Hotel di Jatim Mulai Kurangi Hari Kerja, Ancaman PHK Makin Nyata
Rabu, 09 April 2025 - 13:32 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan survei yang dilakukan PHRI bersama Horwath HTL mengungkapkan, Sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) mengalami penurunan drastis. Survei ini melibatkan 726 responden dari 717 hotel di 30 provinsi di Indonesia.
Dari hasil survei menunjukkan, 42 persen hotel melaporkan fasilitas ruang pertemuan mereka tidak terpakai dan 18 persen mengalami penurunan permintaan saat hari kerja. Lalu, lebih dari 50 persen responden melaporkan penurunan pendapatan lebih dari 10 persen pada November 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.
Kemudian, pada Januari 2025, lebih dari 30 persen responden mengaku mengalami penurunan pendapatan lebih dari 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dan, 56 persen responden memperkirakan penurunan pendapatan tahunan sebesar 10 hingga 30 persen.
Hasil survei lebih lanjut menunjukkan, 88 persen hotel memprediksi akan melakukan PHK untuk menekan biaya operasional, 58 persen menyatakan berisiko mengalami gagal bayar pinjaman ke bank, 48 persen mengkhawatirkan potensi penutupan hotel akibat defisit operasional.
Masih dari hasil survei tersebut, lebih dari 50 persen responden meyakini situasi ini dapat berlanjut setidaknya selama enam bulan ke depan. Bahkan, lebih lama.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) atau okupansi hotel berbintang bulan Februari 2025 sebesar 47,80 persen. Capaian itu turun 0,03 persen dibandingkan Januari 2025 sebesar 47,83 persen.
Angka TPK ini berarti pada bulan Februari 2025 dari setiap 100 kamar yang disediakan oleh seluruh hotel berbintang di Jatim, setiap malamnya antara 47 hingga 48 kamar telah terjual.
Sedangkan TPK hotel non bintang bulan Februari 2025 sebesar 21,28 persen atau turun 0,68 poin dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 21,96 persen.
Dari hasil survei menunjukkan, 42 persen hotel melaporkan fasilitas ruang pertemuan mereka tidak terpakai dan 18 persen mengalami penurunan permintaan saat hari kerja. Lalu, lebih dari 50 persen responden melaporkan penurunan pendapatan lebih dari 10 persen pada November 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.
Kemudian, pada Januari 2025, lebih dari 30 persen responden mengaku mengalami penurunan pendapatan lebih dari 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dan, 56 persen responden memperkirakan penurunan pendapatan tahunan sebesar 10 hingga 30 persen.
Hasil survei lebih lanjut menunjukkan, 88 persen hotel memprediksi akan melakukan PHK untuk menekan biaya operasional, 58 persen menyatakan berisiko mengalami gagal bayar pinjaman ke bank, 48 persen mengkhawatirkan potensi penutupan hotel akibat defisit operasional.
Masih dari hasil survei tersebut, lebih dari 50 persen responden meyakini situasi ini dapat berlanjut setidaknya selama enam bulan ke depan. Bahkan, lebih lama.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) atau okupansi hotel berbintang bulan Februari 2025 sebesar 47,80 persen. Capaian itu turun 0,03 persen dibandingkan Januari 2025 sebesar 47,83 persen.
Angka TPK ini berarti pada bulan Februari 2025 dari setiap 100 kamar yang disediakan oleh seluruh hotel berbintang di Jatim, setiap malamnya antara 47 hingga 48 kamar telah terjual.
Sedangkan TPK hotel non bintang bulan Februari 2025 sebesar 21,28 persen atau turun 0,68 poin dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 21,96 persen.
(shf)
Lihat Juga :