Komdigi Susun Etika dan Peta Jalan Nasional AI, Wamen Nezar: Disiapkan Jadi Perpres
Jum'at, 28 November 2025 - 08:55 WIB
loading...
A
A
A
Pedoman itu, ujar dia, dikenal sebagai Pedoman KG Media dalam Pemanfaatan AI, yang digunakan untuk produksi informasi, pemberitaan, hingga pengembangan pengetahuan.
Menurut Haryo, jika ada produk jurnalistik yang sepenuhnya dikerjakan oleh AI, hal tersebut dapat terdeteksi melalui alat bantu internal yang digunakan di Kompas Gramedia.
“Ini dari luar masuk ke Kompas pun bisa terlihat apakah sebuah teks menggunakan AI atau tidak. Karena itu kami punya tools untuk mengeceknya,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan tentang sejauh mana AI dapat digunakan dalam jurnalistik, Haryo menuturkan, riset data masih dapat dibantu oleh AI. Namun ada batasnya.
“Kalau untuk riset data sih bisa. Tapi kalau sudah menyangkut sumber informasi, itu harus jelas. Kecuali memang berlangganan layanan tertentu. Misalnya saya berlangganan Gemini AI, ada fitur deep research yang memunculkan sumber-sumbernya. Kalau tidak ada sumber, jangan coba-coba,” tutur Haryo.
Menutup pemaparan, Haryo kembali menegaskan poin utama bagi jurnalis dan publik. Pada akhirnya, untuk media, semuanya kembali pada diri sendiri. Jurnalis itu berdedikasi pada kebenaran. Orang yang memiliki handphone bisa memotret, tapi itu belum menjadikannya seorang fotografer.
"Sama halnya, orang yang membuat konten belum tentu jurnalis. Karena jurnalis itu bertanggung jawab pada kebenaran,” tegas Haryo.
Untuk diketahui, Komdigi menggelar diskusi diskusi MediaConnect: “Dari Cepat Jadi Cermat - Menyikapi AI di Meja Redaksi” di Kota Bandung, Kamis (27/11/2025). Acara ini menghadirkan keynote speaker Wamen Komdigi Nezar Patria.
Diskusi juga menghadirkan tiga narasumber, yaitu, Direktur Jenderal (Dirjen) Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Haryo Damardono, dan Creative Advisor/AI Spescialists Motulz Anto. Acara berlangsung meriah dihadiri juga oleh puluhan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Kota Bandung.
Menurut Haryo, jika ada produk jurnalistik yang sepenuhnya dikerjakan oleh AI, hal tersebut dapat terdeteksi melalui alat bantu internal yang digunakan di Kompas Gramedia.
“Ini dari luar masuk ke Kompas pun bisa terlihat apakah sebuah teks menggunakan AI atau tidak. Karena itu kami punya tools untuk mengeceknya,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan tentang sejauh mana AI dapat digunakan dalam jurnalistik, Haryo menuturkan, riset data masih dapat dibantu oleh AI. Namun ada batasnya.
“Kalau untuk riset data sih bisa. Tapi kalau sudah menyangkut sumber informasi, itu harus jelas. Kecuali memang berlangganan layanan tertentu. Misalnya saya berlangganan Gemini AI, ada fitur deep research yang memunculkan sumber-sumbernya. Kalau tidak ada sumber, jangan coba-coba,” tutur Haryo.
Menutup pemaparan, Haryo kembali menegaskan poin utama bagi jurnalis dan publik. Pada akhirnya, untuk media, semuanya kembali pada diri sendiri. Jurnalis itu berdedikasi pada kebenaran. Orang yang memiliki handphone bisa memotret, tapi itu belum menjadikannya seorang fotografer.
"Sama halnya, orang yang membuat konten belum tentu jurnalis. Karena jurnalis itu bertanggung jawab pada kebenaran,” tegas Haryo.
Untuk diketahui, Komdigi menggelar diskusi diskusi MediaConnect: “Dari Cepat Jadi Cermat - Menyikapi AI di Meja Redaksi” di Kota Bandung, Kamis (27/11/2025). Acara ini menghadirkan keynote speaker Wamen Komdigi Nezar Patria.
Diskusi juga menghadirkan tiga narasumber, yaitu, Direktur Jenderal (Dirjen) Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Haryo Damardono, dan Creative Advisor/AI Spescialists Motulz Anto. Acara berlangsung meriah dihadiri juga oleh puluhan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Kota Bandung.
(cip)
Lihat Juga :