Merayakan Arsitektur Berkelanjutan nan Ekspresif
Sabtu, 18 Oktober 2025 - 23:24 WIB
loading...
Malam puncak sayembara Onduline Green Roof Award (OGRA) 2025 yang digelar di Blok M Hub, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2025). FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Tiga karya dinobatkan sebagai yang terbaik dalam malam puncak sayembara Onduline Green Roof Award (OGRA) 2025 yang digelar di Blok M Hub, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2025). Ketiga karya menonjolkan keseimbangan antara prinsip keberlanjutan dan ekspresi desain atap.
Juara pertama diraih oleh Shakkei Art Community Hub karya Kartiansmara Lilih Purnaumbara. Disusul Kebun Kota Cik Di Tiro karya Sasqia Nurul sebagai juara kedua. Kemudian, Double Viel karya Dadi Prasojo berhasil meraih posisi juara ketiga sekaligus dinobatkan sebagai Favorite Winner melalui voting publik di Instagram.
Esther Pane, Country Director PT Onduline Indonesia dalam sambutannya mengatakan, sejakpertama kali diluncurkan pada 2013, OGRA merupakan bentuk komitmen pihaknya untuk mendukung para arsitek dalam menciptakan solusi desain yang berkelanjutan. Kegiatan bertema "Expressive Roofing: Beyond Shelter Towards Identity" ini adalah pertama kali Onduline berkolaborasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), khususnya IAI Jakarta.
Menurut Esther, semua hasil karya peserta pada sayembara OGRA 2025 tidak ada yang dibuat dengan asal-asalan. Ketika proses kurasi di setiap desain, expressive roofing-nya kelihatan, para peserta menggunakan pendekatan desain yang sangat bertanggung jawab.
"Narasinya, konsepnya, perhitungannya, dan inilah yang berusaha kami lakukan. Profesi kita sebagai seorang arsitek bukan sekadar menghasilkan karya yang bagus dan dikenal, tetapi karya yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, sosial, dan ekologi," kata Esther dalam keterangannya dikutip, Sabtu (18/10/2025).
Ketua IAI Jakarta, Ar. Teguh Aryanto antusias menyambut kegiatan ini sebagai ajang para anggota IAI Jakarta meningkatkan dan mengasah keterampilan dalam mendesain. Sebab, ketika mendesain atas pesanan klien, biasanya tidak bisa terlalu ekspresif dan inovatif. Ekskpresi seorang arsitek terkadang dibatasi budget dan keinginan klien.
"Nah, kalau dengan sayembara, biasanya arsitek lebih semangat karena merasa bisa lebih explore, lebih inovatif tanpa dibatasi oleh hal-hal yang memang tidak perlu. Kadang karena itulah arsitek membutuhkan banyak mengikuti sayembara," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya arsitektur inklusif yang dapat dinikmati semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, serta karya partisipatif yang melibatkan aspirasi masyarakat. Teguh mengingatkan bahwa arsitektur berkelanjutan adalah warisan untuk generasi mendatang, agar sumber daya alam tetap terjaga dan tidak menjadi beban bagi anak cucu.
"Jangan sampai suatu hari anak cucu kita itu protes karena sumber daya alam dihabiskan oleh generasi kita sekarang. Seperti mungkin, saat ini kita kadang menyalahkan generasi pendahulu kita, ketika awareness mengenai isu keberlanjutannya terlambat. Nah, jadi jangan sampai anak cucu kita suatu hari menyalahkan generasi kita," ujarnya.
Sementara itu, Chairman OGRA 2025 Almodani menyampaikan sesuai tema kali ini, atap dapat menjadi medium ekspresif yang personal, berani, dan bermakna, menghubungkan keindahan, fungsi, serta kesadaran ekologis dalam satu kesatuan desain.
Menurutnya, malam penghargaan ini merayakan karya dari lima finalis yang berhasil menampilkan gagasan inovatif dalam desain atap, mulai dari permainan bentuk yang ekspresif hingga penerapan prinsip energi pasif yang memanfaatkan cahaya dan sirkulasi udara alami untuk mengurangi konsumsi listrik.
Juara pertama diraih oleh Shakkei Art Community Hub karya Kartiansmara Lilih Purnaumbara. Disusul Kebun Kota Cik Di Tiro karya Sasqia Nurul sebagai juara kedua. Kemudian, Double Viel karya Dadi Prasojo berhasil meraih posisi juara ketiga sekaligus dinobatkan sebagai Favorite Winner melalui voting publik di Instagram.
Esther Pane, Country Director PT Onduline Indonesia dalam sambutannya mengatakan, sejakpertama kali diluncurkan pada 2013, OGRA merupakan bentuk komitmen pihaknya untuk mendukung para arsitek dalam menciptakan solusi desain yang berkelanjutan. Kegiatan bertema "Expressive Roofing: Beyond Shelter Towards Identity" ini adalah pertama kali Onduline berkolaborasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), khususnya IAI Jakarta.
Menurut Esther, semua hasil karya peserta pada sayembara OGRA 2025 tidak ada yang dibuat dengan asal-asalan. Ketika proses kurasi di setiap desain, expressive roofing-nya kelihatan, para peserta menggunakan pendekatan desain yang sangat bertanggung jawab.
"Narasinya, konsepnya, perhitungannya, dan inilah yang berusaha kami lakukan. Profesi kita sebagai seorang arsitek bukan sekadar menghasilkan karya yang bagus dan dikenal, tetapi karya yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, sosial, dan ekologi," kata Esther dalam keterangannya dikutip, Sabtu (18/10/2025).
Ketua IAI Jakarta, Ar. Teguh Aryanto antusias menyambut kegiatan ini sebagai ajang para anggota IAI Jakarta meningkatkan dan mengasah keterampilan dalam mendesain. Sebab, ketika mendesain atas pesanan klien, biasanya tidak bisa terlalu ekspresif dan inovatif. Ekskpresi seorang arsitek terkadang dibatasi budget dan keinginan klien.
"Nah, kalau dengan sayembara, biasanya arsitek lebih semangat karena merasa bisa lebih explore, lebih inovatif tanpa dibatasi oleh hal-hal yang memang tidak perlu. Kadang karena itulah arsitek membutuhkan banyak mengikuti sayembara," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya arsitektur inklusif yang dapat dinikmati semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, serta karya partisipatif yang melibatkan aspirasi masyarakat. Teguh mengingatkan bahwa arsitektur berkelanjutan adalah warisan untuk generasi mendatang, agar sumber daya alam tetap terjaga dan tidak menjadi beban bagi anak cucu.
"Jangan sampai suatu hari anak cucu kita itu protes karena sumber daya alam dihabiskan oleh generasi kita sekarang. Seperti mungkin, saat ini kita kadang menyalahkan generasi pendahulu kita, ketika awareness mengenai isu keberlanjutannya terlambat. Nah, jadi jangan sampai anak cucu kita suatu hari menyalahkan generasi kita," ujarnya.
Sementara itu, Chairman OGRA 2025 Almodani menyampaikan sesuai tema kali ini, atap dapat menjadi medium ekspresif yang personal, berani, dan bermakna, menghubungkan keindahan, fungsi, serta kesadaran ekologis dalam satu kesatuan desain.
Menurutnya, malam penghargaan ini merayakan karya dari lima finalis yang berhasil menampilkan gagasan inovatif dalam desain atap, mulai dari permainan bentuk yang ekspresif hingga penerapan prinsip energi pasif yang memanfaatkan cahaya dan sirkulasi udara alami untuk mengurangi konsumsi listrik.
(abd)
Lihat Juga :