Serangan Masif Pangeran Diponegoro Renggut Banyak Korban Jiwa Kalangan Bangsawan
Sabtu, 21 Desember 2024 - 07:08 WIB
loading...
A
A
A
Pertempuran baru juga tercipta di Rembang dan Jipang - Rajekwesi (saat itu daerah Bojonegoro) pada akhir 1827, saudara ipar Pangeran Diponegoro, Sosrodilogo ikut dalam perang. Selama beberapa minggu, peperangan menegangkan terjadi awal Desember 1827 hingga pertengahan Januari 1828.
Imbas peperangan itu, jalur komunikasi pemerintah Belanda antara Semarang dan Surabaya terputus. De Kock, sang jenderal terpaksa menunda rencana keberangkatannya ke Belanda dan menyerahkan kepemimpinan komando tentara ke tangan Van Geen.
Hal ini menunjukkan keputusan tepat mengingat watak Van Geen yang tidak kenal kasihan dengan melakukan taktik bumi hangus dan menghukum tawanan melalui cara siksaan yang begitu dikenal luas yakni dipendam sebatas leher agar dimakan rayap dan semut.
Sebelum peperangan pecah di Rembang, militer Belanda dan pejabat-pejabat sipilnya sudah mulai memikirkan bagaimana mengakhiri perang. Kondisi keuangan begitu sulit, ekonomi di Jawa tengah bagian selatan macet, tidak berputar, dan pemerintah kolonial terancam bangkrut.
Bahkan, raja yang dianggap loyal seperti Sunan Pakubuwana VI tidak dapat diandalkan. Kemungkinan sang Sunan Pakubuwana VI yang angin-anginan itu bersumpah setia kepada Belanda. Di sisi lain, dia bersiap-siap memihak Pangeran Diponegoro bila nanti menang.
Imbas peperangan itu, jalur komunikasi pemerintah Belanda antara Semarang dan Surabaya terputus. De Kock, sang jenderal terpaksa menunda rencana keberangkatannya ke Belanda dan menyerahkan kepemimpinan komando tentara ke tangan Van Geen.
Hal ini menunjukkan keputusan tepat mengingat watak Van Geen yang tidak kenal kasihan dengan melakukan taktik bumi hangus dan menghukum tawanan melalui cara siksaan yang begitu dikenal luas yakni dipendam sebatas leher agar dimakan rayap dan semut.
Sebelum peperangan pecah di Rembang, militer Belanda dan pejabat-pejabat sipilnya sudah mulai memikirkan bagaimana mengakhiri perang. Kondisi keuangan begitu sulit, ekonomi di Jawa tengah bagian selatan macet, tidak berputar, dan pemerintah kolonial terancam bangkrut.
Bahkan, raja yang dianggap loyal seperti Sunan Pakubuwana VI tidak dapat diandalkan. Kemungkinan sang Sunan Pakubuwana VI yang angin-anginan itu bersumpah setia kepada Belanda. Di sisi lain, dia bersiap-siap memihak Pangeran Diponegoro bila nanti menang.
(jon)
Lihat Juga :