Koperasi Bangun Tani Makmur: Harapan Baru dari Kampung Cirumput untuk Petani Hortikultura
Kamis, 28 Agustus 2025 - 20:14 WIB
loading...
A
A
A
“Model koperasi seperti ini bisa jadi inspirasi untuk perusahaan-perusahaan yang punya komitmen terhadap pemberdayaan petani. Melalui koperasi, mereka tidak hanya membantu petani secara individu, tetapi juga memperkuat kelembagaan ekonomi desa,” ujar Cooperative Advisor Agriterra Aditya Mirzapahlevi Saptadjaja, Kamis (28/8/2025).
Hal yang sama disampaikan Dadang, Ketua Koperasi Bangun Tani Makmur. Dia mengungkapkan melalui koperasi ini petani mendapatkan banyak manfaat di antaranya dari sisi biaya produksi, koperasi membuat harga sarana produksi pertanian (saprotan) jadi lebih murah karena pembelian dilakukan secara kolektif.
Tak hanya itu, koperasi juga memfasilitasi pinjaman produktif bagi anggota dengan skema pembiayaan yang disesuaikan berdasarkan simpanan wajib. Hal ini sangat membantu petani yang selama ini kesulitan mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan seperti bank, bahkan kerap bergantung pada pinjaman dari organisasi dengan bunga tinggi yang justru membebani usaha mereka.
Dari sisi pendapatan, petani mendapatkan harga jual hasil panen yang lebih baik karena dipasarkan melalui koperasi. Mereka juga berhak atas sisa hasil usaha (SHU) koperasi yang dibagikan setiap tahun. Ini menjadi tambahan penghasilan yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Ke depannya, petani kecil yang sebelumnya dianggap "tidak bankable" akan dapat dipercaya oleh lembaga keuangan berkat rekam jejak koperasi yang sehat dan tata kelola yang transparan.
“Petani hortikultura menghadapi banyak risiko, dari harga pasar yang fluktuatif hingga gagal panen. Melalui koperasi, risiko ini bisa dikelola bersama. Petani jadi tidak sendiri dalam menghadapi tantangan,” ujar Aditya.
Hal yang sama disampaikan Dadang, Ketua Koperasi Bangun Tani Makmur. Dia mengungkapkan melalui koperasi ini petani mendapatkan banyak manfaat di antaranya dari sisi biaya produksi, koperasi membuat harga sarana produksi pertanian (saprotan) jadi lebih murah karena pembelian dilakukan secara kolektif.
Tak hanya itu, koperasi juga memfasilitasi pinjaman produktif bagi anggota dengan skema pembiayaan yang disesuaikan berdasarkan simpanan wajib. Hal ini sangat membantu petani yang selama ini kesulitan mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan seperti bank, bahkan kerap bergantung pada pinjaman dari organisasi dengan bunga tinggi yang justru membebani usaha mereka.
Dari sisi pendapatan, petani mendapatkan harga jual hasil panen yang lebih baik karena dipasarkan melalui koperasi. Mereka juga berhak atas sisa hasil usaha (SHU) koperasi yang dibagikan setiap tahun. Ini menjadi tambahan penghasilan yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Ke depannya, petani kecil yang sebelumnya dianggap "tidak bankable" akan dapat dipercaya oleh lembaga keuangan berkat rekam jejak koperasi yang sehat dan tata kelola yang transparan.
“Petani hortikultura menghadapi banyak risiko, dari harga pasar yang fluktuatif hingga gagal panen. Melalui koperasi, risiko ini bisa dikelola bersama. Petani jadi tidak sendiri dalam menghadapi tantangan,” ujar Aditya.
Lihat Juga :