KH Mahrus Aly, Ulama Kharismatik Pesantren Lirboyo yang Pimpin Pertempuran Melawan Tentara Sekutu dan Jepang
Kamis, 16 Oktober 2025 - 07:32 WIB
loading...
KH Mahrus Aly merupakan ulama kharismatik dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang memimpin pertempuran melawan tentara sekutu dan Jepang. Foto/Ist
A
A
A
KH Mahrus Aly merupakan ulama kharismatik dari Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang memimpin pertempuran melawan tentara sekutu dan Jepang. Dia bersama para santri turun langsung menghadapi pasukan penjajah.
"Kemerdekaan ini harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan," tegas KH Mahrus Aly saat mendengar kabar dari Mayor Mahfudh tentang pendaratan pasukan Belanda di Surabaya, Jawa Timur. Kedatangan bala tentara penjajah Belanda itu membonceng pasukan sekutu di penghujung tahun 1945.
Baca juga: Profil Gus Maksum, Ulama Kharismatik Pesantren Lirboyo dan Pendiri Perguruan Silat Pagar Nusa
Kala itu, Mayor Mahfudh juga mengabarkan terjadi pertempuran sengit antara Arek-arek Surabaya melawan tentara Sekutu di seputar Tanjung Perak.
KH Mahrus Aly yang memiliki nama kecil Rusydi tersebut langsung merespons kabar tersebut dengan menegaskan santri-santri di Lirboyo siap membantu Arek-arek Surabaya melawan tentara sekutu.
Bersenjatakan bambu runcing dan sejata tradisional lainnya, sebanyak 97 santri diberangkatkan ke Surabaya untuk menghadapi pasukan sekutu yang baru saja memenangkan perang dunia dua.
Di bawah komando langsung Kiai Mahrus Aly, para santri Lirboyo ini tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Bermodal keberanian dan semangat mempertahankan kemerdekaan Indonesia, para santri berhasil merampas sejumlah senjata lawan.
Baca juga: Profil Ponpes Lirboyo, Pesantren Salafi Terbesar di Indonesia yang Berdiri Lebih dari 1 Abad
Aksi heroik perampasan senjata yang dilakukan para santri di bawah komando KH Mahrus Aly terjadi jauh sebelum pecah perang besar melawan tentara sekutu di Surabaya. Mereka sepakat melucuti senjata pasukan Jepang, di Markas Kompitai Dai Nippon di Kediri, yang kini menjadi Markas Brigif 16 Kodam V Brawijaya, letaknya sekitar 1,5 Km dari arah timur Pondok Pesantren Lirboyo.
Menggunakan peralatan seadanya, ratusan santri mengadakan pernyerbuan ke Markas Kompitai Dai Nipon di bawah komando KH Mahrus Aly, Mayor Mahfudh, dan Abdul Rakhim Pratalikrama. Santri muda, Syafii Sulaiman yang kala itu masih berusia 15 tahun, diutus oleh Kiai Mahrus Aly untuk menyusup ke markas Dai Nippon, guna mempelajari keadaan dan memantau kekuatan lawan.
Setelah penyelidikan dirasa cukup, Syafii Sulaiman segera melapor kepada Kiai Mahrus Aly, dan Mayor Mahfudh. Invasi para santri itu berhasil. Atas kebijaksanaan Kiai Mahrus Aly, satu truk senjata hasil lucutan Jepang itu, dibawa ke Pondok Pesantren Lirboyo, dan setelahnya diserahkan kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Bermodalkan senjata rampasan, para santri Lirboyo, di bawah komando Kiai Mahrus Aly, secara bergantian dikirim ke front pertempuran Surabaya. Pengiriman pasukan yang beranggotakan para santri ini, terus berlanjut hingga pecah perang 10 November 1945.
Bukan sekedar mengirimkan pasukan ke medan laga, Kiai Mahrus Aly bersama para santri Lirboyo, juga melakukan gerakan batin yang digelar setiap malam, agar pasukan yang tengah bertempur diberi keteguhan iman, dan apabila gugur diterima sebagai syahid.
Gerakan batin ini digelar di dua tempat, yakni di Pondok Pesantren Lirboyo, dipimpin oleh KH Abdul Karim dan KH Marzugi Dahlan. Lokasi gerakan batin kedua digelar di Manukan, Jabon, Kediri, yang dipimpin oleh KH Mahrus Aly, dan KH Said.
Usai pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya, Kiai Mahrus Aly kembali mengerahkan pasukan yang beranggotakan para santri ke medan laga, untuk menghadapi Agresi Militer II yang dilakukan pasukan belanda, pada 12 Desember 1948.
Empat santri senior Lirboyo dikirim oleh Kiai Mahrus Aly untuk menjadi pasukan di bawah komando Mayor Mahfudh. Keempat santri itu adalah Syafi'i Sulaiman, Muhid Ilyas, Muhammad Masykur, dan Mahfudh AK. Taktik perang gerilya, dan melakukan serangan secara sporadis ke jantung pertahanan musuh yang dijalankan pasukan para santri ini, ternyata berjalan sangat efektif.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, melalui pertempuran berdarah tersebut, berlangsung hingga penyerahan kedaulatan Indonesia, oleh Belanda, melalui perjanjian yang dihasilkan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Deen Hag, pada 27 Desember 1949.
