7 Fakta Menarik Touring Ratusan Kades Bogor ke Baduy Menggunakan Motor Dinas
loading...

Ratusan Kades yang tergabung dalam Komunitas Kades Gaul (KOKAGA) melakukan touring ke Kampung Adat Baduy di Provinsi Banten pada Sabtu, 22 Februari 2025. Foto/Ist
A
A
A
BOGOR - Kejadian menarik baru-baru menyita perhatian publik, khususnya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ratusan Kepala Desa (Kades) yang tergabung dalam Komunitas Kades Gaul (KOKAGA) melakukan touring ke Kampung Adat Baduy di Provinsi Banten pada Sabtu, 22 Februari 2025.
Namun, yang menjadi sorotan adalah fakta bahwa mereka menggunakan sepeda motor dinas baru yang seharusnya diperuntukkan untuk kepentingan operasional desa.
Sekitar 150 Kepala Desa dari seluruh Kabupaten Bogor berangkat menuju Kampung Adat Baduy. Acara ini diinisiasi oleh Ketua DPC APDESI Kabupaten Bogor, Abdul Azis Anwar, yang juga menjabat sebagai Ketua KOKAGA.
Selain itu, turut hadir jajaran DPK APDESI dan Kepala Desa dari 39 kecamatan di wilayah Kabupaten Bogor. Jani Nurjaman, salah satu Kades yang ikut dalam kegiatan ini, menyebutkan bahwa tujuan dari touring ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi antar Kades di Kabupaten Bogor.
Keunikan dari kegiatan ini adalah penggunaan sepeda motor dinas yang baru saja diterima oleh para Kades. Motor-motor ini seharusnya digunakan untuk kepentingan operasional desa, seperti membantu pelayanan masyarakat, memantau kegiatan pembangunan infrastruktur desa, dan tugas lainnya yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
Namun, motor-motor ini malah digunakan untuk kegiatan pribadi dalam bentuk touring ke Baduy, yang menimbulkan perdebatan di masyarakat.
Menurut keterangan dari Jani Nurjaman, kegiatan touring ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan rutin yang diinisiasi oleh Komunitas Kades Gaul (KOKAGA). Salah satu alasan mengapa Baduy dipilih sebagai tujuan adalah untuk mempelajari dan meniru mekanisme ketahanan pangan serta sistem berkebun yang diterapkan di sana.
Hal ini diharapkan dapat diterapkan di desa masing-masing guna meningkatkan ketahanan pangan di tingkat lokal.
Meskipun kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antar Kades dan belajar tentang ketahanan pangan, banyak pihak yang merasa kecewa dengan penggunaan sepeda motor dinas dalam kegiatan touring tersebut.
Atiek Yulistio, perwakilan dari LPM Masyarakat Pejuang Bogor (MPB), mengkritik keras kegiatan ini. Atiek menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh para Kades mencerminkan ketidakpedulian terhadap kondisi riil yang tengah dihadapi oleh masyarakat, yang saat ini sedang kesulitan di banyak aspek kehidupan.
Atiek Yulistio juga menegaskan bahwa Presiden telah memberikan himbauan kepada seluruh aparatur pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk melakukan efisiensi dalam pengelolaan anggaran. Himbauan tersebut mencakup pengurangan kegiatan yang tidak terlalu penting, seperti seminar, study banding, dan jalan-jalan.
Namun, menurutnya, himbauan ini tampaknya diabaikan oleh para Kades di Kabupaten Bogor yang justru menggelar touring menggunakan motor operasional desa.
Atiek menambahkan bahwa sepeda motor yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor seharusnya digunakan untuk kepentingan yang lebih prioritas.
Motor ini dimaksudkan untuk operasional desa, seperti melayani masyarakat di pelosok, memantau perkembangan infrastruktur, atau memeriksa lampu Penerangan Jalan Umum (PJU). Sepeda motor tersebut harus digunakan untuk kegiatan yang lebih berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kegiatan pribadi yang dianggap tidak penting.
Sebagai reaksi atas kejadian ini, Atiek Yulistio berharap agar Bupati Bogor segera mengeluarkan surat edaran yang melarang para Kepala Desa melakukan kegiatan yang dianggap menghamburkan uang rakyat.
