Kisah Kegagalan SBY Bertempur di Timor Timur, Alasannya Kulitnya Terlalu Bersih
Minggu, 23 Februari 2025 - 10:20 WIB
loading...
A
A
A
Di susul peleton Lettu Zainuddin sekitar pukul 05.30 terjadi kontak tembak antara Kompi A dengan satuan lawan. Kontak tembak itu hanya berlangsung sekitar setengah jam,” kenang SBY.
SBY juga menceritakan peristiwa yang tidak terlupakan saat bertempur di Timor Timur. Saat itu, dirinya menyaksikan seorang anak yang kehilangan ibunya akibat terkena peluru nyasar. ”Nah ketika kami harus melanjutkan gerakan ke depan, saya menjumpai seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun sedang menangis memeluk ibunya yang tertembak karena peluru nyasar.
Meski bocah itu tidak mengerti apa arti perang apalagi politik tapi kesedihan begitu memuncak. Ketika beberapa menit yang lalu dia masih bercanda dan berada dalam pelukan yang amat disayanginya tiba-tiba ia harus menerima musibah yang amat berat tersebut. Peristiwa yang akan mengubah masa depan dan kehidupan anak itu selamanya,” tulisnya.
"Itulah sisi lain peperangan. Kalau militer memang disumpah di latih dan dituasi untuk mengemban tugas negara.mereka tahu dan siap untuk mengorbankan jiwa dan raganya tetapi tentu bukan penduduk sipil yang sering disebut dengan non combatan bahkan sering disebut pula sebagai the innocent people," tutur SBY. Kemampuan SBY dalam memimpin pasukan diakui mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto.
Melalui buku biografinya “Endriartono Sutarto: Prajurit Profesional yang Humanis” diceritakan bagaimana kedua pasukan pernah bersama-sama berperang di palagan Timor Timur.
”Kami pernah melaksanakan kegiatan patroli terkoordinasi dengan pasukan yang dipimpin Lettu Infanteri Susilo Bambang Yudhoyono dengan rute saling menutup. Beberapa kali kotak tembak terjadi peleton SBY dan pasukannya dengan musuh tapi perlawanan musuh tidak pernah lama. Musuh langsung mundur dan menghilang,” kenang Endriartono Sutarto.
SBY juga menceritakan peristiwa yang tidak terlupakan saat bertempur di Timor Timur. Saat itu, dirinya menyaksikan seorang anak yang kehilangan ibunya akibat terkena peluru nyasar. ”Nah ketika kami harus melanjutkan gerakan ke depan, saya menjumpai seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun sedang menangis memeluk ibunya yang tertembak karena peluru nyasar.
Meski bocah itu tidak mengerti apa arti perang apalagi politik tapi kesedihan begitu memuncak. Ketika beberapa menit yang lalu dia masih bercanda dan berada dalam pelukan yang amat disayanginya tiba-tiba ia harus menerima musibah yang amat berat tersebut. Peristiwa yang akan mengubah masa depan dan kehidupan anak itu selamanya,” tulisnya.
"Itulah sisi lain peperangan. Kalau militer memang disumpah di latih dan dituasi untuk mengemban tugas negara.mereka tahu dan siap untuk mengorbankan jiwa dan raganya tetapi tentu bukan penduduk sipil yang sering disebut dengan non combatan bahkan sering disebut pula sebagai the innocent people," tutur SBY. Kemampuan SBY dalam memimpin pasukan diakui mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto.
Melalui buku biografinya “Endriartono Sutarto: Prajurit Profesional yang Humanis” diceritakan bagaimana kedua pasukan pernah bersama-sama berperang di palagan Timor Timur.
”Kami pernah melaksanakan kegiatan patroli terkoordinasi dengan pasukan yang dipimpin Lettu Infanteri Susilo Bambang Yudhoyono dengan rute saling menutup. Beberapa kali kotak tembak terjadi peleton SBY dan pasukannya dengan musuh tapi perlawanan musuh tidak pernah lama. Musuh langsung mundur dan menghilang,” kenang Endriartono Sutarto.
(cip)
Lihat Juga :