Pasukan perang yang terdiri dari para santri ini, akhirnya dilebur untuk semakin memiliki kekuatan dahsyat. Pasukan dilebur dalam Batalyon 508 yang lebih dikenal dengan Batalyon Gelatik. Batalyon ini merupakan cikal bakal lahirnya Kodam V Brawijaya.
Batalyon Gelatik resmi didirikan pada 17 Desember 1948 di Lapangan Kuwak, yang sekarang Stadion Brawijaya. Bertindak sebagai komandan Batalyon Gelatik, adalah Kolonel Sungkono. Sementara KH Mahrus Aly mendapat kehormatan sebagai penasihat. Hal inilah yang menyebabkan KH Mahrus Aly menjadi sesepuh Kodam V Brawijaya sampai akhir hayatnya.
Santri Lirboyo (H2)
Sebelum berlabuh di Pondok Pesantren Lirboyo, KH Mahrus Aly telah menyinggahi sejumlah pondok pesantren untuk menuntut ilmu. Di bawah bimbingan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH Abdul Karim, Kiai Mahrus Aly muda terkenal menjadi santri yang tidak pernah letih dalam mengaji.
Saat liburan tiba, Kiai Mahrus Aly muda mencari pondok lain untuk mengikuti pengajian kilatan. Pernah juga Kiai Mahrus Aly belajar ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, mengaji kitab Shahih Bukhari kepada KH Hasyim Asy'ari.
Setelah tiga tahun menimba ilmu di Lirboyo, KH Mahrus Aly muda, membuat KH Abdul Karim terkesan, dan akhirnya menjodohkan salah satu putrinya yang bernama Zaenab.
Pernikahan Kiai Mahrus Aly dengan Zaenab, dikaruniai tujuh putra dan putri. Kesetiaannya pada sang istri terus dijaganya hingga akhir hayat. Istrinya wafat terlebih dahulu pada 4 Maret 1985, sedangkan Kiai Mahrus Aly wafat pada 26 Mei 1985.
Kisah keberanian dan kesetian Kiai Mahrus Aly pada tanah airnya, sampai membuat Panglima ABRI, Jenderal LB. Moerdani menaruh rasa hormat yang sangat tinggi pada sang kiai. Bahkan, ketika Kiai Mahrus Aly jatuh sakit, jenderal yang namanya besar di dunia intelijen ini sampai mengirimkan helikopter khusus untuk membawa sang kiai ke RSUD dr Soetomo Surabaya.
Sumber: jatim.nu.or.id, wikipedia, ipnu.or.id, data diolah dari berbagai sumber
"Kemerdekaan ini harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan," tegas KH Mahrus Aly saat mendengar kabar dari Mayor Mahfudh tentang pendaratan pasukan Belanda di Surabaya, Jawa Timur. Kedatangan bala tentara penjajah Belanda itu membonceng pasukan sekutu di penghujung tahun 1945.
Baca juga: Profil Gus Maksum, Ulama Kharismatik Pesantren Lirboyo dan Pendiri Perguruan Silat Pagar Nusa
Kala itu, Mayor Mahfudh juga mengabarkan terjadi pertempuran sengit antara Arek-arek Surabaya melawan tentara Sekutu di seputar Tanjung Perak.
KH Mahrus Aly yang memiliki nama kecil Rusydi tersebut langsung merespons kabar tersebut dengan menegaskan santri-santri di Lirboyo siap membantu Arek-arek Surabaya melawan tentara sekutu.
Bersenjatakan bambu runcing dan sejata tradisional lainnya, sebanyak 97 santri diberangkatkan ke Surabaya untuk menghadapi pasukan sekutu yang baru saja memenangkan perang dunia dua.
Di bawah komando langsung Kiai Mahrus Aly, para santri Lirboyo ini tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Bermodal keberanian dan semangat mempertahankan kemerdekaan Indonesia, para santri berhasil merampas sejumlah senjata lawan.
Baca juga: Profil Ponpes Lirboyo, Pesantren Salafi Terbesar di Indonesia yang Berdiri Lebih dari 1 Abad
Aksi heroik perampasan senjata yang dilakukan para santri di bawah komando KH Mahrus Aly terjadi jauh sebelum pecah perang besar melawan tentara sekutu di Surabaya. Mereka sepakat melucuti senjata pasukan Jepang, di Markas Kompitai Dai Nippon di Kediri, yang kini menjadi Markas Brigif 16 Kodam V Brawijaya, letaknya sekitar 1,5 Km dari arah timur Pondok Pesantren Lirboyo.
Menggunakan peralatan seadanya, ratusan santri mengadakan pernyerbuan ke Markas Kompitai Dai Nipon di bawah komando KH Mahrus Aly, Mayor Mahfudh, dan Abdul Rakhim Pratalikrama. Santri muda, Syafii Sulaiman yang kala itu masih berusia 15 tahun, diutus oleh Kiai Mahrus Aly untuk menyusup ke markas Dai Nippon, guna mempelajari keadaan dan memantau kekuatan lawan.