Namun, yang menjadi sorotan adalah fakta bahwa mereka menggunakan sepeda motor dinas baru yang seharusnya diperuntukkan untuk kepentingan operasional desa.
Berikut 7 Fakta Penting yang Perlu Diketahui Mengenai Peristiwa Ini
1. Ratusan Kades Bogor Touring ke Baduy
Sekitar 150 Kepala Desa dari seluruh Kabupaten Bogor berangkat menuju Kampung Adat Baduy. Acara ini diinisiasi oleh Ketua DPC APDESI Kabupaten Bogor, Abdul Azis Anwar, yang juga menjabat sebagai Ketua KOKAGA.
Selain itu, turut hadir jajaran DPK APDESI dan Kepala Desa dari 39 kecamatan di wilayah Kabupaten Bogor. Jani Nurjaman, salah satu Kades yang ikut dalam kegiatan ini, menyebutkan bahwa tujuan dari touring ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi antar Kades di Kabupaten Bogor.
2. Motor Dinas Digunakan untuk Touring
Keunikan dari kegiatan ini adalah penggunaan sepeda motor dinas yang baru saja diterima oleh para Kades. Motor-motor ini seharusnya digunakan untuk kepentingan operasional desa, seperti membantu pelayanan masyarakat, memantau kegiatan pembangunan infrastruktur desa, dan tugas lainnya yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
Namun, motor-motor ini malah digunakan untuk kegiatan pribadi dalam bentuk touring ke Baduy, yang menimbulkan perdebatan di masyarakat.
3. Kegiatan Rutin KOKAGA yang Dimaksudkan Sebagai Studi Tiru
Menurut keterangan dari Jani Nurjaman, kegiatan touring ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan rutin yang diinisiasi oleh Komunitas Kades Gaul (KOKAGA). Salah satu alasan mengapa Baduy dipilih sebagai tujuan adalah untuk mempelajari dan meniru mekanisme ketahanan pangan serta sistem berkebun yang diterapkan di sana.
Hal ini diharapkan dapat diterapkan di desa masing-masing guna meningkatkan ketahanan pangan di tingkat lokal.
4. Protes Terhadap Penggunaan Motor Dinas untuk Touring
Meskipun kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antar Kades dan belajar tentang ketahanan pangan, banyak pihak yang merasa kecewa dengan penggunaan sepeda motor dinas dalam kegiatan touring tersebut.
Atiek Yulistio, perwakilan dari LPM Masyarakat Pejuang Bogor (MPB), mengkritik keras kegiatan ini. Atiek menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh para Kades mencerminkan ketidakpedulian terhadap kondisi riil yang tengah dihadapi oleh masyarakat, yang saat ini sedang kesulitan di banyak aspek kehidupan.
5. Kritikan Mengenai Efisiensi Anggaran Pemerintah
Atiek Yulistio juga menegaskan bahwa Presiden telah memberikan himbauan kepada seluruh aparatur pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk melakukan efisiensi dalam pengelolaan anggaran. Himbauan tersebut mencakup pengurangan kegiatan yang tidak terlalu penting, seperti seminar, study banding, dan jalan-jalan.
Namun, menurutnya, himbauan ini tampaknya diabaikan oleh para Kades di Kabupaten Bogor yang justru menggelar touring menggunakan motor operasional desa.
6. Fungsi Sepeda Motor Dinas yang Seharusnya Lebih Prioritas
Atiek menambahkan bahwa sepeda motor yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor seharusnya digunakan untuk kepentingan yang lebih prioritas.
Motor ini dimaksudkan untuk operasional desa, seperti melayani masyarakat di pelosok, memantau perkembangan infrastruktur, atau memeriksa lampu Penerangan Jalan Umum (PJU). Sepeda motor tersebut harus digunakan untuk kegiatan yang lebih berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kegiatan pribadi yang dianggap tidak penting.
7. Teguran yang Diharapkan oleh Masyarakat
Sebagai reaksi atas kejadian ini, Atiek Yulistio berharap agar Bupati Bogor segera mengeluarkan surat edaran yang melarang para Kepala Desa melakukan kegiatan yang dianggap menghamburkan uang rakyat.