Sosok Sultanah Safiatuddin, Perempuan Cerdas Ratu Aceh yang Menguasai Empat Bahasa
Senin, 20 Januari 2025 - 08:58 WIB
loading...
A
A
A
Selama memerintah selama 35 tahun, Sultanah Safiatuddin membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut bertempur di dalam Perang Malaka pada tahun 1639. Sultanah Safiatuddin juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah.
Dia juga dikenal sebagai sosok yang pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, sosok Sultanah Safiatuddin juga menguasai empat bahasa lain yakni Bahasa Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu.
Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat, sehingga di masa itu lahirlah karya-karya besar. Sultanah Safiatuddin juga berhasil menampik usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. Bahkan VOC tak berhasil memperoleh komoditi atas perdagangan timah dan komoditi lainnya.
Tak hanya itu, ia juga membuat peraturan untuk meningkatkan kedudukan kaum perempuan, sehingga tercipta keseteraan gender dan perlindungan kepada perempuan begitu tinggi. Salah satu aturan yang dibuat adalah Cap Sikureung, atau cap sembilan yaitu stempel sah Kesultanan Aceh Darussalam.
Perempuan pertama penguasa Kesultanan Aceh Darussalam ini wafat pada 23 Oktober 1675. Sebagai pengganti raja yang bukan laki-laki, Sultanah Safiatuddin mendapat gelar Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam.
Dia juga dikenal sebagai sosok yang pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, sosok Sultanah Safiatuddin juga menguasai empat bahasa lain yakni Bahasa Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu.
Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat, sehingga di masa itu lahirlah karya-karya besar. Sultanah Safiatuddin juga berhasil menampik usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. Bahkan VOC tak berhasil memperoleh komoditi atas perdagangan timah dan komoditi lainnya.
Tak hanya itu, ia juga membuat peraturan untuk meningkatkan kedudukan kaum perempuan, sehingga tercipta keseteraan gender dan perlindungan kepada perempuan begitu tinggi. Salah satu aturan yang dibuat adalah Cap Sikureung, atau cap sembilan yaitu stempel sah Kesultanan Aceh Darussalam.
Perempuan pertama penguasa Kesultanan Aceh Darussalam ini wafat pada 23 Oktober 1675. Sebagai pengganti raja yang bukan laki-laki, Sultanah Safiatuddin mendapat gelar Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam.
(abd)
Lihat Juga :