Merajut Mimpi di Lubang Aron
Selasa, 15 September 2020 - 19:32 WIB
loading...
A
A
A
Secara nasional, tercatat lebih dari 60.000 pelaku UMKM di Tanah Air yang telah menjadi mitra binaan Pertamina. Dana pinjaman modal usaha yang telah disalurkan Pertamina dari Sabang hingga Merauke tak kurang dari Rp3,3 triliun.
Ketua Kampoeng Rajoet Eka Rahmat Jaya, satu industri rumahan rajutan bisa mencatat transaksi Rp100 juta hingga Rp1 miliar per bulan. Cash flow sentra ini diperkirakan mencapai Rp800 juta per hari, dengan transaksi penjualan bulanan sekitar Rp20 miliar.
Perhitungan itu didasarkan pada keberadaan 4.000 tenaga kerja yang mampu menghasilkan 1 lusin produk rajutan seharga Rp200.000 perhari. "Contoh saja, transaksi toko bahan baku benang di kawasan ini bisa mencatat penjualan hingga Rp1,2 miliar perhari," jelas Eka.
Mimpi Menjadi Kampung Wisata dan Edukasi
Sekitar 60 tahun lalu, Kampoeng Rajoet Binong Jati dimulai oleh lima perajin, membuat rajutan dengan sistem maklun untuk pengusaha besar. Pada 1970-an, sekitar 10 kepala keluarga kemudian berinisiatif membeli mesin rajut berukuran kecil yang diikuti keluarga lainnya.
Sejak saat itu, usaha rumahan skala kecil terus bermunculan. Mereka tak lagi mengandalkan pemilik modal, tapi berinisiatif membuka usaha sendiri. Hasil rajutan dijual di sekitar Pasar Kiaracondong dan Pasar Baru Bandung. Pesanan pun bermunculan dari berbagai daerah, hingga eksistensinya diakui sebagai pusat rajutan di Indonesia.
Pemkot Bandung menjadikan kawasan Binong sebagai Sentra Rajut Binong Jati. Satu dari tujuh sentra ekonomi strategis di Kota Bandung selain Sentra Sepatu Cibaduyut, Sentra Boneka Kopo Sayati, dan lainnya.
Lokasi Kampoeng Rajoet Binong Jati cukup strategis, tak jauh dari pusat perbelanjaan modern Trans Studio Mall (TSM) di Jalan Gatot Subroto dan berjarak sekitar 2 km dari Alun-alun Bandung.
![Merajut Mimpi di Lubang Aron]()
Ilustrasi Kampoeng Rajoet masa depan. Foto/Istimewa
Sejak 2018, kawasan ini disebut Kampoeng Rajoet Binong Jati. Sebuah nama yang mengandung cita-cita besar menjadi kawasan belanja produk rajutan, destinasi wisata, dan kawasan edukasi. Harapan besar oleh mereka yang bahu-membahu secara tulus membangun kampung ini.
"Kampoeng Rajoet ini berada di kawasan padat penduduk dengan perajin yang tersebar di gang-gang sempit. Tapi ini menjadi tantangan bagi kami, mendesain menjadi tempat belanja, wisata, dan edukasi," beber dia.
Mimpi besarnya, kampung ini memiliki saung (bilik). Saung-saung itu memajang semua produk hasil rajutan. Juga dilengkapi informasi proses pembuatan kain rajut. Didesain dengan banyak tempat duduk untuk kongkow sembari menikmati kuliner khas Bandung.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandung Elly Wasliah mengatakan, Pemkot Bandung terus mendorong agar Kampoeng Rajoet Binong Jati tak hanya menjadi kawasan industri rumahan, tetapi juga menjadi destinasi wisata. Pengunjung bisa melihat proses pembuatan produk rajutan yang telah ada sejak puluhan tahun.
"Memang yang menjadi persoalan adalah unit usaha yang letaknya ada di gang sempit dan tidak tersedianya lahan parkir. Tapi ini menjadi tantangan bagi kami, setidaknya perlu kerja sama melibatkan lintas sektoral agar sentra rajut ini layak dikunjungi sebagai destinasi wisata," beber dia.
Sejalan dengan upaya tersebut, Pemkot Bandung juga akan gencar membantu mempromosikan produk rajutan. Rencananya, pada tahun 2021 pihaknya akan membuat event yang mengangkat produk-produk UMKM dari tujuh sentra ekonomi di Bandung.
Menurut Elly, Kampoeng Rajoet Binong Jati merupakan satu dari tujuh sentra ekonomi di Kota Bandung yang memberi kontribusi ekonomi. Apalagi, sentra industri rumahan ini berbasiskan usaha padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja.
