Muktamar Krapyak, Ulama Muda Rumuskan Teologi Kerukunan Kosmik
Sabtu, 13 Desember 2025 - 19:09 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Guru Besar BRIN Prof Alie Humaidi menyampaikan kritik tajam terhadap realitas ekologis Indonesia, khususnya bencana di Sumatera yang menurutnya merupakan cermin kerakusan manusia.
“Bencana alam di Sumatera adalah potret kerusakan lingkungan akibat kerakusan manusia, terutama korporasi yang mengatasnamakan kebutuhan manusia,” katanya.
Baca juga: Direktorat Jenderal Pesantren Didorong Jadi Pelopor Ekoteologi Nasional
Dia menilai umat beragama hari ini mengalami krisis praksis ekologis. “Umat beriman hanya mengejar kepuasan spiritual-ritual, tetapi tidak mempunyai aspek ekologi. Beragama tanpa jejak ekologi,” tegasnya.
Bahkan ia menyimpulkan secara reflektif, “Agamawan gagal dalam melestarikan lingkungan meskipun ajaran tentang lingkungan sangat banyak.”
Alie juga menyoroti peran pesantren yang secara historis dekat dengan alam. Ia mengingatkan bahwa pesantren dahulu hidup berdampingan dengan sungai, hutan, dan persawahan, serta memiliki kearifan lokal dalam menjaga lingkungan.
“Banyak pesantren mampu mendorong kelestarian lingkungan, tetapi pertanyaannya, berapa banyak pesantren yang punya skenario pendidikan lingkungan bagi santrinya?” ujarnya, seraya menegaskan bahwa pesantren harus kembali mengambil peran aktif dalam konservasi lingkungan karena posisinya yang dekat dengan ruang ekologis pedesaan.
“Bencana alam di Sumatera adalah potret kerusakan lingkungan akibat kerakusan manusia, terutama korporasi yang mengatasnamakan kebutuhan manusia,” katanya.
Baca juga: Direktorat Jenderal Pesantren Didorong Jadi Pelopor Ekoteologi Nasional
Dia menilai umat beragama hari ini mengalami krisis praksis ekologis. “Umat beriman hanya mengejar kepuasan spiritual-ritual, tetapi tidak mempunyai aspek ekologi. Beragama tanpa jejak ekologi,” tegasnya.
Bahkan ia menyimpulkan secara reflektif, “Agamawan gagal dalam melestarikan lingkungan meskipun ajaran tentang lingkungan sangat banyak.”
Alie juga menyoroti peran pesantren yang secara historis dekat dengan alam. Ia mengingatkan bahwa pesantren dahulu hidup berdampingan dengan sungai, hutan, dan persawahan, serta memiliki kearifan lokal dalam menjaga lingkungan.
“Banyak pesantren mampu mendorong kelestarian lingkungan, tetapi pertanyaannya, berapa banyak pesantren yang punya skenario pendidikan lingkungan bagi santrinya?” ujarnya, seraya menegaskan bahwa pesantren harus kembali mengambil peran aktif dalam konservasi lingkungan karena posisinya yang dekat dengan ruang ekologis pedesaan.
Lihat Juga :