Serangan Masif Pangeran Diponegoro Renggut Banyak Korban Jiwa Kalangan Bangsawan
Sabtu, 21 Desember 2024 - 07:08 WIB
loading...
Pangeran Diponegoro dan prajuritnya melakukan penyerangan besar-besaran ke beberapa daerah di Kulon Progo. Serangan Pangeran Diponegoro ini menjadi serangan besar kedua di Dekso, Kulon Progo. Foto: Dok SINDOnews
A
A
A
PANGERANDiponegoro dan prajuritnya melakukan penyerangan besar-besaran ke beberapa daerah di Kulon Progo. Serangan Pangeran Diponegoro ini menjadi serangan besar kedua di Dekso, Kulon Progo.
Serangan gemilang tersebut demi merebut kemenangan beruntun di beberapa daerah yang tersebar di Kulon Progo.
Baca juga: Kisah Kedekatan Pangeran Diponegoro dengan Kiai dan Santri
Serangan Pangeran Diponegoro ke tangsi-tangsi pertahanan Belanda juga membuat banyak elite bangsawan Yogyakarta menemui ajalnya. Pasukan Diponegoro di bawah komando Sentot berhasil meraih kemenangan beruntun di Kasuran, Lengkong. Akibatnya, banyak elite bangsawan tewas akibat serangan di Bantul, Kejiwan, dan Delangu.
Semua kemenangan ini membawa mereka dari Kali Progo sampai pinggiran barat Surakarta. Para perwira Belanda menyebut tentara Diponegoro yang berhasil merebut garis pertahanan Belanda layaknya mengamuk dengan kepala tertunduk sambil menyuarakan pekikan yang mengiris hati sebagaimana dikisahkan pada buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (1785 - 1855) tulisan Peter Carey.
Dengan rasa putus asa, Belanda mulai mengosongkan garinisun-garnisun mereka di luar Jawa sambil mengerahkan serdadu yang baru didatangkan dari Eropa.
Kedudukan Belanda tampaknya tidak memberikan harapan, tetapi hanya karena terbantu oleh perdebatan panjang soal taktik antara Kiai Mojo dan Pangeran Diponegoro. Kondisi ini memungkinkan Belanda dapat mengkonsentrasikan pasukan dalam jumlah cukup besar untuk merebut kemenangan atas pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok pada 15 Oktober 1826.
Serangan gemilang tersebut demi merebut kemenangan beruntun di beberapa daerah yang tersebar di Kulon Progo.
Baca juga: Kisah Kedekatan Pangeran Diponegoro dengan Kiai dan Santri
Serangan Pangeran Diponegoro ke tangsi-tangsi pertahanan Belanda juga membuat banyak elite bangsawan Yogyakarta menemui ajalnya. Pasukan Diponegoro di bawah komando Sentot berhasil meraih kemenangan beruntun di Kasuran, Lengkong. Akibatnya, banyak elite bangsawan tewas akibat serangan di Bantul, Kejiwan, dan Delangu.
Semua kemenangan ini membawa mereka dari Kali Progo sampai pinggiran barat Surakarta. Para perwira Belanda menyebut tentara Diponegoro yang berhasil merebut garis pertahanan Belanda layaknya mengamuk dengan kepala tertunduk sambil menyuarakan pekikan yang mengiris hati sebagaimana dikisahkan pada buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (1785 - 1855) tulisan Peter Carey.
Dengan rasa putus asa, Belanda mulai mengosongkan garinisun-garnisun mereka di luar Jawa sambil mengerahkan serdadu yang baru didatangkan dari Eropa.
Kedudukan Belanda tampaknya tidak memberikan harapan, tetapi hanya karena terbantu oleh perdebatan panjang soal taktik antara Kiai Mojo dan Pangeran Diponegoro. Kondisi ini memungkinkan Belanda dapat mengkonsentrasikan pasukan dalam jumlah cukup besar untuk merebut kemenangan atas pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok pada 15 Oktober 1826.
Lihat Juga :