Ceramah di Masjid Salman ITB, Anies Baswedan Ingatkan Pentingnya Berpikir Kritis demi Indonesia
Sabtu, 08 Maret 2025 - 23:18 WIB
loading...
A
A
A
"Termasuk menjadi gubernur. Mau hijrah (ke Jakarta) tidak jadi ya, di Jakarta bisanya perlu yang Ansor, Muhajirin belum tentu diterima," ujar Anies berseloroh.
Kritis, tandas Anies, berarti inkuisitif, selalu bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu. Sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia, tidak memberikan ruang untuk bertanya dan mempertanyakan. Padahal banyak bertanya paling baik.
"Kritis akan menjadi tameng, apalagi kita hidup di era banyak hoaks. Berpikir kritis benteng dalam menghadapi hoaks. Dalam proses demokrasi, ketika ada narasi, pesan, dari tokoh atau siapa pun, maka cari informasi, memastikan fakta secara akurat," tandasnya.
Soal kebebasan berbicara, bukan berarti pendapat semua orang bobotnya sama. Dia mencontohkan, soal jembatan, antara pendapat insinyur sipil dengan yang bukan, bobotnya lebih besar mana? Tentu Insinyur sipil.
"Kepakaran harus menjadi pegangan buat kita. Integritas harus menjadi bagian yang bersenyawa dari pemimpin di negeri ini. Sehingga ada kepercayaan rakyat," tutur Anies.
Dalam kesempatan itu, Anies menyinggung soal hastag #KaburAjaDulu. Dia menceritakan pertemuannya dengan insinyur asal Indonesia di Qatar yang sebagian besar dari ITB. Mereka bekerja di Qatar.
"Indonesia ini kekurangan orang di panggung internasional. Di PBB, banyak yang berasal dari sejumlah negara. Tapi ketika orang Indonesia berkiprah di luar negeri, justru dikatakan tidak nasionalis, tidak cinta tanah air," ucap Anies.
"Mereka yang pergi itu (ke luar negeri), bukan melarikan diri. Tapi perwakilan kita di sana. Pesawat terbang bisa membawa badan Anda meninggalkan Indonesia. Tapi hati dan pikiran pasti tidak akan pernah meninggalkan Indonesia. Mereka membawa nama Indonesia," tegas Anies.
Anies mengajak kepada para jdmaah yang hadir untuk merawat kebersamaan. Beda pemikiran dan gagasan pasti ada, tapi jangan terbawa kebiasaan memutus hubungan. Dorong diskusi untuk merangkul kebersamaan. Kampus harus terus menghidupkan ruang perdebatan atas perbedaan gagasan.
Kritis, tandas Anies, berarti inkuisitif, selalu bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu. Sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia, tidak memberikan ruang untuk bertanya dan mempertanyakan. Padahal banyak bertanya paling baik.
"Kritis akan menjadi tameng, apalagi kita hidup di era banyak hoaks. Berpikir kritis benteng dalam menghadapi hoaks. Dalam proses demokrasi, ketika ada narasi, pesan, dari tokoh atau siapa pun, maka cari informasi, memastikan fakta secara akurat," tandasnya.
Soal kebebasan berbicara, bukan berarti pendapat semua orang bobotnya sama. Dia mencontohkan, soal jembatan, antara pendapat insinyur sipil dengan yang bukan, bobotnya lebih besar mana? Tentu Insinyur sipil.
"Kepakaran harus menjadi pegangan buat kita. Integritas harus menjadi bagian yang bersenyawa dari pemimpin di negeri ini. Sehingga ada kepercayaan rakyat," tutur Anies.
Dalam kesempatan itu, Anies menyinggung soal hastag #KaburAjaDulu. Dia menceritakan pertemuannya dengan insinyur asal Indonesia di Qatar yang sebagian besar dari ITB. Mereka bekerja di Qatar.
"Indonesia ini kekurangan orang di panggung internasional. Di PBB, banyak yang berasal dari sejumlah negara. Tapi ketika orang Indonesia berkiprah di luar negeri, justru dikatakan tidak nasionalis, tidak cinta tanah air," ucap Anies.
"Mereka yang pergi itu (ke luar negeri), bukan melarikan diri. Tapi perwakilan kita di sana. Pesawat terbang bisa membawa badan Anda meninggalkan Indonesia. Tapi hati dan pikiran pasti tidak akan pernah meninggalkan Indonesia. Mereka membawa nama Indonesia," tegas Anies.
Anies mengajak kepada para jdmaah yang hadir untuk merawat kebersamaan. Beda pemikiran dan gagasan pasti ada, tapi jangan terbawa kebiasaan memutus hubungan. Dorong diskusi untuk merangkul kebersamaan. Kampus harus terus menghidupkan ruang perdebatan atas perbedaan gagasan.
(shf)
Lihat Juga :