Profil Fahrul Nurkolis, Peneliti Muda UIN Sunan Kalijaga Patenkan Senyawa Antikanker dan Antidiabetes
Senin, 03 Maret 2025 - 22:17 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai peneliti di bidang farmasi berbasis bahan alam, Fahrul melihat potensi besar dari keanekaragaman hayati Indonesia. Dengan ribuan spesies tumbuhan yang mengandung senyawa bioaktif, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan obat alami dunia.
Baca juga: Ilmuwan Indonesia dari 7 PTN Ternama yang Masuk Daftar Terbaik Dunia Versi Stanford
"Banyak tanaman Indonesia yang memiliki potensi sebagai bahan baku obat. Tantangannya adalah bagaimana riset ini bisa berlanjut hingga tahap produksi dan komersialisasi, sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat," jelasnya.
Sayangnya, tanpa hilirisasi yang baik, Indonesia masih menjadi eksportir bahan mentah, sementara negara lain yang mengolahnya menjadi produk farmasi bernilai tinggi. Fahrul pun bertekad untuk mengubah paradigma ini melalui riset dan inovasi.
Meski Indonesia kaya akan sumber daya alam, hilirisasi riset farmasi berbasis bahan alam masih menghadapi berbagai kendala, antara lain minimnya investasi industri farmasi dalam riset dan pengembangan (R&D). Regulasi perizinan yang kompleks untuk sertifikasi produk berbasis bahan alam.
"Terbatasnya pendanaan untuk uji klinis dan pengembangan produk farmasi. Kurangnya kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah. Banyak penelitian hebat yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia, tetapi hanya sedikit yang benar-benar bisa masuk ke industri dan digunakan oleh masyarakat," kata Fahrul.
Dia menegaskan bahwa solusi utama untuk mengatasi hambatan ini adalah memperkuat sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah.
Baca juga: Ilmuwan Indonesia dari 7 PTN Ternama yang Masuk Daftar Terbaik Dunia Versi Stanford
"Banyak tanaman Indonesia yang memiliki potensi sebagai bahan baku obat. Tantangannya adalah bagaimana riset ini bisa berlanjut hingga tahap produksi dan komersialisasi, sehingga manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat," jelasnya.
Sayangnya, tanpa hilirisasi yang baik, Indonesia masih menjadi eksportir bahan mentah, sementara negara lain yang mengolahnya menjadi produk farmasi bernilai tinggi. Fahrul pun bertekad untuk mengubah paradigma ini melalui riset dan inovasi.
Meski Indonesia kaya akan sumber daya alam, hilirisasi riset farmasi berbasis bahan alam masih menghadapi berbagai kendala, antara lain minimnya investasi industri farmasi dalam riset dan pengembangan (R&D). Regulasi perizinan yang kompleks untuk sertifikasi produk berbasis bahan alam.
"Terbatasnya pendanaan untuk uji klinis dan pengembangan produk farmasi. Kurangnya kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah. Banyak penelitian hebat yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia, tetapi hanya sedikit yang benar-benar bisa masuk ke industri dan digunakan oleh masyarakat," kata Fahrul.
Dia menegaskan bahwa solusi utama untuk mengatasi hambatan ini adalah memperkuat sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah.
Lihat Juga :