Kampoeng Rajoet memberi dampak signifikan bagi ekonomi kota, karena melibatkan ribuan pekerja warga sekitar. Industri rumahan ini telah menjadi tumpuan hidup bagi banyak warga di Kota Bandung dan sekitarnya.
Ketua Kampoeng Rajoet Eka Rahmat Jaya, satu industri rumahan rajutan bisa mencatat transaksi Rp100 juta hingga Rp1 miliar per bulan. Cash flow sentra ini diperkirakan mencapai Rp800 juta per hari, dengan transaksi penjualan bulanan sekitar Rp20 miliar.
Perhitungan itu didasarkan pada keberadaan 4.000 tenaga kerja yang mampu menghasilkan 1 lusin produk rajutan seharga Rp200.000 perhari. "Contoh saja, transaksi toko bahan baku benang di kawasan ini bisa mencatat penjualan hingga Rp1,2 miliar perhari," jelas Eka.
Mimpi Menjadi Kampung Wisata dan Edukasi
Sekitar 60 tahun lalu, Kampoeng Rajoet Binong Jati dimulai oleh lima perajin, membuat rajutan dengan sistem maklun untuk pengusaha besar. Pada 1970-an, sekitar 10 kepala keluarga kemudian berinisiatif membeli mesin rajut berukuran kecil yang diikuti keluarga lainnya.
Sejak saat itu, usaha rumahan skala kecil terus bermunculan. Mereka tak lagi mengandalkan pemilik modal, tapi berinisiatif membuka usaha sendiri. Hasil rajutan dijual di sekitar Pasar Kiaracondong dan Pasar Baru Bandung. Pesanan pun bermunculan dari berbagai daerah, hingga eksistensinya diakui sebagai pusat rajutan di Indonesia.
Pemkot Bandung menjadikan kawasan Binong sebagai Sentra Rajut Binong Jati. Satu dari tujuh sentra ekonomi strategis di Kota Bandung selain Sentra Sepatu Cibaduyut, Sentra Boneka Kopo Sayati, dan lainnya.
Lokasi Kampoeng Rajoet Binong Jati cukup strategis, tak jauh dari pusat perbelanjaan modern Trans Studio Mall (TSM) di Jalan Gatot Subroto dan berjarak sekitar 2 km dari Alun-alun Bandung.

Ilustrasi Kampoeng Rajoet masa depan. Foto/Istimewa
Sejak 2018, kawasan ini disebut Kampoeng Rajoet Binong Jati. Sebuah nama yang mengandung cita-cita besar menjadi kawasan belanja produk rajutan, destinasi wisata, dan kawasan edukasi. Harapan besar oleh mereka yang bahu-membahu secara tulus membangun kampung ini.
"Kampoeng Rajoet ini berada di kawasan padat penduduk dengan perajin yang tersebar di gang-gang sempit. Tapi ini menjadi tantangan bagi kami, mendesain menjadi tempat belanja, wisata, dan edukasi," beber dia.
Mimpi besarnya, kampung ini memiliki saung (bilik). Saung-saung itu memajang semua produk hasil rajutan. Juga dilengkapi informasi proses pembuatan kain rajut. Didesain dengan banyak tempat duduk untuk kongkow sembari menikmati kuliner khas Bandung.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandung Elly Wasliah mengatakan, Pemkot Bandung terus mendorong agar Kampoeng Rajoet Binong Jati tak hanya menjadi kawasan industri rumahan, tetapi juga menjadi destinasi wisata. Pengunjung bisa melihat proses pembuatan produk rajutan yang telah ada sejak puluhan tahun.
"Memang yang menjadi persoalan adalah unit usaha yang letaknya ada di gang sempit dan tidak tersedianya lahan parkir. Tapi ini menjadi tantangan bagi kami, setidaknya perlu kerja sama melibatkan lintas sektoral agar sentra rajut ini layak dikunjungi sebagai destinasi wisata," beber dia.
Sejalan dengan upaya tersebut, Pemkot Bandung juga akan gencar membantu mempromosikan produk rajutan. Rencananya, pada tahun 2021 pihaknya akan membuat event yang mengangkat produk-produk UMKM dari tujuh sentra ekonomi di Bandung.
Menurut Elly, Kampoeng Rajoet Binong Jati merupakan satu dari tujuh sentra ekonomi di Kota Bandung yang memberi kontribusi ekonomi. Apalagi, sentra industri rumahan ini berbasiskan usaha padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja.
Kampoeng Rajoet memberi dampak signifikan bagi ekonomi kota, karena melibatkan ribuan pekerja warga sekitar. Industri rumahan ini telah menjadi tumpuan hidup bagi banyak warga di Kota Bandung dan sekitarnya.
(awd)
Lihat Juga :