Guru Besar UIN Syekh Nurjati: Waspadai Politik Adu Domba Berkedok Agama di Medsos
Sabtu, 18 Oktober 2025 - 18:34 WIB
loading...
A
A
A
Didin yang merupakan alumni dari Universitas Leiden, Belanda ini mengungkapkan ancaman terbesar dari propaganda dan adu domba ini adalah rusaknya fondasi kebangsaan negara. Sehingga akan meruntuhkan sistem kenegaraan dan mengakibatkan perpecahan antar anak bangsa.
Dia mengungkapkan, rongrongan ini kerap dieksploitasi dan dimanipulasi dengan bumbu ayat-ayat suci. Misalnya membenturkan Pancasila dengan dalil agama dan menganggapnya sebagai produk manusia yang tidak sebanding dengan wahyu Tuhan. Padahal hal ini bukanlah hal yang patut disandingkan.
Baca juga: Prabowo Ingatkan Sejarah Indonesia Selalu Diadu Domba dan Dipecah Belah
“Itulah mengapa gerakan-gerakan radikal teroris terus mempersoalkan Pancasila agar sendi (fondasi) utamanya benar-benar hancur,” ujarnya.
Menurut dia, ada dua faktor sosial-politik yang menjadi alasan utama mengapa propaganda ini kerap berhasil mempengaruhi anak muda. Pertama, kegagalan dalam pendidikan kurikulum agama dalam memberikan pengetahuan dan pengalaman beragama.
Hal itu lantaran masih banyak ustadz dan kyai yang lebih memfokuskan pada akumulasi pengetahuan agama tentang masa lalu dan bukan memfokuskan bagaimana beragama untuk masa depan. Akibatnya, pelajaran agama menjadi semakin kehilangan relevansinya bagi anak muda.
Dia mengungkapkan, rongrongan ini kerap dieksploitasi dan dimanipulasi dengan bumbu ayat-ayat suci. Misalnya membenturkan Pancasila dengan dalil agama dan menganggapnya sebagai produk manusia yang tidak sebanding dengan wahyu Tuhan. Padahal hal ini bukanlah hal yang patut disandingkan.
Baca juga: Prabowo Ingatkan Sejarah Indonesia Selalu Diadu Domba dan Dipecah Belah
“Itulah mengapa gerakan-gerakan radikal teroris terus mempersoalkan Pancasila agar sendi (fondasi) utamanya benar-benar hancur,” ujarnya.
Menurut dia, ada dua faktor sosial-politik yang menjadi alasan utama mengapa propaganda ini kerap berhasil mempengaruhi anak muda. Pertama, kegagalan dalam pendidikan kurikulum agama dalam memberikan pengetahuan dan pengalaman beragama.
Hal itu lantaran masih banyak ustadz dan kyai yang lebih memfokuskan pada akumulasi pengetahuan agama tentang masa lalu dan bukan memfokuskan bagaimana beragama untuk masa depan. Akibatnya, pelajaran agama menjadi semakin kehilangan relevansinya bagi anak muda.
Lihat Juga :