitar 4,5 meter dengan arus yang cukup kencang. Rumah-rumah di sekitar lokasi mulai hanyut satu per satu. Tanpa alat bantu evakuasi, Giman sempat kebingungan mencari cara untuk menolong warga lain yang masih terjebak.
Baca juga: Ditengok Prabowo, Haru dan Harapan Warga Aceh Tamiang Menanti Rumah Layak Pascabanjir
Hingga akhirnya, seorang warga datang membawa ban dan pelampung. Berbekal alat seadanya itu, Giman nekat terjun ke air. Giman berenang melewati tiang listrik serta kabel-kabel yang terendam, lalu bolak-balik mengevakuasi warga satu per satu.
“Di satu titik ada enam orang terjebak di atas seng. Saya bolak-balik angkut mereka pakai ban. Setelah itu, ada delapan orang lagi di ujung sana, termasuk bayi umur satu bulan dan lansia,” katanya.
Untuk mengevakuasi bayi, Giman meminta warga mencarikan ember atau baskom. Bayi itu kemudian diletakkan di dalam wadah agar lebih aman saat dibawa melintasi arus banjir. Saat itu, seng tempat warga berlindung sudah bergoyang dan hampir hanyut terbawa arus.
Giman mengaku arus banjir sangat deras sehingga bahkan perahu evakuasi tidak bisa mendekat karena khawatir terkena seng dan puing-puing rumah. Meski kelelahan dan nyaris pingsan, ia tetap melanjutkan evakuasi.
Baca juga: Ditengok Prabowo, Haru dan Harapan Warga Aceh Tamiang Menanti Rumah Layak Pascabanjir
Hingga akhirnya, seorang warga datang membawa ban dan pelampung. Berbekal alat seadanya itu, Giman nekat terjun ke air. Giman berenang melewati tiang listrik serta kabel-kabel yang terendam, lalu bolak-balik mengevakuasi warga satu per satu.
“Di satu titik ada enam orang terjebak di atas seng. Saya bolak-balik angkut mereka pakai ban. Setelah itu, ada delapan orang lagi di ujung sana, termasuk bayi umur satu bulan dan lansia,” katanya.
Untuk mengevakuasi bayi, Giman meminta warga mencarikan ember atau baskom. Bayi itu kemudian diletakkan di dalam wadah agar lebih aman saat dibawa melintasi arus banjir. Saat itu, seng tempat warga berlindung sudah bergoyang dan hampir hanyut terbawa arus.
Giman mengaku arus banjir sangat deras sehingga bahkan perahu evakuasi tidak bisa mendekat karena khawatir terkena seng dan puing-puing rumah. Meski kelelahan dan nyaris pingsan, ia tetap melanjutkan evakuasi.
Lihat Juga :