Riwayat Arya Wiraraja, Penguasa Lamajang yang Pernah Perang Dingin dengan Raja Jayanagara
Minggu, 01 Juni 2025 - 08:06 WIB
loading...
Arya Wiraraja dalam kehidupan Kerajaan Majapahit amat berpengaruh lantaran usianya cukup tua. Arya masih hidup meski sahabatnya yang juga Raja Majapahit Raden Wijaya meninggal dunia kemudian mewariskan takhtanya pada Jayanagara. Foto: Ist
A
A
A
Arya Wiraraja dalam kehidupan Kerajaan Majapahit amat berpengaruh lantaran usianya cukup tua. Arya Wiraraja masih hidup meski sahabatnya yang juga Raja Majapahit Raden Wijaya meninggal dunia kemudian mewariskan takhtanya kepada Jayanagara.
Arya Wiraraja selama ini kerap membantu Raden Wijaya. Namun, usia Arya yang menginjak 77 tahun sebenarnya tidak terlalu ikut percaturan politik di Majapahit karena secara geografis bukan wilayahnya dan juga keadaan fisik yang tidak mendukung dalam berkegiatan politik.
Baca juga: Gejolak Internal Majapahit di Tengah Kestabilan Politik Kerajaan Lamajang
Masa-masa tua sang penguasa Lamajang Tigang Juru itu lebih banyak dihabiskan di lereng Gunung Semeru maupun Gunung Lemongan yang merupakan wilayah pertapaan dan sangat mendukung untuk melakukan olah spiritual.
Kedekatannya dengan pendeta dan pertapa ini dapat dilihat dari latar belakang Arya Wiraraja yang memang seorang Babatangan atau penasihat politik Kerajaan Singasari spesialisasi bidang spiritual. Tak hanya itu, garis keturunan Arya berasal dari keluarga Brahmana.
Terlebih ada insiden perang dingin pusat Kerajaan Majapahit dengan Lamajang yang berlangsung selama 7 tahun mulai tahun 1309 Masehi sejak pengangkatan Raja Jayanagara hingga tahun 1316.
Dikutip dari "Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru : Menafsir Ulang Sejarah Majapahit Timur", ketika Arya Wiraraja sakit keras, Mahapatih Nambi mohon izin untuk pamit pulang ke Lamajang untuk menjenguk ayahnya.
Kepulangan Maha Patih Nambi yang merupakan pendukung utama putri Gayatri dan Tribhuwana Tunggadewi dari trah Wangsa Rajasa ini telah dijadikan bahan politisir oleh kelompok Mahapati yang merupakan pendukung utama Raja Jayanagara. Jayanagara diketahui memiliki hubungan kurang baik dan selalu ingin menjatuhkan Gayatri serta koleganya.
Apalagi kondisi psikologis Raja Jayanagara yang masih berusia 22 tahun sangat rentan emosinya. Menurut Pararaton pada awal keberangkatannya ke Lamajang Tigang Juru, Sri Jayanagara mengizinkan Maha Patih Nambi untuk pulang menengok ayahnya dengan syarat jangan terlalu lama meninggalkan tugas kenegaraan di Majapahit.
Mahapatih Nambi pulang ke Lamajang Tigang Juru dengan beberapa pengawalnya dan menemui ayahnya Arya Wiraraja yang sedang sakit keras. Tidak beberapa lama kemudian Arya Wiraraja meninggal dunia di Lamajang dan dicandikan di kawasan ibu kotanya Arnon.
Mendengar wafatnya Arya Wiraraja yang merupakan tokoh dihormati di Majapahit maupun Lamajang Tigang Juru, Raja Jayanagara kemudian mengirim beberapa pembesar Majapahit untuk melayat bersama-sama ke Lamajang.
Arya Wiraraja selama ini kerap membantu Raden Wijaya. Namun, usia Arya yang menginjak 77 tahun sebenarnya tidak terlalu ikut percaturan politik di Majapahit karena secara geografis bukan wilayahnya dan juga keadaan fisik yang tidak mendukung dalam berkegiatan politik.
Baca juga: Gejolak Internal Majapahit di Tengah Kestabilan Politik Kerajaan Lamajang
Masa-masa tua sang penguasa Lamajang Tigang Juru itu lebih banyak dihabiskan di lereng Gunung Semeru maupun Gunung Lemongan yang merupakan wilayah pertapaan dan sangat mendukung untuk melakukan olah spiritual.
Kedekatannya dengan pendeta dan pertapa ini dapat dilihat dari latar belakang Arya Wiraraja yang memang seorang Babatangan atau penasihat politik Kerajaan Singasari spesialisasi bidang spiritual. Tak hanya itu, garis keturunan Arya berasal dari keluarga Brahmana.
Terlebih ada insiden perang dingin pusat Kerajaan Majapahit dengan Lamajang yang berlangsung selama 7 tahun mulai tahun 1309 Masehi sejak pengangkatan Raja Jayanagara hingga tahun 1316.
Dikutip dari "Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru : Menafsir Ulang Sejarah Majapahit Timur", ketika Arya Wiraraja sakit keras, Mahapatih Nambi mohon izin untuk pamit pulang ke Lamajang untuk menjenguk ayahnya.
Kepulangan Maha Patih Nambi yang merupakan pendukung utama putri Gayatri dan Tribhuwana Tunggadewi dari trah Wangsa Rajasa ini telah dijadikan bahan politisir oleh kelompok Mahapati yang merupakan pendukung utama Raja Jayanagara. Jayanagara diketahui memiliki hubungan kurang baik dan selalu ingin menjatuhkan Gayatri serta koleganya.
Apalagi kondisi psikologis Raja Jayanagara yang masih berusia 22 tahun sangat rentan emosinya. Menurut Pararaton pada awal keberangkatannya ke Lamajang Tigang Juru, Sri Jayanagara mengizinkan Maha Patih Nambi untuk pulang menengok ayahnya dengan syarat jangan terlalu lama meninggalkan tugas kenegaraan di Majapahit.
Mahapatih Nambi pulang ke Lamajang Tigang Juru dengan beberapa pengawalnya dan menemui ayahnya Arya Wiraraja yang sedang sakit keras. Tidak beberapa lama kemudian Arya Wiraraja meninggal dunia di Lamajang dan dicandikan di kawasan ibu kotanya Arnon.
Mendengar wafatnya Arya Wiraraja yang merupakan tokoh dihormati di Majapahit maupun Lamajang Tigang Juru, Raja Jayanagara kemudian mengirim beberapa pembesar Majapahit untuk melayat bersama-sama ke Lamajang.
(jon)
Lihat Juga :