Setelah penyelidikan dirasa cukup, Syafii Sulaiman segera melapor kepada Kiai Mahrus Aly, dan Mayor Mahfudh. Invasi para santri itu berhasil. Atas kebijaksanaan Kiai Mahrus Aly, satu truk senjata hasil lucutan Jepang itu, dibawa ke Pondok Pesantren Lirboyo, dan setelahnya diserahkan kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Bermodalkan senjata rampasan, para santri Lirboyo, di bawah komando Kiai Mahrus Aly, secara bergantian dikirim ke front pertempuran Surabaya. Pengiriman pasukan yang beranggotakan para santri ini, terus berlanjut hingga pecah perang 10 November 1945.
Bukan sekedar mengirimkan pasukan ke medan laga, Kiai Mahrus Aly bersama para santri Lirboyo, juga melakukan gerakan batin yang digelar setiap malam, agar pasukan yang tengah bertempur diberi keteguhan iman, dan apabila gugur diterima sebagai syahid.
Gerakan batin ini digelar di dua tempat, yakni di Pondok Pesantren Lirboyo, dipimpin oleh KH Abdul Karim dan KH Marzugi Dahlan. Lokasi gerakan batin kedua digelar di Manukan, Jabon, Kediri, yang dipimpin oleh KH Mahrus Aly, dan KH Said.
Usai pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya, Kiai Mahrus Aly kembali mengerahkan pasukan yang beranggotakan para santri ke medan laga, untuk menghadapi Agresi Militer II yang dilakukan pasukan belanda, pada 12 Desember 1948.
Empat santri senior Lirboyo dikirim oleh Kiai Mahrus Aly untuk menjadi pasukan di bawah komando Mayor Mahfudh. Keempat santri itu adalah Syafi'i Sulaiman, Muhid Ilyas, Muhammad Masykur, dan Mahfudh AK. Taktik perang gerilya, dan melakukan serangan secara sporadis ke jantung pertahanan musuh yang dijalankan pasukan para santri ini, ternyata berjalan sangat efektif.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, melalui pertempuran berdarah tersebut, berlangsung hingga penyerahan kedaulatan Indonesia, oleh Belanda, melalui perjanjian yang dihasilkan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Deen Hag, pada 27 Desember 1949.
Pasukan perang yang terdiri dari para santri ini, akhirnya dilebur untuk semakin memiliki kekuatan dahsyat. Pasukan dilebur dalam Batalyon 508 yang lebih dikenal dengan Batalyon Gelatik. Batalyon ini merupakan cikal bakal lahirnya Kodam V Brawijaya.
Batalyon Gelatik resmi didirikan pada 17 Desember 1948 di Lapangan Kuwak, yang sekarang Stadion Brawijaya. Bertindak sebagai komandan Batalyon Gelatik, adalah Kolonel Sungkono. Sementara KH Mahrus Aly mendapat kehormatan sebagai penasihat. Hal inilah yang menyebabkan KH Mahrus Aly menjadi sesepuh Kodam V Brawijaya sampai akhir hayatnya.
Santri Lirboyo (H2)
Sebelum berlabuh di Pondok Pesantren Lirboyo, KH Mahrus Aly telah menyinggahi sejumlah pondok pesantren untuk menuntut ilmu. Di bawah bimbingan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH Abdul Karim, Kiai Mahrus Aly muda terkenal menjadi santri yang tidak pernah letih dalam mengaji.
Saat liburan tiba, Kiai Mahrus Aly muda mencari pondok lain untuk mengikuti pengajian kilatan. Pernah juga Kiai Mahrus Aly belajar ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, mengaji kitab Shahih Bukhari kepada KH Hasyim Asy'ari.
Setelah tiga tahun menimba ilmu di Lirboyo, KH Mahrus Aly muda, membuat KH Abdul Karim terkesan, dan akhirnya menjodohkan salah satu putrinya yang bernama Zaenab.
Pernikahan Kiai Mahrus Aly dengan Zaenab, dikaruniai tujuh putra dan putri. Kesetiaannya pada sang istri terus dijaganya hingga akhir hayat. Istrinya wafat terlebih dahulu pada 4 Maret 1985, sedangkan Kiai Mahrus Aly wafat pada 26 Mei 1985.
Kisah keberanian dan kesetian Kiai Mahrus Aly pada tanah airnya, sampai membuat Panglima ABRI, Jenderal LB. Moerdani menaruh rasa hormat yang sangat tinggi pada sang kiai. Bahkan, ketika Kiai Mahrus Aly jatuh sakit, jenderal yang namanya besar di dunia intelijen ini sampai mengirimkan helikopter khusus untuk membawa sang kiai ke RSUD dr Soetomo Surabaya.
Sumber: jatim.nu.or.id, wikipedia, ipnu.or.id, data diolah dari berbagai sumber
(shf)
Lihat Juga :